Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren II

oleh -
Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Gambar Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Pitutur Romo Yai Zulfikar kepada Ahkam

“Awh… bu… sakit”, ringis Neysa saat bu Izza mulai mengaplikasikan obat-obatan herbal pada lutut Neysa. Sementara Ahkam yang saat ini dapat ceramah khusus romo yai-nya hanya menunduk.

“Le.. kamu kenal dia dari mana?”, tanya romo yai Zulkifli.

“Di lapangan yai…”

“Kamu tau kan le, cinta beda agama dalam Islam itu gimana?”

“Ya ya tau yai… saya tidak mungkin jatuh cinta dengan Neysa. Saya hanya berteman”.

“Tapi kamu harus jaga jarak dengan dia, karena dia bukan mahrommu”.

“Memangnya berteman tidak boleh”

“Boleh, asal kamu tau le, syetan itu akan selalu mengintai iman orang mukmin, makanya jangan samapi diberi celah”, tutur romo yai Zulkifli. Neysa yang selesai diobati hanya bisa menatap heran perbincangan keduanya dari jendela kamar ndalem.

“Neyasa…, bu Izza mau tanya, kamu ada masalah apa kok bisa seperti ini?”

“Hmm, rumah saya kerampokan bu… ada maling natal di rumah saya”.

“Ha?, maling natal, apa itu?”, tanya bu Izza heran.

“Yaitu maling yang datang di watu-watu hari raya natal di rumah tanpa keluarga”.

“Memang kemana keluargamu?”

“Berlibur ke greja London, tempat tinggal nenek… Saya gak mau ikut soalnya ada acara sekolah bu..”. Izza yang mendengar penjelasan dari Neysa hanya mengangguk mengerti.

“Ehm… Neysa… dipanggil rom yai”, ucap Ahkam dari mulut pintu ndalem.

“Siapa itu bu”, tanya Neysa polos. “Romo yai itu soerang ulama pengasuh pondok pesantren”, jelas bu Izza sedikit ragu.

“Oh…”

“Ya udah, kamu pakai bau ini untuk menutupi auratmu dan juga untuk menjaga adab kesopanan”, ujar bu Izza sembari menyodorkan busana muslimah. Tanpa protes, Neysa langsung mengenakan pakaian muslimah itu dengan santai.

Baca juga: Gus Muwafiq Dulu Mondok Dimana?

No More Posts Available.

No more pages to load.