Cerpen Pengorbanan Soerang Kakak Terhadap Adinknya III

oleh -
pengorbanan seorang kakak terhadap adiknya
Semua berubah setelah Harris gebrak meja

Tawa kecil menyelimuti waktu istirahat Syaqilla dan Zeira. Keduanya duduk saling berhadapan dan tampak menikmati candaan mereka.

Dan sesekali keduanya makan-makanan ringan yang ada di meja kantin – tempat keduanya duduk.

“Sumpah, asal kamu tau qill… aku udah gak minat lagi yang namanya jadi tante dari ponakanku”, keluh Zeira bercebik sebal.

“Lha, kenapa?”

“Karena setiap dia ke rumahku, aku selalu kalau lagi pup – ah, udahlah aku sebel banget kemarin waktu liburan semester… aku jadi gak bisa relaxs karena ponaanku…”, cebik Zeira.

“Hahaha… tapi kayaknya kamu cocok deh jadi baby sister”, tawa Syaqilla pecah saat sahabatnya itu makin geram dan terlihat sekali wajahnya merah padam.

“Dasar badut! sukanya tawain kesengsaraan kawan!”, gemes Zeira sembari menarik hidung Syaqilla.

“Awh! Ish. Sakit tau! Dasar tupai!”, ringis Syaqilla sembari mengusap hidungnya yang memerah.

“Salahnya sih ka – “.

Brakk!

Ucapan Zeira terpotong oleh sosok laki-laki yang tiba-tiba menggebrak meja keduanya. Sementara Harris terus menatap lekat ke arah Zeira membuat perempuan itu tertunduk malu.

“Lo, bisa pergi ke kelas duluan…”, ucap Harris menunjuk ke arah Zeira.

“Tapi – “.

“Gak ada penolakan!”, tegas Harris membuat Zeira cekat beranjak dari duduknya, juga diikuti Syaqilla yang hendak mengikuti langkah Zeira.

“Lo duduk!”, perintah Harris menunjuk Syaqilla yang saat ini memberengut kesal.

“Kamu apa-apaansih?, ngusir-ngusir seenaknya, kasian tuh sahabatku”, ketus Syaqilla.

“Gak peduli, yang penting lo di sini”

“Males banget… mending aku ke kelas aja”, ucapk Syaqilla yang hendak melangkahkan kakinya kembali.

“Lo sekali lagi gerak, gue bakal bikin hidup sahabat lo sengsara!”, ancaman Harris sukses membuat Syaqilla mematung di tempat. Perempuan itu menghela nafasnya, dan duduk kembali ke tempatnya.

“Hah, gitu donk”, ucap Harris bangga

“Mau kamu apa sih?”

“Okey, gue gak bakal basa-basi…”

Syaqilla mau dengan tawaran Harris

Harris menghela nafasnya sejenak sebelum mata coklatnya menatap mata lawannya dengan serius.

“Lo datengin lokasi ini…”, Syaqilla mengerutkan keningnya saat melihat sebuah gambar peta yang disodorkan lelaki di depannya.

“Jl. Angkara?”, tanya Syaqilla mengingat-ingat

“That’s Right, maka dari itu lo harus ke sini”

“Tapi buat apa?”

“Ehm, yah kalo lo mau selamat sih”

“Maksudnya?”

“Pokoknya lo cuma punya waktu 4 bulan, sebelum jum’at kliwon…”, ucapan Harris semakin membuatnya bingung akan apa yang terjadi.

“Kalo lo pengen jiwa lo dan saudara lo selamat”.

Seusai mengucapkan itu, lelaki tampan itu bangkit dari duduknya namun cekat dihadang oleh Syaqilla.

“Aku masih gak ngerti maksud kamu…”, keluh Syaqilla yang membuat Harris berdecak.

“Pokoknya lo datengin aja alamat itu, hari minggu atau selasa besok boleh sih… pukul 09.00”.

“Aku sendiri datengin tempat ini?”

“Ya iyalah…”, sinis Harris.

“Tapi, aku takut…”, gumam Syaqilla sembari menundukkan kepalanya malu.

“Terus? gue harus gimana?”

“Gak tau deh…”, pasrah Syaqilla sembari menyingkir dari hadapan Harris – mempersilahkan lelaki itu pergi. Melihat raut muka Syaqilla yang tampak gusar membuat Harris mengurungkan niatnya untuk pergi.

“Yaudah deh, besok gue jemput lo”, ucap Harris

“Ha? emang mau ngapain?”, tanya Syaqilla polos

“Yah nemenin lo lha”

“Beneran?”

“Hm…”

“Makasih banyak..e-h rizqi?”, ucap Syaqilla dengan girang namun dia mendadak lupa nama lelaki di depannya, jadi ia hanya memainkan jarinya.

“Nama gue Harris”, ujar Harris sedikit kesal.

“Iya, makasih Harris”

“Makanya kalo orang lagi introduce itu didengerin, jangan ngelamun mulu!”, sindirnya dan melengos begitu saja meninggalkan Syaqilla yang malu atas sikapnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.