Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

A phonecall

                Syaqillah terpukul dengan pandangan di depannya—sebuah tanah dengan batu nisan bertuliskan M. Arif bin Anas. Ya, ayahnya sudah pergi meninggalkannya jauh. Perempuan itu masih terbalut isakannya, Syaqillah masih tak bisa melepaskan kepergian ayah tercintanya itu. Sementara Fariz masih setia menemani perempuan yang terduduk ditanah itu. Bagaimanapun itu juga kesalahanya, kalo tidak saja ia bertengkar di mobil dengan perempuan di masa lalunya, Arif tidak akan terluka.

                “Ayah… maaf…” lirih Syaqillah masih dalam balutan tangisnya kejadiaan sewaktu kemarin masih teringat jelas, membuat penyesalan perempuan itu terus menggebu dirinya.

                Syqaillah berlari kecil—bergegas menuju ruang rawat Arif. Perempuan itu tak henti—hentinya berfirasat buruk, ia takut hal yang tidak diinginkannnya akan terjadi. Syaqillah sudah sampai di ruang ayahnya itu, namun satu hal yang paling disesali Syaqillah. Arif sudah melewati syakaratul mautnya. Perempuan itu tidak sempat meminta maaf dan mendengarkan pesan Arif yang ingin dikatakanya saat itu.

                “Ayah !! ayah nggak boleh ninggalin Syaqillah!! Ayah! Ayah bilang, Ayah selalu ada buat Syaqillah, histeris dahsyat tangisnya. Takdir berkata lain, perempuan itu harus bisa merelakan kepergian sang ayah.. Ia menatap sendu ayahnya yang tertidur tenang dengan seukiran senyuman tipis yang menghiasinya. Ia terus merutuk dan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Ayahnya itu.

                Innalillahi wa innailaihi rojiun..

                “ Assalamualaikum…”, ucap Fariz membuat Syaqillah mengusap cepat air matanya, ia pun membalas, “waalaikum salam..”

                “ Ikhlaskan… biar ayahmu tenang di sana… perbanyaklah istigfar agar hati kamu bisa tenang”. Saran Fariz sembari menatap dalam ke arah Syaqillah yang tertunduk itu. Lagi—lagi Fariz bisa membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Ia benar—benar merasakan ketenangan setelah saran dari lelaki itu

                “Ini…” kata Fariz sembari menyodorkan sebuah kotak yang tidak terlalu besar ukurannya. Sementara perempuan itu hanya mengerutkan keningnya tanpa mau menerimanya.

                “Apa ini?”. tanya perempuan hijab syar’i itu.

                Lelaki itu menjawab, “ini barang berharga yang ingin diberikan ayahmu padamu sebelum beliau wafat”. Ucapan Fariz barusan berhasil membuat hati Syaqillah tertusuk duri, dengan gemetar Syaqillah menerima kotak itu. Perempuan itu menatap penuh kesedihan dan tetesan air mata pun lolos begitu saja dikelopak matanya. Sementara Fariz hanya bisa menghela nafasnya pasrah saat melihat perempuan di depannya itu menangis.

                “ Dan satu lagi al-marhum bapak Arif bilang kalau di dalam kotak itu hadia special untuk ulang tahunmu besok yang ke-20… hadia itu sangat kamu inginkan dari dulu.. dan beliau minta maaf karna terlambat memberikannya”

                Tangisan Syaqillah semakin pecah setelah mendengar penjelasan Fariz itu. Ia benar—benar lemah, tenaganya terkuras habis oleh tangisannya. Kakinya tiba—tiba lemas karna terus  menangis, dan akhirnya ia terduduk begitu saja dikursi sebelah ranjang ayahnya yang sudah ditutup kain putih. Kini Fariz hanya bisa menyesali perbuatannya, ia tidak tau harus berrbalas apa selain menikahinya…

                “Mulai besok kamu tinggal bersamaku dan pernikahan diadakan besok setelah hari pemakaman bapak Arif”, ujar Fariz.

                Syaqillah tertunduk pasrah dengan kehidupan yang ia jalani saat ini. Kini perempuan itu semakin menggenggam erat kotak itu, saat dokter mulai membawa pergi ayahnya untuk proses pemandian dan pemakamannnya.

                “Ehmm…. jangan terus menangis… ayo saya antarkan kamu pulang”, deham Fariz membuyarkan lamunan Syaqillah tentang kerjadian kemarin. Perempuan itu baru sadar kalau dirinya masih dalam pemakaman sang ayah. Ia pun bangkit dari duduknya, berkata “makasih, tapi saya bisa pulang sendiri mas…”

                “Tidak… biar aku antarkan saja…”, tegas lelaki itu.

                “Saya mohon… biarkan saya pulang sendiri”

                “Kamu mulai sekarang tanggung jawabku, jangan membantah, apa kamu lupa ayamu menyuruhku untuk menjagamu?”, ucapan Fariz barusan membuat Syaqillah terpaku diam, ia tidak bisa menolak lagi jika yang permintaan itu dari ayahnya. Syaqillah menghela nafasnya pasrah dan ia membalas “baiklah…”

                “Besok hari pernikahan kita, jadi jagalah tubuhmu jangan sampai sakit, dan—“, ucapan lelaki itu terpotong oleh sebua notifikasi telepon, Fariz pun segera merogoh sakunya dan melihat sekilas nama seseorang yang tertera didepan ponselnya, lalu segera mematikannya kembali. Syaqillah yang mendapati lelaki di sampingnya yang sedikit aneh itu, langsung ia bertanya, “ telepon dari siapa? Kok gak diangkat?”

No More Posts Available.

No more pages to load.