9 Pertanyaan Tentang Santri Baru Versi Santri Milenial

oleh -
4. Mau berapa tahun mondok di sini?

Sejalan dengan pesatnya laju zaman, banyak pondok pesantren yang membuka lembaga pendidikan formal. Mulai dari jenjang TK sampai SMA. Hal ini mempengaruhi jawaban para santri baru akan pertanyaan tersebut. Jawabannya bisa tiga, enam, bahkan empat belas tahun merujuk pada lembaga pendidikan formal yang ada di pondok pesantren. Namun tidak bagi santri baru yang sudah dijejali niat “Ngaji sampai mati. Ngaji sampai rabi”. Jiwanya akan terus hidup di pondok pesantren walaupun kelak raganya akan berpisah. Mental seperti ini yang patut dijiplak oleh para #santrizamannow. Status niatnya bisa ditingkatkan menjadi “Pantang pulang mondok sebelum dapat satu Mbak/Kang pondok”, eheee…

5. Apa keluargamu ber-basic pesantren?

Pertanyaan ini kadang menjadi penentu status sosial seorang santri baru yang akan menjalani kerasnya persaingan hidup dalam internal pondok pesantren. Jika berasal dari keluarga yang ber-basic pesantren, si santri akan diunggulkan oleh teman-teman seperjuangannya karena minimal dia sudah lancar bacaan Al-Qur’annya atau sudah familiar dengan bahasa ngaji kitab yang utawi, iki, iku, dan seterusnya. Bagi yang tidak, dia akan berusaha keras agar mendapatkan buah manis yang dia panen dari hasil mondoknya agar keluarganya memiliki dasar agama yang kokoh. Karena pondok pesantren adalah perejawantahan dari syiar agama yang lemah lembut dan mudah diterima oleh semua kalangan.

6. Kamu sudah siap berpisah hidup dengan orang tua?

Fyuuuh! Memang melelahkan mendengar kata tentang perpisahan. Sebenarnya, mondok atau tidak mondok, kelak kita akan hidup terpisah dengan orang tua. Yang tidak mondok, esok akan berkeluarga dan pastinya berpisah hidup dengan orang tua. Maka dari itu, mondok adalah cara yang elegan untuk melatih diri terbiasa hidup terpisah dari orang tua. Agar saat tua nanti kita siap hidup mandiri dan berdikari. Ya, walaupun antara kita dan orang tua terpisah jauh jarak dan waktu, tapi tetap dekat di hati dan transferan yang ditagih sebulan sekali. Tapi, jika kita rajin menagih transferan, maka kita wajib mengirim doa untuk orang tua melebihi nominal transferan yang kita dapatkan. Janji lho, ya!