9 Pertanyaan Tentang Santri Baru Versi Santri Milenial

oleh -
7. Uang sakumu sebulan berapa?

Sejatinya, pertanyaan tersebut masuk ranah internal masing-masing santri baru dengan keluarganya. Pastinya setiap santri memiliki “jatah bulanan” yang berbeda-beda. Ada yang sebulan cukup dengan Rp. 100.000.00, ada yang lebih dari tiga kali lipatnya, ada juga yang tidak berbentuk uang, yaitu berupa pasokan sembako yang jika dinominalkan jumlahnya melebihi jumlah total tiga kali lipat uang saku yang sebulannya Rp. 100.000.00. Yang jelas, semua nominal uang saku di atas tidak included dengan uang pangkal atau syahriyyah pondok pesantren. Secara… Zaman now gitu, lho! Eh… Tapi masih ada nggak sih yang uang sakunya included dengan syahriyyah? Gimana tuh manajemen perekonomiannya?

 8. Kamu punya kakak di sini?

Kepo banget, sih? Lantas, kalau aku punya kakak di sini kamu mau ikut audisi jadi kakak iparku, gitu? Pfffttt… Keberanian sekali! Memang kamu sudah hafal berapa juz? Hehehe… Pertanyaan seperti ini sering kali ditanyakan oleh para senior yang rerata sudah duduk di bangku perkuliahan dan menduduki jabatan pengurus pondok pesantren serta sudah masuk usia semester galau. Sambil menyelam, minum air. Alih-alih mengayomi para yunior dengan segala jurus pendekatan, ternyata ada udang di balik batu. Para santri baru yang masih polos akan menjawab jujur dan disinyalisasi akan menjadi agen guna melancarkan misi pembribikan para senior yang kepalang ngebet menjadi kakak iparnya. Klasik!

9. Setelah lulus, kamu mau jadi apa?

Himmah atau semangat yang tulus dari para santri baru yang juga membawa semangat baru akan melahirkan banyak pemikiran yang visioner. Apapun bentuk cita-citanya, yang jelas, sebagai santri baru yang kelak akan menjadi alumni harus bisa memberi manfaat kepada masyarakat sambil mengemban tugas berat menjaga nama baik almamater yang telah memberikan banyak sekali bekal hidup. Ada yang kelak menjadi pengasuh pondok pesantren, muballigh/muballighoh, guru ngaji, pegawai negeri, bertani, berwirausaha, dan berbagai macam perejawantahan cita-cita lainnya. Semoga kita semua dapat menjadi manusia yang memanusiakan manusia dengan segala manfaatnya. Aamiiin…

Yappp! Masa santri baru adalah masa yang penuh dengan pertanyaan dan keimutan serta kepolosan. Setiap santri baru pasti memiliki kesan yang berbeda-beda saat pertama kali memulai kehidupan barunya di pondok pesantren. Ada saja hal yang membuatnya terus mengingat memori tersebut. Baik menyenangkan, membuat galau, bahkan menjengkelkan. Sebenarnya, ada pertanyaan lanjutan yang timbul dari salah satu jenis pertanyaan di atas, “Orang tuamu suka martabak manis atau martabak sayur? Biar nanti aku bawakan kalau sowan”. Sebenarnya juga tidak mau saya tulis di sini. Tapi sudah kadung kamu baca, sih. Ya sudah… (Halah! Sepik maksimal!) (Ala/Now)