Cerpen Santri, “Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz”

oleh -
Cerpen Santri, "Pertanyaan Musyqil Santriwati untuk Gus Fariz"

Broken

            Pagi ini aktivitas Syaqilla tidak lagi menjadi santri. Ia sudah mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Saat ini perempuan itu sedang memasak sarapan untuk suaminya. Walaupun sudah halal, Syaqilla masih tidak mau membuka khimarnya. Perempuan itu menuruti semua perintah sang suami tapi Syaqilla tidak bisa menaati salah satu perintah Fariz untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai sosok istri. Syaqilla selalu mengingat ucapan almarhum ayahnya untuk ikhlas mencintai suaminya walaupun tidak mencintainya.

               “Mas Fariz..ayo sarapan dulu..”, ajak Syaqilla sembari menaruh makanan-makanan hangat di atas meja makan. Lelaki dengan koko merah itu menoleh ke arah sang istri, ia memutar bola matanya jengah dan berucap,” kenapa kau repot-repot menjalani kewajibanmu sebagai istri, kita menikah hanya karena permintaan almarhum ayah…jadi atur saja hidupmu sendiri aku tidak akan melarangmu melakukan apapun..tapi jika di depan abah dan umi, kau harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri..”, kalimat yang dilontarkan Fariz barusan berhasil membuat hati Syaqilla teriris-iris, bagaikan tusukan pedang mengenai hatinya. Perempuan itu menatap lekat sang suami dan ia membalas,”Aku mengerti itu…tapi aku hanya ingin melakukan kewajibanku sebagai sosok istri yang solehah mas..walaupun pernikahan kita terpaksa tapi setidaknya aku masih bisa memperbaikinya dengan keikhlasanku untuk mencintaimu”, mata Syaqilla mulai berkaca-kaca. Ia tak sanggup menahan rasa  sakit dan pahitnya kehidupan pernikahannya itu. Namun dengan sekuat tenaga Syaqilla menahan air matanya yang akan meluncur itu.

               “Sudahlah..aku telat mengajar, sarapanlah sendiri dan janganlah menangis”, ujar Fariz datar. Perempuan itu mulai melangkah menghampiri sang suami, sebelum Fariz berangkat untuk mengajar, Syaqilla mencium punggung tangan milik suaminya itu dan berkata, ”hati-hati..jangan pulang larut malam..”.

Sontak jantung Faris sedikit terenyuh dengan perlakuan lembut sang istri namun dengan segera ia menutupinya.

“Yaudah aku pamit.. assalmualaikum”, Syakilla pun membalas salam itu sebelum Faris berkacak pinggang darinya. Perempuan itu melangkanhkan kakinya kembali ke meja makan, suasan benar benar sunyi karna suaminya minta tinggal berdua tanpa umi dan abah. Perempuan itu akhir nya mengambil makan untuk dirinya sendiri—hendak menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya, suara dering telepon berbunyi  membuat Syakillah mengurungkan niatnya untuk makan.  Perempuan itu beranjak dari duduk nya dan mencari sumber dari telepon itu.

“Telepon dari siapa sih kok sepagi ini”, gumam Syaqilla sembari memegang ponsel  yang berada di sofa. Ternyata ponsel Faris yang berbunyi, tapi satu hal yang membuat Syaqilla berfikir, ternyata nama Hesya dengan emot cinta di samping namanya. Perempuan itu tidak berniat untuk mengangkat telpon itu, dia lebih memilih menaruh ponsel itu kembali dengan raut muka masam. Entah mengapa tiba-tiba terasa sakit padahal Syaqilla tidak memiliki perasaaan apapun pada gus nya itu.

“ Ya Allah, kenapa sesakit ini..”, lirih Syaqilla tertunduk lemas di sofa.

By @Hama (Sevilla Dian Mumtaz)
IG @dian_xx07
FB @Sevilla Mumtaz

Santri Darul Quran Banu Hasyim, Sidoarjo

No More Posts Available.

No more pages to load.