Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

Truth or Lie?

             3 hari berlalu dengan cepat, Syaqilla masih setia duduk di tepi ranjang sang ayah. Perempuan itu merenungkan sesuatu yang membuatnya mogok makan, ia benar-benar penasaran dengan maksud di balik kebaikan gusnya itu. Pikirannya terus berkeliaran kemana-mana di dalam keheningan ruangan itu. Di tengah Syaqilla melamun, ia baru menyadari jika jemari-jemari sang ayah mulai sedikit bergerak.

              “A..yah..”,lirih Syaqilla. Arif perlahan mulai membuka matanya, perasaan Syaqilla bercampur aduk, antara senang atau sedih. Arif melirik ke arah putrinya yang tersenyum tulus dengan tetesan aiar mata yang mengalir.

             “Syaqilla..”, Arif mulai membuka mulutnya yang sekian lama tertutup. Perempuan itu cukup lega dengan keadaannya yang mulai membaik itu.

             “ Alhamdulillah… ayah baik-baik saja”, ujar Syaqilla sembari memeluk pelan tubuh Arif. Keduanya benar-benar bahagia, walaupun hanya dengan seukir senyuman tulus. Tanpa disadari keduannya Fariz sudah memasuki ruangan–lelaki itu turut bahagia dengan keadaan Arif yang sudah lolos dari masa kritisnnya.

             “Alhamdulillah bapak sudah membaik”, ucap Fariz membuat Syaqilla sedikit terkejut dengan kehadiran Fariz yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangan.

             “I-ya.. makasih juga buat pembayaran biaya perawatan ayah saya”, kata Syaqilla sembari menundukkan kepalanya. Laki-laki itu terdiam sejenak dengan kalimat yang dilontarkan Syaqilla, Fariz masih kaku untuk mengatakan yang sebenarnya pada Arif dan perempuan di depannya itu.

             “Emm.. gimana kalau saya beli makanan buat bapak dan putri bapak?”, tawar Fariz yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Arif menggelengkan kepalanya pelan sembari berucap, ”tidak usah nak.. kita udah ngerepotin kamu”

             “Gak kok pak.. saya juga lapar jadi saya sekalian beli makanan untuk bapak dan putri bapak”, ujar Fariz. Syaqilla yang mendengar lontaran ucapan Fariz merasa sangat merepotkan lelaki itu. Perempuan itu pun menyahut, ”Begini saja, biar saya yang beli makanannya..”, sementara Fariz sudah tidak bisa menolak, karna Syaqilla sudah pergi keluar ruangan tanpa lupa mengucap salam. Kini hanya tertinggal Fariz dan laki-laki paruh baya itu.

            “Hmm…pak..”, panggil Fariz sedikit bimbang. Arif membalasnya dengan mengangkat kedua alisnya. Fariz benar-benar ingin mengatakan yang sebenarnya tapi mulutnya sangat kaku—ketakutan pun mulai menghampiri dirinya.

            “Ada sesuatu yang ingin saya katakan pada bapak..”, Arif mengerutkan keningnya selepas mendengar ucapan Fariz yang sangat misterius itu.

            “Apa??”, tanya Arif membuat helaan nafas berat keluar dari diri Fariz.

            “Apa bapak tidak akan marah jika saya mengatakan yang sebenarnya?”, Arif semakin dibuat penasaran dengan teka-teki yang disembunyikan lelaki di sampingnnya itu, ia pun berucap bijak, ”asal kamu mau bertanggung jawab dan tidak melarikan diri dari kesalahan, saya tidak akan marah”.

Lontaran kalimat Arif itu membuat jiwa pemberani Fariz semakin mengecil. Akankah laki-laki itu akan mengatakan yang sebenarnya? Atau mungkin sebaliknya? Dan bagaimana kehidupan Syaqilla setelahnnya tanpa orang tuannya?

No More Posts Available.

No more pages to load.