9 Nasihat Habib Luthfi bin Yahya untuk Para Habib

oleh -
9 Nasihat Habib Luthfi bin Yahya untuk Para Habib
Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan

9 nasihat Habib Luthfi ini secara khusus kepada para Habib atau Sayyid yang tidak menghormati para habib keturunan Wali Songo, yang bersatu dalam marga al-Adzmatkhan al-Husaini.

1. Mbah Kanjeng Sunan Ampel, As-Sayyid Al-Habib Al-Imamul Kabir Al-Ghouts Al-Quthubul Aqthob Ali Rahmatullah Al-Adzmatkhan, yang sering disebut Raden Ahmad Rahmatullah Kanjeng Sunan Ampel, dan Wali Songo lainnnya merupakan pentolan muballigh hebat di Jawa, keturunan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

2. Beliau mendedikasikan hidup dengan mencurahkan jiwa, raga, dan waktunya demi dakwah di tanah Nusantara, khususnya Jawa.

3. Beliau dan para tim Wali Songo adalah pendahulu dalam Islam, karena itu akan “kuwalat” jika tidak hormat bahkan melupakan jasa-jasa para Wali Songo.

4. Saya sering menyaksikan para Habaib yang baru datang dari Hadramaut, jauh setelah Wali Songo wafat, “petentang petenteng”, mengandalkan marga mereka.

a. “Kalian itu siapa?”

b. “Apa jasa kalian di bumi Jawa?”

c. “Leluhur kalian (para habaib / sayyid), datang dari Hadramaut ke negeri ini, Jawa itu sudah banyak Islamnya, dan saat itu Islam di Jawa sudah ada ratusan tahun lamanya.”

d. “Islam di Nusantara adalah berkah perjuangan para wali Allah keturunan Rasulullah dari marga Adzmatkhan. Artinya, kalian cuma numpang enak, terima beres, tanpa susah payah, dakwah tinggal melanjutkan saja, karena sudah dibukakan pintu dan jalan oleh Wali Songo Adzmatkhan, untuk kalian lewati.”

e. “Untuk itu, saya sangat bersedih jika di antara kalian malah mencaci maki keturunan Wali Songo, apa lagi sampai menganggap mereka bukan dzurriyyah Rasulullah.”

f. “Kalian di sini cuma numpang berkahnya Wali Songo dan keturunan mereka. “

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sosok Maulana Habib Luthfi bin Yahya

5. Jadi pesan saya, kalian para Habaib dan Sayyid dari Hadramaut, termasuk saya sendiri, “jangan adigang adigung adiguno” di tanah yang bukan leluhur kita yang membangun.”

6. “Kita wajib Khidmah, ta’dhim, dan hormat terhadap seluruh keturunan Wali Songo. Mereka masih saudara tua kita, mereka bersatu dalam marga al-Adzmatkhan, yang tersebar dan membaur dengan masyarakat asli negeri ini, bahkan Adzmatkhan banyak yang bersembunyi.

7. “Berhati-hatilah kalian dalam bergaul dengan mereka, karena sekali lagi, mereka Saudara yang lebih tua dari kita, dan leluhur mereka lebih dahulu membukakan pintu rahmat Allah di tanah Nusantara ini untuk warga asli dan juga untuk kita selaku saudara pendatang.

8. “Kita semua, yang bukan al-Adzmatkhan di tanah ini hanyalah numpang berkahnya Wali Songo dan semua keturunan Wali Songo.”

9. “Kita sangat “haram” merendahkan mereka, untuk itu kita “wajib” hormat dan tawaduk kepada mereka. Kalau bicara dengan mereka, gunakan “unggah-ungguh Jawa” yang baik dan benar, gunakan bahasa “kromo inggil” khas Jawa.”

Tulisan ini dikutip dari halaman fb Ulamanegeri.