Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

Something a secret

       Sempat Syaqilla menolak pertunangan yang diadakan, tapi ia tidak bisa mengelak lagi karna itu permintaan dari sang ayah. Perempuan itu hanya bisa termenung di sisi ranjang  Arif yang sedang beristirahat. Entah kenapa harus Fariz yang menjadi pendamping dalam hidupnya. Pernikahan tanpa rasa cinta itu bukan sesuatu yang diimpikan Syaqilla ,apalagi lelaki seperti Fariz memiliki seorang perempuan yang sudah tersimpan rapi dalam hatinya. Rasanya tidak mungkin jika Syaqillla bisa menggantikan posisi sosok wanita itu di hati Fariz. Syaqilla menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya pasrah. Ia tak habis fikir dengan permintaan dari ayahnya itu yang baginya sangat berat.

              “Syaqillah… kamu kenapa?”, tanya Arif yang baru bangun dari tidurnya. Perempuan itu sedikit terlonjak, ia baru menyadari jika ayahnya itu sudah bangun dan memperhatikannya.

                “Eh ayah… aku gapapa kok… eum..ayah pasti belum makan, biar Syaqillah belikan makanan dulu ya…yah?, balas Syaqillah mengalihkan pembicaraan. Hendak berdiri dari tempat duduknya, Arif langsung menahan tangan putrinya itu dan berkata, “ Ayah belum mengizinkan kamu untuk membeli makanan … Ayah tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ayah..”.

                “Nggak Ayah.. Syaqillah cum—“

                “Kamu pikir Ayah tidak tau… jujur saja..”, sahut Arif membuat Syaqillah tertunduk pasrah. Perempuan itu tidak pernah pandai menyembunyikan sesuatu di depan Ayahnya, pasti Ayah itu selalu mengerti keadaannya.

“Kenapa Syaqillah harus menikah dengan Gus Fariz yah?”, Arif tersenyum sendu dengan pertannyaan yang dilontarkan putrinya itu, kemudian Arif pun membalas, “ Ayah hanya ingin kamu bahagia…”.

“Dengan cara aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai?”, Sahut Syaqillah cepat embuat Arif bungkam seribu bahasa. Perlahan air mata Syaqillah mulai meluncur, ia tak habis fikir dengan keputusan Ayahnya itu. Arif yang tak tega melihat putrinya menagis. Lelaki itu memeluk putrinya—merangkulnya dalam dekapannya. Sesekali Arif mencium puncak kepala putrinya mencoba meredakan tangisannya.

“Ayah tau… keputusan Ayah memang berat buat kamu tapi ini untuk kebaikanmu sayang… ”, bisik Arif lembut.

“Jika suatu hari Ayah meninggalkanmu, ikhlaskan lah, tatap masa depanmu bersama suamimu. Jadilah istri yang baik dan sholehah, ikhlaslah mencintai suamimu walaupun suamimu masih sulit untuk menerimamu. Jangan pernah durhaka pada suamimu… turuti perintan baik yang diucapkannya, Insyaallah, Allah memberikan keberkahan dalam hidup keluargamu”, tambah Arif menasehati putrinya.

Syaqillah semakin terisak dahsyat dalam tangisnya, ia pun menyahut, “kenapa Ayah bilang seperti itu. Ayah seakan-akan benar-benar ingin meninggalkanku…”, Arif mengusap pelan punggung putrinya agar bisa tenang.

 “Ayah sudah tau semua yang kamu dan Fariz sembunyikan”, kata Arif membuat Syaqillah menjauhkan tubuhnya dari rengkuhan sang Ayah.

“Maksud Ayah ?, Apa yang disembunyikan Gus Fariz dariku dan Ayah?”

“ Jika kamu ingin tau, ingat plat nomor mobil ini…”, balas Arif menulis di secarik lembar kertas. Syaqillah menautkan kedua alisnya bingung dengan ucapan sang Ayah.

“Untuk apa ini ?”, tanya Syaqillah setelah sang Ayah menyodorkan secarik lembar kertas itu.

“ Untuk mengetahui seseorang di balik kejadian kecelakaan ini”, balas Arif misterius..

No More Posts Available.

No more pages to load.