Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

So Complicated

                Hari pertunangan Syaqillah dan Fariz sudah berlalu bagaikan hembusan angin. Tinggal menunggu akad nikah yang membuat keduanya halal menjadi seorang suami istri. Perempuan itu duduk terdiam di sebelah Fariz, keduanya menuruti perkataan Arif untuk ber-ta’aruf. Namun suasana canggung menghampiri keduanya. Tidak ada satupun yang ingin memecahkannya.

                “ Ehm.. berapa lama kamu mondok di pondok Al- Ahkam?”, ucap Fariz membelah kesunyiaan.

                “ sudah 8 tahun saya mondok disana… apa Gus—?”

                “ Jangan panggil saya gus, kita akan menjadi suami istri. Jadi panggil saya mas saja… saya seperti ini karna tidak ingin mengecewakan Ayahmu…”, Sahut Fariz datar

                “ I—iya… “, balas perempuan itu lirih.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang mengitari pikiran Syaqillah, namun perempuan itu tidak berani mengatakannya.

                “ Ingat … aku menikahimu karna permintaan Ayahmu, tidak lebih” ,tukas Fariz sedikit membuat Syaqillah tertampar kenyataan pahit.

                “Aku ingin bertanya…”, kata Syaqillah masih dalam posisi sama, Fariz menoleh ke arah perempuan itu sembari mengerutkan keningnya dan lelaki itu membalas, “ Apa ?”

                “ Apa mas tau penyebab ayah kecelakaan?”, pertanyaan itu  membuat Fariz terdiam seketika tak tau harus menjawab apa.

                “ Dan… yang paling membuatku bingung… kenapa mas mau menerima perjodohan ini…?”, tambah Syaqillah. Lelaki itu meneguk ludahnya yang mencekat di tenggorakannya, ia pun membalas,“ karena itu permintaan Ayahmu?”

                “Tapi menurutku alasannya bukan seperti itu…”, lagi—lagi Fariz dibuat berfikir keras dengan kecerdikan perempuan di sebelahnya itu.

                “Terus? apa sebenarnya yang kamu inginkan?”, kata Fariz yang berusaha sabar. Perempuan itu terus memainkan jemarinya gugup akan ingin mengucapkan segala yang ada di depannya.

                “Aku ingin tau, pembicaraan mas dan Ayah kemarin sewaktu aku pergi membeli makanan…”, ujar Syaqillah.

                “Apa kamu benar—benar ingin tau?”.

                “Iya” balas Syaqillah bersama anggukan kepalanya.

                “Sebelum aku menceritakan semuanya … kam—“ belum menyelesaikan ucapannya, sosok suster menghampiri keduanya dengan nafas terengah—engah.

                “Per—mi—si.. mbak Syaqillah… dipanggil bapak Arif segera”, ucap suster itu. Perempuan itu cekat berdiri—dengan  cemas. Syaqillah menyahut, “ ada apa dengan ayah saya”

                “Kondisinya kembali kritis… dan dia sangat membutuhkan mbak..”, ujar suster itu. Kini pikiran Syaqillah berlarian kemana—mana, tanpa ingin membalas, perempuan itu melengos begitu saja tanpa berpamitan pada Fariz. Perasaan dan fikirannya sudah tidak bisa jernih lagi, ia terus berrharap agar yang tidak diinginkannya tidak terjadi.

No More Posts Available.

No more pages to load.