Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren II

oleh -
Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Gambar Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Rumah Neysa Kerampokan Maling Natal

Sosok perempuan berambut sepunggung itu sedang menikmati mega merah di balkon rumahnya yang menghadap ke arah masjid Ponpes Syafi’i. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi masih jelas bisa melihat aktivitas di dalamnya melalui jendela dengan sinar lampu yang cukup terang.

“Allahu akbar- Allahu akbar!”, suara nyaring azan Isya’, lembut didengar Neysa. Perempuan itu yakin bahwa pemilik suara merdu itu adalah Ahkam. Neysa terus menyimak lafadz Allah yang tidak dimengertinya itu. Entah mengapa hatinya bergemuruh mendengar suara Ahkam yang sedang melantunkan Adzan itu. Ada rasa yang tidak ia mengerti.

“La ilaha illallah…”, kalimat azan isaya’ sudah berakhir. Tak terasa tiba-tiba air mata Neysa meluncur dengan cepat, hatinya benar-benar bergejolak setelah mendengar azan yang dikumandangkan oleh Ahkam.

“Kenapa sih gue?”, tanya Neysa sembari mengusap air mata di pipinya. Tanpa terasa waktu yang begitu cepat pun berlalu. tak terasa jam yang ada di dinding rumahnya sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Cling! Cling! Cling! Suara notifikasi ponsel Neysa berbunyi. Perempuan itu pun cekat mengambil ponselnya di brankas.

“Halo!”, suara tidak jelas seperti robot membuat Neysa bergidik merinding.

“Siapa ini?”, tanya Neysa gemetar.

“Pisau dengan darah mengalir…”, suarat robot itu membuat Neysa ketakutan. Ia mulai menjauhkan ponsel dari telinganya, perlahan ia mulai mengunci pintu kamarnya –  Ia berniat meloloskan dirinya.

“Ctarr?!”, terdengaar suara pecahan.

Suara nyaring piring dan barang-barang kaca pecah di rumahnya, membuat Neysa semakin takut. Pasalnya sekeluarga rumah masih berlibur di London. Hanya dirinya di rumah sebesar itu.

Suara misterius itu bikin Neysa melompat dari jendela

“Hai, halo, apa kau masih mendengarku”, suara dari ponsel itu masih saja menggema di telinga Neysa. Perempuan itu perlahan membuka jendelanya, masa bodoh dengan ponselnya yang tergeletak di ranjangnya. Ia mulai manjat ke jendela kamarnya. Ia yakin suara itu adalah suara maling di hari natal saat tanpa keluarga. Belum sempat Neysa turun  dari jendela, suara ketukan pintu menggelegar keras seperti hendak mendrobok pintu kamarnya yang ia kunci.

“Hai… jangan main-main denganku, marilah temui aku…, Neysa merinding, antara melihat jarak tinggi dari jendelanya dan suara ponsel dengan ketukan pintu yang tak henti-hentinya meneror.

“Tuhan… lindungi aku”, batin Neysa sembari mengecup kalung yesus miliknya dengan mantap. Ia pun melompat dari jendela dengan ketinggian 15 meter itu. Brukk!

Neysa tersungkur di atas tanah yang tandus. Lututnya berdarah akibat bergesekan dengan batu kerikil. Neysa benar-benar kesakitan karena lututnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Perempuan dengan celana jins sepaha itu menoleh ke arah jendela kamarnya yang mulai mengeluarkan suara-suara pecahan barang. Neysa cekat berdiri dan memaksakan diri untuk berlari di malam hari yang sudah mulai sepi itu. Ia bingung harus pergi ke mana, ia tak punya tetangga, ia hanya bertetangga dengan ponpes Syafi’i. Tidak mungkin ia minta pertolongan ke ponpes Syafi’i. Sejauh ia berlari hanya sampai di depan ponpes itu. Ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit di lututnya. Akhirnya ia menangis, ini pertama kalinya ia kerampokan.

Silahkan bila belum baca ertia di part satunya: Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren

Pelukan Neysa bikin Ahkam tak berdaya

“Ne-ysa? Kamu kenapa?”, tanya Ahkam cekat membuat Neysa menoleh. Matanya terus berair. Tanpa membalas, perempuan itu langsung memeluk erat Ahkam (yang kini terkejut). Sementara itu, Ahkam bingung antara menolaknya atau tidak. Tangis Neysa semakin pecah membuat Ahkam tak berdaya. Ia membiarkan perempuan itu menangis sambil memeluknya. Ahkam tau betul bagaimana sikap perempuan saat menangis.

“Ney, kamu kenapa?”, tanya Ahkam lembut sembari menundukkan kepalanya sedikit melihat wajah Neysa yang pucat dan sembab. Neysa yang agak tenang langsung melepas pelukannya. Saat hendak berbicara tiba-tiba rasa sakit di lututnya menyetrumnya – membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Awh…”, rintihan Neysa sembari dipegang tangannya oleh Ahkam agar seimbang.

“Astaghfirullahal adzim Ney, lutut kamu banyak darahnya lo”, ucap Ahkam terkejut.

“Ada apa ini Ahkam?”, tanya Neng Sanah yang tiba-tiba muncul dari gerbang, seketika Ahkam kaget melihat Neng-nya yang tiba-tiba keluar.

“Ini, neng, teman Ahkam katolik, dia ada ma – “

“Astaghfirullahal azdim, Ahkam! kamu gimana sih le? Udah tau temannya kecelakaan langsung panggil buk Izza!, jangan malah berduaan. Ayo masuk. Ahkam yang mendapat omelan dari Neng Sanah hanya menganga karena ia kira akan kena marah habis-habisan, ternyata Neysa malah disuruh masuk. Ahkam hanya manut mengikuti Neysa yang dituntun bu Izza dari belakang – menuju ndalem.

No More Posts Available.

No more pages to load.