Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

Bad a reality

          Laki-laki berpeci hitam itu masih terdiam,tak ada sekata pun yang ingin dilontarkannya. Syaqilla yang merasakan kecanggungan itu. Ia hanya melirik sekilas raut muka Fariz yang sepertinya menyembunyikan sesuatu padanya.

               “Mmm..karna saya mera—“,tiba-tiba ucapan Fariz terpotong oleh seorang dokter yang menghampiri mereka.

               “Permisi, apa disini ada salah satu keluarga dari bapak Arif??”, Syaqilla cekat menoleh dan mengangguk ke arah sang dokter sembari berkata, “ya..saya dok”

               “baik..mari ikut saya”,ajak sang dokter yang langsung dibuntuti Syaqilla menuju ke ruangannya.Setelah itu Syaqilla di persilahkan duduk terlebih dahulu,dan perempuan itu berharap ada kabar baik yang menghampirinya.

               “Begini.. bapak Arif mengalami benturan keras di kepalanya dan saraf nadinya pun terluka parah akibat kecelakaan..oleh karena itu—“

              “Tapi ayah saya masih bisa menjalani aktivitasnya seperti biasanya kan dok?”, sahut Syaqilla memotong penjelasan sang dokter.

             “Tentu.. tapi ada satu hal yang pastinya sulit diterima oleh mbak..”, ucap dokter itu menggantungkan kalimatnya, seakan rasanya kaku untuk mengatakan yang sebenarnya. Perempuan itu mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan sang dokter. Ia pun membalas,”apa dok??”

             “Mmm, bapak Arif tidak punya waktu lama untuk di dunia ini..”. Mendengar kalimat dari sang dokter, Syaqilla sontak terjingkat—air matanya keluar begitu saja dari kelopak matanya. Perempuan itu tak percaya secepat itukah ayahnya akan meninggalkannya. Syaqilla sudah tidak bisa menghindar lagi dari kenyataan yang ada.

             “Gak dok!! dokter harus bisa menyelamatkan ayah saya!! ayah saya gak akan tega meninggalkan saya!!”, seru Syaqilla yang sudah kehabisan kesabarannya. Perempuan itu terisak dahsyat oleh tangisnya, ia tidak tau bagaimana kehidupan dirinya selanjutnya tanpa adanya orang tua.

            “Ada apa dok??”, tanya Fariz yang langsung masuk ke dalam ruangan sang dokter karna suara isakan tangis Syaqilla yang membuat perhatian Fariz teralihkan. Laki-laki itu menatap sendu perempuan di sampingnnya, ada rasa bersalah yang cukup berat menghantui diri Fariz.

            “Mbak..tolong tenang, jangan menangis berlebihan kayak gini.. ayo baca istighfar dulu”, saran Fariz yang berusaha menenangkan Syaqilla. Akhirnya perempuan itu sedikit merasa lebih tenang setelah menuruti saran Fariz. Lelaki itu mengalihkan pandangannya pada sosok dokter di depannya itu dan bertanya,”dok sebenarnya ada apa ini??”

             “Bapak Arif tidak akan lama di dunia ini..”, jawaban sang dokter membuat Fariz menganga lebar—lelaki itu cekat menoleh ke arah perempuan di sampingnya yang saat ini tertunduk lemas. Kini ucapan maaf saja tidak akan bisa  membuat hidup Syaqilla lengkap dan bahagia. Apa yang akan dilakukan laki-laki itu untuk membayar rasa bersalahnya? Apa Syaqilla tau orang yang membuat ayahnya seperti itu?

No More Posts Available.

No more pages to load.