Contoh Cerpen Singkat Bermakna ala Santri Milenial

oleh -
Contoh-cerpen-singkat-bermakna ala-santri-milenial
Gambar: ilustrasi ngaji Quran sorogan
Sendi dan Atiqah berulah lagi

Hari Rabu berikutnya Ustadz Martono sudah bersiap-siap masuk ke kelas 6 untuk mengajar pelajaran Sharrof. Para murid-murid sudah duduk rapi di bangku mereka masing-masing.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”, laki-laki yang masih jomblo itu membuka majlis ilmu dengan salam. Yang kemudian dijawab oleh para santri-santri dengan penuh semangat..

Sesudah itu, seperti sebelumnya, lelaki yang datang dari negeri sebelah itu memimpin yel-yel penyemangat siswa khas dia..

“Saya absen dulu ya!”, Ustadz Martono mulai mengabsen nama-nama siswa kelas 6 satu persatu.

“Yuliati Wahyuni”, kata Ustadz Martono nyebut nama salah satu siswa kelas 6 itu

“Hadirah”, Yuliati menyahut.

“Sumiyati Dewi”, katanya Pak Ustadz lagi

“Hadirah ya ustadz”, siswa tersebut menjawab.

“Rafiatun Niswah”, sebutnya lagi.

“Hadirah”, santri tersebut menjawab suara panggilan absen.

“Sendi Aulia Trilili”, giliran Sendi dapat sebutan Pak Ustadz.

“Izin sakit gigi katanya tadz”, sahut salah satu murid yang duduknya di pojok kiri belakang.

Tak lama dari itu, Sumiati nyeletuk, “lho barusan sebelum saya mau ke sini, di kamar Sendi cekikian kok guyon (bercanda) dengan Silfia (teman karib Sendi)”.

“Sendi ini benar-benar sakit gigi apa gimana seh”, Pak Ustadz mulai agak ragu dengan alasan izinnya si Sendi.

“Sumiati…, Sendi ini kamu tahunya sakit apa gak?”, tanya Ustadz Martono kepada perempuan yang sedikit polos itu.

“Sepetinya ndak tadz, soanya tadi sebelum Yuli mau ke sini, dia masih bercerita dengan teman sekamarnya”, jawab Yuliati tampak jujur.

“Ok saya lanjut absennya dulu, Atiqah! Ada?”, panggil sang ustadz.

Semua santri terdiam karena tidak tahu Atiqah yang suka izin ke kamar mandi itu dimana. Satu sama lain saling pandang.

“Tidak ada ustadz, mulai tadi tidak kelihatan”, kata salah satu murid yang sukanya ngemut permen karet itu.

Baca juga:

Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan

“Atiqah kemana Yuliati?”, tanya ustadz kepada Yuliati.

“Endak tahu ustadz, saya juga tidak ketemu mulai tadi”, jawab perempuan yang berkerudung merah itu.

Sang ustadz mulai mikir soal dua anak itu karena selalu bikin acara sendiri. Terkadang mereka berdua tidak ngerjakan tugas, kadang bolos hingga pura-pura sakit.

Sesudah itu pelajaran bejalan dengan lancar tanpa kehadiran Sendi dan Atiqah. Pak ustadz bikin game seru supaya suasana menjadi menyenangkan di kelasnya.

Hingga jam pelajaran berakhir tak lama bel pergantian mata pelajaran pun berbunyi. “Kiranya pertemuan kali ini sampai di sini dulu, akhiran Tsummassalamualaikum warahmatullahi wabarokatauh”, tutup Ustadz Martono.

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh”, jawab para murid dengan serempak.

No More Posts Available.

No more pages to load.