Biografi KH Muhammad Kholil Nawawi Sidogiri

oleh -
KH Muhammad Kholil Nawawi Sidogiri

Nama Lengkap: Muhammad Kholil. Beliau meruapakn putra dari pasangan KH Nawawi bin Nurhasan dengan Nyai Nadzifah. Jadi, sekitar pada tahun 1925 M/ 1343 H, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan KH. Nawawi bin Nurhasan Sidogiri dengan Nyai Nadzifah. Di kemudian hari, bayi itu diberi nama Muhammad Cholil. Konon nama tersebut merupakan pemberian dari Syaikhona Cholil Bangkalan. Dalam ceritanya, saat beliau masih dalam kandungan, ayah dan ibunya membawanya soan ke pada Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, untuk meminta doa dan barokah kepada gurunya tersebut yakni Syaikhona Kholil Bangkalan.

Karomah Muhammad Kholil Nawawi Sidogiri

Mbah Yai Kholil Berkata dan berpesan: “Mon Kanak areyah Lahir senga’ beri’ nyama kholil karena kanak reyah tang panaros”, (Ingat, Kalau anak dalam kandunganmu lahir beri nama kholil ya, karena dia adalah penerus saya). Bahkan ada sebuah cerita, di mana beliau oleh Allah diberikan karomah yang mirip dengan mbah Syaikhona kholil Bangkalan Madura.

Kiyai Kholil sidogiri adalah seorang figur hamba Allah yang cinta ilmu pengetahuan dan memiliki maqom yang sangat tinggi. Beliau juga termasuk berkawan akrab dengan mbah Kyai Hamid Pasuruan. Suatu ketika seorang santri beliau bertamu ke ndalem beliau dan di suguhi makanan dan minuman, (kebetulan sang santri entah sedang berpuasa sunnah ataukah berpuasa karena mendalami ilmu hikmah) menolak tawaran Kiyai Kholil.

Akhirnya Kiyai dawuh: “Tirakatnya santri pondok Sidogiri itu dua hal , yaitu Rajin belajar menuntut ilmu di pondok dan istiqamah sholat dengan  berjama’ah. Sama halnya dengan kebiasaan Mbah Kiyai Maksum Lasem beliau akan cepat-cepat menyuruh santrinya yang berpuasa (entah puasa sunnah atau yang lainnya) untuk berbuka jika sang santri mendapat tugas mengisi bak mandi atau tugas yang berhubungan dengan hajat orang / santri banyak.

Kiyai Mustafa Lekok pasuruan adalah wali Allah yang menjabat sebagai sekretarisnya para wali. Ketika ditanya bagaimanakah maqam Kiyai kholil Sidogiri. Beliau menjawab: “ Kiyai Kholil Sidogiri itu muqarrabin yang sangat-sangat dekat dengan Allah”.

Kisah lain, ketika masih kecil tanpa ada sebab yang jelas Kiai Kholil kecil berteriak, “Meduro kiamat bah, Meduro kiamat bah, Meduro kiamat bah” teriakanya. Kiai Nawawi yang pada saat itu mendengar teriakan putranya menjadi bingung sambil berkata:”Ono opo Lil? (ada apa lil?), Meduro Kiamat bah (madura kiamat abah)

Sore harinya, Kiai Nawawi mendengar kabar ternyata Syaikhona kholil Bangkalan Madura telah meninggal dunia/ wafat. (Kematian seorang wali berarti hilangnya tonggak untuk menahan azab Allah dan ruh sesama wali itu saling mengenal).

Kisah lain, Gus Miek ketika masih kecil berteriak dengan keras di hadapan ayahnya mbah Kiyai Jazuli Ploso Kediri : “ Abah abah onok dayo gede abah 2”, (Abah / bapak ada 2 orang tamu besar / agung menuju pondok)

Selang tidak lama kemudian datanglah mas Ghozi diantar ayahnya mbah Kiyai Nurhasan Sidogiri dan pamannya mbah kyai Kholil Sidogiri datang untuk memasukkan mas ghazi mondok di Ploso di pondoknya kyai Jazuli.