Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren IV

oleh -
cerita-cinta-sedih-anak-pesantren-IV
Neysa Pun Mengucapkan Dua Kalimat Sakral Itu

Ucapan Neysa barusan berhasil membuat umi Syifa meneteskan air matanya haru.

“Yaudah, ayo sekarang ke ruangan romo yai Zulkifli”, ajak neng Sanah untuk memudahkan Neysa menjadi mualallaf yang lebih taat dan bertaqwa dengan ajaran kyai Zulkifli.

Sosok lelaki paruh baya kini ditemani seorang istri dan juga sanga anak untuk membantu Neysa mengucapkan Syahadat. Seusai melakukan semua ajaran-ajaran yang diterangkan romo yai.

Hati Neysa benar-benar tenang bahkan namanya kini diganti menjadi Azalia Humairah. Hal baru dalam kehidupan Aza benar-benar menciptakan suasana hangat dan mendamaikan.

Ia juga mulai mengenakan hijab Syar’i dengan busananya yang menutupi seluruh auratnya. Aza juga sering pergi ke masjid as-syafi’i untuk shalat berjamaah dan belajar mengaji.

Perempuan itu sibuk dengan semua hal yang berbau islam sampai ia tak menghiraukan perutnya yang belum terisi sejak 3 jam yang lalu.

Semua pekerjaan yang bibi Izza lakukan kini juga banyak dilakukan olehnya. Meski sibuk, ingatan tentang wajah Ahkam masih jelas tercetak di pikirannya. Padahal sudah 4 hari ini ia tidak bertemu dengan lelaki itu.

“Aza…. dipanggil umi Syifa”, ucap bibi Izza pada Aza yang saat ini menyapu halaman.

“Saya bu?”, tanya Aza lagi sembari meletakkan sapunya di samping pohon mangga.

“Iya Aza…”

“Makasih bu… Assalamualaikum”, seusai mengatakan itu, Aza bergegas menemui umi Syifa di ruang tamu ndalem.

“Assalamualaikum….”, ucap Aza saat masuk ke ruang tamu ndalem.

“Waalaikum salam, sini Za…”, balas umi Syifa sembari menepuk sofa di sampingnya. Aza pun dengan senang hati menurutinya.

“Ada apa umi?”, tanya Aza saat tau raut wajah umi Syifa sedikit cemas.

No More Posts Available.

No more pages to load.