Cerpen Online, “Adzan Penghabisan Senja” Versi Santri Zaman Now

oleh -
cerpen-online-adzan-penghabisan-senja
Picture: Illustration cerpen online, "Adzan Penghabisan Senja Versi Santri Zaman Now

Malam hampir sepenuhnya gelap

Seorang lekaki tinggi besar tidak bisa memejamkan mata. Gelisah dia di atas pembaringan. Seharian dia telah bekerja. Biasanya lelah mudah membimbingnya menuju lelap.

Tapi tidak malam ini. Dadanya seperti diramaikan suara. Entah berasal dari mana. Kepalanya diteror ribuan bisikan yang carut marut. Tidak ada ujung dan tanpa punya pangkal. Dia serba salah. Sudah dipejamkan mata, tetap saja tidak kunjung datang tidur.

Dimatikan lentera supaya hilang cahaya. Dalam gelap dia berharap mendapat kantuk, dan jatuh dalam pelukan mimpi. “Hai Bilal, kenapa engaku tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”, tercekat seperti disandera dahaga, pria itu buka mata. Dadanya naik turun.

Peluh membasahi tubuh

Astagfirullah..

Astagfirullah..

Pria besar itu menyeka peluh dari muka. Mimpi yang tidak biasa. Dia hitung hari. Hampir seribu kali perputaran siang dan malam berlalu. Dia sudah lama meninggalkan kota yang dicinta.

Kota tempat dia bercengkerama dengan sahabat-sahabat penuh kasih. Yang mengajarkannya tentang ikatan persaudaraan yang dilandasi keimanan. Bahwa siapa saja yang beriman sama di hadapan Tuhan.

Hanya takwa saja yang membedakan. Maka semua yang beriman pun berlomba menjadi yang bertakwa. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Selalu menjaga gairah untuk berbuat kebaikan dan senantaisa istiqomah menentang kefasikan.

Dia telah lama meninggalkan mereka. Orang-orang yang tidak peduli pada masa lalunya. Padahal kebanyakan dari mereka memiliki derajat yang lebih tinggi. Mereka orang terpandang. Keturunan bangsawan. Pengusaha kaya raya. Dia hanya seorang budak.

Kasta terendah manusia. Saking rendahnya, kuda dan unta berhak menghinakannya. Tidak terhitung budak yang diikat tali, dipermainkan kuda. Diseret sampai lecet. Tidak terhitung budak yang dipermainkan unta. Dijatuhkan hanya untuk mencicipi baunya kotoran.

Masa lalu yang terhina dan dihinakan

Mereka menghormatinya. Membuat dia merasa diterima sebagai manusia. Bahkan mereka memujanya. Menunggu setiap lima waktu suaranya berkumandang. Menyebut namanya dengan lembut. Menyalaminya dengan ramah. Dan memeluk tubuhnya yang legam dengan penuh kehangatan.

Manusia-manusia terbaik yang pernah dia kenal. Dia rindu suasana itu. Tapi dia tidak mampu untuk kembali ke sana. Terlebih harus mengumandangkan suaranya di atas menara. Dia tidak sanggup. Tapi mimpi itu datang. Memberi teguran. Haruskah kembali.

No More Posts Available.

No more pages to load.