Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

Confused of a something

             Lelaki itu berusaha menutupi kegugupannya. Ia terus mengalihkan pandangannya dari Syaqilla.

           “Telepon dari siapa?kok gak diangkat?”,Fariz terus berusaha mencari-cari alasan untuk membalas pertanyaan perempuan di depannya itu.

           “Dari teman biasa…”, balas Fariz singkat. Namun Syaqilla bisa dengan mudah menebak kebohongan yang di sembunyikan lelaki di depannya itu. Tidak mungkin jika sosok di telepon itu hanya sekedar teman biasa.

            “Ehm..ayo saya antarkan pulang”, ujar Fariz dan melangkah mendahului Syaqilla yang  masih terdiam di tempat. Lelaki itu sudah berada di samping mobilnya—Syaqilla yang menyadari itu cekat ia membuntuti langkah Fariz. Perempuan itu sedikit heran dengan mobil yang dipakai Fariz itu,tidak biasanya laki-laki itu menggunakan mobil milik pak kyai Syafi’i. Sewaktu di pondok, Syaqilla tau betul kebiasaan gus-nya itu. Fariz selalu ingin memakai mobil silvernya dari pada menggunakan mobil milik abahnya. Di samping itu Fariz akan terpaksa memakai mobil milik abahnya jika kondisinya benar-benar mendesak. Apa masalah yang dimiliki Fariz sampai ia terpaksa memakai mobil abahnya?. Tanpa pikir panjang  Syaqillah langsung menuruti perintah Fariz untuk masuk ke dalam mobil. Perempuan  itu duduk di jok belakang, semantara Fariz duduk di depan bersama pak joko (supir handalan pak kyai Syafi’i ).

                    “Mas Fariz…aku ingin pulang ke rumahku, aku tidak ingin kembali ke pondok terlebih dahulu…”, ucap Syaqillah yang dibalas anggukan kecil oleh Fariz.

                    Sepanjang perjalanan, suasana mobil hanya diisi dengan kecanggungan, keheningan. Tak ada satupun yang mau membelahnya. Tidak butuh waktu berjam-jam untuk menuju ke rumah Syaqillah, karna jarak antara rumah dan pemakaman tidak telalu jauh. Kini mobil hitam sampai tepat di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar hitam. Syaqillah pun turun dari mobil, dan secara bersamaan Fariz juga ikut keluar, laki—laki itu berkata, “istirahatlah…jangan sampai kamu membuat masalah di hari pernikahan kita besok”. Kalimat yang dilontarkan Fariz itu benar-benar dingin dan sangat menusuk hati Syaqillah. Perempuan itu hanya pasrah dan mengangguk kecil sebagai balasannya.

                    “Aku pamit, assalamualaikum”, ucap Fariz . Syaqillah pun membalas salamnya dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia menyapu pandangan dalam rumahnya—banyak kenangan yang tersimpan rapi di rumah ini. Setelah diadakan tahlilan pada kemarin malam, bau melati masih tercium jelas di indra hidungnya. Ia sangat rapuh dengan kepergian kedua orantuanya. Dahulu ibunya meninggal karna leukimia, sekarang ayahnya meninggal karna kecelakaan.

                    “Syaqillah merindukan kalian…”, lirih perempuan itu sembari megusap foto keluarganya. Ia meletakkan kembali foto itu di atas nakas meja. Perempuan itu melirik ke arah kotak hadiah yang dibiarkannya semalam di sofa. Ia mengambil kotak itu dan perlahan membukanya. Sebuah kalung aluminium bercorak nama Allah menjadi pandangan pertama yang disukai Syaqillah. Perempuan itu pernah meminta hadiah seperti itu sewaktu dia masih berumur 15 tahun. Ia masih ingat jelas perjuangan Ayahnya demi membelikan kalung itu. Tidak hanya itu saja, terdapat sebuah surat di bawahnya yang membuat Syaqillah mengerutkan keningnya karena penasaran dengan surat itu. Ia pun membuka secarik surat itu, “jika suatu saat kamu sudah tau semuanya, kamu jangan pernah membenci sosok di dekatmu”.

No More Posts Available.

No more pages to load.