Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren II

oleh -
Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Gambar Cerita Cinta Sedih Anak Pesantren
Neysa dan Ratih beli bakso peace

Antrian panjang pasti ada di waktu bel istirahat, para murid-murid. Para pedagang kini mulai sibuk melayani para pelanggannya untuk membuatkan pesanan berbagai makanan.

“Hey! Ayo kita ke sana aja”, ajak Ratih yang dibalas anggukan oleh Neysa. Keduanya lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di bakso peace, tempat bakso yang teramat laris. Neysa menyapu pandangan sekelilingnya, begitu begitu banyaknya orang-orang yang sedang mengantri bakso itu. Tak sengaja mata Neysa menangkap sosok cowok yang tak asing baginya. Tak perlu menunggu lama, cekat Neysa mendekati sosok itu.

Sikap Ahkam bikin Neysa semakin Penasaran

“Ahkam?”, panggil Neysa membuat cowok berambut hitam lebat itu menoleh sembari sedikit menjauh. Ahkam yang terkejut karena terdapat Neysa di depannya hanya mengucap istighfar.

“Kenapa?”, tanya Ahkam lembut.

“Hehee.. gak papa, Cuma kaget aja lo ada di sini”, cengenges Neysa polos.

“Iya, ini disuruh beli konsumsi”, balas Ahkam.

Owh… gue kira lo pengen ketemu gue”, lirih Neysa sembari mengurucutkan bibirnya.

“A-pa?”, tanya Ahkam yang tidak bisa mendengar jelas ucapan cewek di depannya.

“E-enggak kok.. gak ada apa-apa, gugup Neysa.

“Permisi, tuan yang beli 300 baksonya kan?”, tanya pegawai bakso peace itu. Ahkam pun menoleh ke arah pegawai itu sembari mengangguk pelan.

“Ia, tadi itu langsung diantar ke pondok Syafi’i ya mas”, ujuar Ahkam sembari menyodorkan 3 lembar uang 100 ribuan kepada waitress.

“Banyak banget, emang buat apa?”, tanya Nesya terkejut.

“Hmm, ia itu untuk anak-anak yang habis gotong royong”, balas Ahkam sambil tersenyum.

“Owh…”

“Ya udah aku pamit dulu ya”, ujar Ahkam

“Yah, kok pulang sih?”, seru Neysa membuat Ahkam terkejut karena intonasi Neysa yang tinggi.

“Astaghfirullahal adzim…. mbak, perempuan itu gak boleh meninggi suaranya, aurat”.

“Aurat? Apa lagi itu?, tanya Neysa yang membuat Ahkam menepuk jidatnya. Dia lupa kalau Neysa beda agama dengan dirinya.

“Nggak apa-apa. Ya udah saya pamit”, Ahkam berlalu begitu saja meninggalkan Neysa yang mematung.

“Huh kenapa sih tu cowok selalu menghindar”, gerutu Neysa kesal.

“Ya karena dia berbeda agama sama lo. Dan lo juga harus tau batasan-batasannya”, tutur Ratih.

“Gitu ya”, lirih Neysa merasa bersalah.

No More Posts Available.

No more pages to load.