Goresan Langit Menitikkan Embun

oleh -

Laura sosok gadis berusia 15 tahun. Gadis yang memiliki nasib malang—bertahan dengan kehidupan yang pahit. Walaupun banyak prestasi yang diraihnya, di mata sang ibu ia hanyalah anak sakit-sakitan yang hanya suka merepotkan. Hari ini hari ulang tahun gadis malang itu, ia selalu berharap agar sang ibu mamberikannya kado. Namun baginya itu nihil, ibunya tidak akan menyayangi dirinya dan lebih memanjakan sang kakak.

                “Bu..boleh gak hari ini aku minta sesuatu?”, ucap Laura memberanikan dirinya untuk mengatakan kalimat yang selama ini kelu di mulutnya..

                “Apa lagi yang kamu inginkan?”, balas Arlina dengan tampang sadisnya.

                “Aku ingin..sebuah kado untuk hari ulang tahunku..”

                “Ha?? jangan mimpi kamu! Kamu tau nggak, dari kecil kamu itu selalu ngerepotin buat ibu sama ayah!!”, tukas Arlina membuat hati Laura terluka.

                “Kenapa ibu gak bisa beriin aku kasih sayang?”, ucap Laura lirih.

                “Karena adanya kamu di dunia ini membawa sial bagi kehidupan ibu dan ayah!”, seru Arlina dan meninggalkan gadis yang malang itu. Laura hanya tertunduk lesu, karena harapanya pupus seketika. Pernyataan dari sang ibu membuat dirinya frustasi. Ia memutuskan meninggalkan rumah. Gadis itu berlari jauh dari jarak rumahnya. Ia tak peduli arah mana yang ia tuju, yang terpenting ia bisa menenangkan dirinya—meluapkan segala frustasi yang ia alami. Sampai ditempat dimana sebuah jembatan yang tidak terlalu ramai dan sebuah jurang terletak di bawahnya.

                “ARGH!! KENAPA DUNIA INI KEJAM!! Aku lelah..untuk terus menyembunyikan segala lukaku..”, Laura berteriak di tengah jembatan itu. Dengan isakan tangis yang dahsyat, ia tak tau lagi harus menyikapi semua yang dihadapinya. Laura menatap ke bawahnya—jurang dalam dan menyeramkan membuat pikirannya tak bisa berfikir jernih lagi. Perlahan ia menaiki satu sanggahan yang ada pada pagar jembatan itu, tangannya kini mencengkram kuat besi yang ada pada pagar jembatan itu. Gadis itu menutup matanya perlahan, keputusannya untuk bunuh diri tak bisa lagi diganggu gugat. Baginya keputusannya ini jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.

                “Selamat tinggal semua…”, batin Laura yang mulai merenggangkan cengkraman pada pagar besi itu. Kurang sedikit lagi ia akan jatuh ke dalam  jurang. Namun tiba-tiba saja sebuah tarikan mencengkram kuat lengannya, membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Sosok laki-laki memopong tubuhnya yang hampir terjatuh karena tarikan kuat tadi. Mata Laura tak henti-hentinya menatap mata cowok bermata hazel dengan alis tebal yang membuat pesona tampannya berkilat. Entah kenapa tiba-tiba saja jantung Laura berpacu cepat, ditambah jarak keduanya sangat dekat.

                “Ehm..lain kali otak dipake..”, ucap laki-laki itu memperbaiki posisinya begitupun dengan Laura.

                “Kenapa sih, kamu pake acara jadi hero kesiangan segala!”, geram Laura dengan raut muka masamnya.

                “Dih, ditolongin malah nyewot..”, Laura tak menggubris ucapan laki-laki di depannya itu, ia lebih memilih melipat kedua tangannya di depan dadanya khas orang merajuk.

                “Nih kartu namaku..lain kali kalo ada masalah, ngomong ke aku.. kali aja aku bisa ngasih solusi, bukan kayak tadi..”, laki-laki itu menyodorkan kartu nama miliknya dan langsung diterima oleh Laura. Gadis itu mangamati kartu yang ada di tangannya dan membacanya lirih.

                “Kevin Azkariyanda.. umur..wow!! umur 19 tahun ternyata.. kaalau aku masih um—“, Laura membisu seketika karena laki-laki di depannya itu menghilang begitu saja dari hadapannya. Pikiran Laura terus berkeliaran kemana-mana. Siapa laki-laki itu?? Kenapa laki-laki itu peduli padanya? padahal sewaktu ia hendak bunuh diri masih ada beberapa orang berlalu lalang namun tidak ada yang  peduli padanya kecuali cowok bermata hazel itu.