Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren III

oleh -
Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren III
Ahkam Mulai Tak Mampu Melupakan Tingkah Lucu Neysa

Sunyinya dalam dinginnya malam membuat Ahkam tidak bisa memejamkan matanya. Lelaki itu melirik ke arah arloji di pergelangan tangannya yang saat itu menunjukkan pukul 22.30 malam.

Ahkam menyapu pandangan di sekitarnya – para santri terlelap sudah dalam dunia manya-nya.

Sesuatu yang masih terbayang di dalam pikirannya adalah tingkah lucu Neysa beberapa jam lalu – hal itu yang membuat Ahkam tidak bisa tidur dan malah tersenyum-senyum sendiri.

Akhir-akhir ini tingkah laku Neysa baginya sangat menggemaskan, entah kenapa Ahkam begitu senang saat melihat senyum manis Neysa.

“Ahkam… kamu ngapain toh kok senyum-senyum gak jelas”, tegur Fahmi, membuat Ahkam terkejut.

“Astaghfirullahal Azdim… kamu ngagetin aja Mi!”, seru Ahkam sembari mengusap dadanya berkali-kali.

“Salahnya sendiri senyum-senyum, aku kira kamu kesambat tuyul gundul kam”, ujar Fahmi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“He he he… yaudah Mi, aku ke masjid dulu ya”, pamit Ahkam membuat kening Fahmi berkerut.

“H? Ngapain jam segini ke masjid?”.

“Makan”, ketus Ahkam sembari membenarkan posisi peci-nya yang miring.

“Dih, ditanya bener, malah…”

“Mau sholat Mi…, Assalamualaikum”, Sahut Ahkam kemudian nyelonong pergi meninggalkan teman. Laki-laki berpeci hitam itu mengambil wudlu terlebih dahulu sebelum memasuki masjid.

Setelah selesai mengambil wudlu ia tak lupa membaca do’a setelah wudlu – rambut hitamnya yang basah terkena air wudlu ia kibaskan pelan agar cepat mengering.

Ahkam memasuki masjid bercorak langit itu. Ia pun langsung melaksanakan sholat tahiyyatul masjid dan dilanjutkan sholat hajat 4 rokaat.

Hanya angin malam yang berhilir menerpa wajah Ahkam yang saat ini khusyu’ dalam sholatnya. Hatinya kini hanya tertuju kepada Tuhannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.