Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II

oleh -
Cerpen-Pengorbanan-Seorang-Kakak

Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II, ini merupakan kelanjutan dari Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya, yang bagian pertama. Oleh karena itu, bila belum membaca bagian pertamanya silahkan baca dulu, ok.

Kalau sudah selesai membaca bagian pertama, baru ke Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II ini.

Dalam Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II, ini juga menampilkan sosok tidak dikenal yang bikin pikiran Syaqilla kacau berantakan. Dan di bagian Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II, ini juga si Neo yaitu kucingnya Aria diasuh oleh si Syaqilla. Kok bisa?

Oke langsung saja ke ceritanya… Selamat membaca wahai sahabat santri milenial yang budiman ^-^

Cerpen Pengorbanan Seorang Kakak Terhadap Adiknya II

Sepasang mata menyapu pandangan sekelilingnya. Pemilik mata itu meletakkan sajadahnya di sofa. Lalu ia mencari sosok seorang yang saat ini ia khawatirkan.

“Ayah!”, panggil Syaqilla sembari mencari Rafi di setiap sudut ruangan. Ia melangkah ke arah kamar yang gelap dan berantakan. Ia pun menghidupkan lampu sebagai penerangnya.

Kamar yang dulunya selalu rapi, kini sangat berantakan bahkan bau alkohol sangat tajam menyerang indara pembauan Syaqilla. Wanita berbalut hijab hitam itu mulai merapikan kamar sang ayah yang sangat berantakan itu.

Tidak jarang ia menemukan botol-botol bir di sekitar ruangan Rafi. Syaqilla cekat membuang semua botol minuman yang masih baru itu.

Ia tak peduli dengan akibat yang ia dapat setelah membuang semua botol alkohol itu.

“Huh, akhirnya selesai juga”, lega Syaqilla karena kamar Rafi sudah rapi kembali. Wanita itu memandang sekeliling ruangan dan arah perhatiannya ke sebuah lemari sang ayah.

Ia pun membuka lemari Rafi dan yang paling mengejutkan, ia melihat sebuah kado lumayan tersusun rapi dengan adanya sebuat surat di atas kado itu.

Syaqilla yang sangat penasaran, cekat membuka kertas itu.

“Kado untuk Syaqilla masuk ke Universitas Al-Azhar”. Setelah membaca itu – mata Syaqilla mulai berkaca-kaca.

Ia tidak pernah tau  bahwa sang ayah begitu mendukungnya agar masuk Universitas Al-Azhar. Padahal Aninda – sang bunda melarangnya karena alasan terlalu jauh.

“Ayah…”, lirih Syaqilla sedikit tersenyum. Ia pun menutup pintu kamar sang ayah kembali. Langkah kakinya mulai menuju ke luar kamar.

Syaqilla berniat membuatkan makan malam unutk sang ayah. Syaqilla yang melihat bahan masakan yang sudah hampir habis di lemari es, hanya bisa menghela nafas sejenak.

Semenjak sang ayah suka mabuk, perusahaannya diambil alih oleh sepupu lelakinya. Walaupun tak sesukses dulu, Syaqilla masih bersyukur karena masih bisa tercukupi kebutuhan ayah, dirinya – berkat sepupunya itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.