Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya IV

oleh -
Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya IV

Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya IV

Pagi yang cerah ini, Syaqillah memutuskan untuk membolos sekolah bersama Harris, demi mendatangi Jln Angkara.

“Harris…beneran kita gak izin?”, tanya Syaqilla kembali memastikan lelaki di sampingnya.

“Ngotak gak sih lo? Kalau izin itu namanya bukan bolos, tau?”, sinis Harris yang dibalas anggukan kecil oleh Syaqilla.

“Yaudah, sekarang pake sealt-bet lo…”, suruhnya dan dilaksanakan oleh Syaqilla.

“Tapi… aku takut…nanti disana ada penjahat, gimana?”, keluh Syaqilla dengan polosnya.

“Ck, apaansih lo? Gak usah mikir aneh-aneh deh”, balas Harris dan melajukan mobilnya menuju area. Keduanya terdiam – terhanyut dalam pikirannya masing-masing.

Sebuah tempat usang dan banyaknya daun-daun berserakan di tanah membuat tempat itu semakin tampak angker. Ditambah banyaknya pohon-pohon lebat dan menjulang tinggi semakin menambah kesan misterius.

“Serem…”, gumam Syaqilla bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia sendirian di tempat angker seperti ini. Untung saja Harris mau menemaninya ke tempat ini.

“Hey! lo jangan ngelamun! Kerasukan mampus lo!”, seru Harris membuyarkan lamunan Syaqilla. Perempuan beratribut sekolah itu mengikuti langkah panjang Harris dari belakang.

“Kamu mau kemana?”, tanya Syaqilla yang heran dengan tujuan yang ditempuh Harris.

“Mau ke kuburan!”

“Ha? emang ada ya?”

“Ada lah…ini mau gali kuburan buat lo!”

“Ish! Ngeselin kamu”, cibir Syaqilla kesal.

Padahal dia bertanya serius malah dicandain. Langkah Harris berhenti membuat Syaqilla sontak berhenti juga.

“Ayo masuk!”, titah Harris berbisik. Sementara Syaqilla hanya menuruti perintah lelaki itu. sebuah rumah tua yang kecil dan kumuh itu menjadi objek menarik bagi keduanya.

Setelah dibuka, pemandangan yang disuguhkan adalah sarang laba-laba dan debu. Aroma dupa menyeruak memasuki indra penciuman keduanya.

Tanpa adanya rasa takut, Harris langsung memasuki lebih dalam rumah kecil itu, tentu saja Syaqilla mengekorinya.

“Apa ini?”, tanya Syaqilla saat melihat banyaknya gelang dengan gambar tertata rapi di sebuah kotak.

“Apa ini…jangan-jangan…”. Harris menghentikan ucapannya dan cekat mengambil ponselnya untuk mengabadikan gambar itu di ponselnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.