Covid-19 dan Kebiasaan Membaca

oleh -
Covid-19 dan Kebiasaan Membaca

Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (QS. Al ‘Alaq: 1-5)

“Not all readers are leaders, but all leaders are readers.” – Harry S Truman

Sebaran Covid-19 hampir menjangkau seluruh negara di bumi.  Ada awal ada akhir. Seganas apapun Covid-19 wajib dihadapi dan diakhiri. Ada banyak cara yang sudah dan bisa dilakukan antar satu negara dan negara lain. Cara yang efektif ternyata bersifat kontekstual. Namun di antara pilihan yang ada adalah Lockdown (nasional atau lokal), Social Distancing dan Physical Distancing, dan Stay at Home. Ada yang memilih salah satunya, salah duanya, atau semuanya yang disesuaikan dengan kondisi di negara dan daerahnya.

Salah satu pilihan untuk tindakan preventif akan penyebaran Covid-19 adalah Stay at Home. Dengan Stay at Home kita, anggota keluarga, memiliki cukup banyak waktu di rumah. Dengan begitu kita bisa bikin berbagai agenda kegiatan. Yang salah satunya adalah membaca. Kita tumbuhkembangkan budaya membaca. Yang notabane kinerja membaca anak-anak kita rendah sekali, selain matematika dan Sains. Padahal membaca itu menjadi gerbangnya ilmu pengetahuan.

Ada sejumlah alasan, mengapa membaca itu penting dan merupakan kebiasaan yang baik. Gccexchange (2017) menjelaskan alasan-alasan itu di antaranya: (1) membangun karakter, (2) memberi pengetahuan, (3) memperkaya bahasa, (4) menyuapi pikiran, (5) menjaga rasa kedamaian, (6) mendapatkan teman ketika dalam kesendirian, (7) mengurangi rasa bosan, dan (8) bisa membantu tidur secara alamiah. Selain itu bisa saja dengan membaca semakin menyadarkan kita, bahwa ilmu kita itu sedikit dibandingkan dengan ilmu Tuhan. Dengan begitu kita tidak akan pernah sombong, karena tidak ada apa-apanya ilmu yang kita miliki.

Buku yang siap dibaca, bisa buku yang hardcopy, bisa juga yang e-book. Buku yang hardcopy, bisa buku bacaan untuk anak-anak, remaja dan orantia. Bisa buku cerita, pelajaran, ilmu pengetahuan, sejarah, dan agama. Demikian juga bisa koran, majalah, atau journal. Di samping bisa rutinkan membaca kitab suci. Tentu yang tidak kalah pentinghya, membaca berbagai informasi terkait dengan Covid-19, sehingga kita bisa lebih literate, yang tidak hanya literate Covid-19, melainkan juga literate kesehatan yang sangat penting bagi kita ke depan. Buku yang berupa e-book bisa macam-macam jenisnya seperti hard copy, hanya saja kita harus memiliki kemampuan mengakses website yang accesable. Jadi selama stay at home, kita bisa bikin jadwal yang variatif. Yang juga bisa menciptakan iklim baru dalam keluarga.

Baca juga: Wabah Virus Korona, Santri Jangan Songong dan Jangan Panik, Praktikkan Saja Doa Berikut Ini

Ada beberapa cara untuk bisa meningkatkan kebiasaan membaca, salah satu di antaranya : (1) Menyiapkan waktu khusus membaca untuk setiap harinya, (2) Tersedia buku di berbagai tempat untuk memudahkan peroleh buku ketika dibutuhkan, (3) Membuat daftar bacaan buku sesuai dengan kebutuhan, (4) Mengetahui waktu untuk berhenti membaca buku, (5) Menunjukkan antusiasme terhadap buku yang dibaca, dan (6) Menyampaikan isi buku yang habis dibaca kepada orang lain.

Cara ini terutama sesuai untuk kepentingan membaca suatu buku tertentu, yang akhirnya mendapatkan gambaran utuh tentang isi buku. Namun untuk menumbuhkembangkan membaca bagi anak-anak tentu bisa menggunakan cara lain. Misalnya membacakan suatu buku cerita yang dipilih anak atau yang kita pilih, yang cocok untuk anak-anak kita. Jadi menjadikan anak suka membaca bisa dimulai dengan anak-anak mendengarkan kita waktu membaca buku itu.

Dengan stay at home, sebagai konsekuensi dari Covid-19, kita memiliki waktu yang cukup untuk berkontemplasi, sehingga bisa leluasa untuk mencari buku yang kita butuhkan untuk dibaca. Baik untuk memperkaya maupun mendalami pengetahuan kita. Buku-buku yang selama ini kita miliki, belum tentu pernah kita sentuh dan baca tuntas. Dengan kelonggaran waktu dan mengisi waktu untuk hilangkan kebosanan, kita dapat manfaatkan waktu untuk membaca optimal. Di samping kita bisa ikut mengawasi anak-anak untuk tingkatkan minat bacanya.

Akhirnya dengan stay at home, kita tidak hanya melakukan Social and Physical Distancing saja, melainkan juga kita bisa isi waktu untuk kegiatan lain. Utamanya kita bisa manfaatkan waktu untuk membaca banyak hal, baik terkait dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing, tetapi juga untuk kepentingan pribadi, utamanya ibadah dengan banyak baca kitab suci (Al Qur-an, misalnya). Semoga kita bisa petik salah satu hikmah dari Covid-19, yaitu meningkatkan budaya membaca yang merupakan instrumen penting untuk Life long learning.

Penulis: Prof Rochmat Wahab

Tulisan di atas sudah dimuat di website pesantren (dot) i