Nasihat Dahsyat KH Raden As’ad Syamsul Arifin Situbondo

oleh -
Nasihat Dahsyat KH Raden Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo

Di Sukorejo Situbondo pada 31 Mei 1980, Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin pernah dawuh:

“Guru yang mengajar, niatkan ; Pertama, untuk menyebarkan ilmu. Kedua, kalau ada gajinya, diterima. Niatkan nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Awas, jangan dibalik, yang pertama jadi yang kedua!!” (Buku Rangkuman Sebagian Dawuh-Dawuh Almaghfurlah KHR As’ad Syamsul Arifin Kepada Santri, Pengurus, dan Umum)

Menyebarkan ilmu atau nasyrul Ilmi selain merupakan upaya dakwah, sejatinya adalah usaha untuk membantu orang lain. Orang yang sudah tahu membantu orang yang sementara belum tahu. Jadi semangatnya adalah memberikan kemanfaatan untuk orang lain serta bekerjasama dalam kebajikan dan takwa.

Nasihat beliau sebenarnya adalah pegangan indah untuk semua profesi, tak harus guru. Bayangkan bila semua profesi diniatkan seperti itu: membantu orang lain.

Penjual niat membantu orang lain mendapatkan barang yang diperlukan dengan mudah. Bila ada keuntungan materi, baru diniatkan untuk menafkahi diri dan keluarga.

Dokter berniat membantu pasien dalam ikhtiar kesembuhannya. Bila ada gaji, baru diniatkan untuk menafkahi diri dan keluarga.

Petani berniat membantu orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan pokoknya. Bila ada keuntungan dari hasil panen, baru diniatkan untuk menafkahi diri dan keluarga.

Polisi benar-benar berniat melayani dan mengayomi masyarakat. Bila ada gaji dari profesinya, baru diniatkan untuk menafkahi diri dan keluarga.

Bahkan sampai seorang tukang pijat pun, berniat membantu orang yang dipijatnya. Bila ada honor, baru diniatkan untuk menafkahi diri dan keluarga.

Dengan memiliki motif ini kita akan mendapatkan sekian keutamaan dan keberkahan. Pertama, mengamalkan firman Allah dalam al-Maidah ayat 2 agar kita bekerjasama dalam kebajikan dan takwa.

Kedua, kita akan naik kelas, dari tingkat “hanya memberikan manfaat untuk keluarga” menjadi orang yang “bermanfaat untuk orang lain selain keluarga kita”. Bukankah Nabi menyabdakan, sebaik-baik kalian adalah orang yang paling banyak memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

Ketiga, sesuai hadits riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, dengan membantu orang lain di dunia, kita akan mendapatkan kemudahan dari kesulitan nanti di akhirat. Orang yang pernah memberikan kemudahan kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan, akan mendapatkan kemudahan dari Allah di dunia dan akhirat.

Maka tak dapat dibayangkan keindahan dan kemudahan hidup seseorang yang diberi pertolongan oleh Allah pada dunia dan akhiratnya.

Inilah salah satu resep menjalani hidup dari K.H.R. As’ad Syamsul Arifin. Sangat bermanfaat.

Sementara orang saling sikut, korupsi, menghalalkan segala cara, karena hidupnya hanya untuk mencari LABA dan LABA. Akhirnya dia seperti laba-laba. Seperti Laba-Laba’ itu Bahasa Arabnya Kal ‘Ankabut.

Penulis: Ustadz Faris Khoirul Anam (Dosen Universitas Negeri Malang)