di , ,

Jurnalisme Santri Milenial Efektif Tangkal Hoaks dan Ghibah

Jurnalisme Santri Efektif Tangkal Hoaks dan Ghibah di Era Milenial
Peserta Praktikum Jurnalistik dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum) UIN Walisongo Semarang foto bersama dengan sang narasumber dan juga Wakil Dekan Rokhmah Ulfah

Semarang – Jurnalisme santri dinilai efektif dalam menangkal hoaks, berita bohong, fitnah, ghibah (menjelekkan orang lain), dan namimah (adu domba atau provokasi) di era digital seperti sekarang ini.

Sebab dalam jurnalisme santri diajarkan akhlak dan aturan main bagaimana menyampaikan informasi baik melalui media cetak, elektronik televisi dan radio maupun melalui media online. Ada nilai-nilai yang harus dipegang teguh yaitu sidiq (menyampaikan kebenaran), amanah (memilih sumber yang dipercaya), tabligh (menyampaikan informasi dengan baik) dan fathanah (menyampaikan dengan bijaksana dan cerdas),’’ ungkap Wartawan senior Agus Fathuddin Yusuf ketika menjadi pembicara Praktikum Jurnalistik dan Public Speaking di Gedung O Fakultas Hukum dan Humaniora (Fuhum) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Kamis (10/10/2019).

Selain Agus tampil sebagai pembicara Ahmad Ridho Pahlewi dari RCT FM Semarang. Wakil Dekan Fuhum Rokhmah Ulfah MAg yang membuka praktikum tersebut menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan atau soft skill bagi mahasiswa. 

“Keterampilan ini bertujuan agar mahasiswa dapat menerapkan ilmu jurnalistik dan public speaking baik secara teori maupun praktik sehingga mahasiswa diharapkan siap menghadapi era digital di masa mendatang,” katanya.

Menurut Ulfah, dengan soft skill tersebut, diharapkan mahasiswa mampu mengkomunikasikan gagasan-gagasan keislamannya sesuai dengan jurusan/prodi masing-masing kepada publik, sehingga pesan-pesan Islam sebagai rahmatan lilalamin tersebar dan dipahami oleh publik atau netizen.

Baca juga:

Karena itu, karya jurnalistik yang dihasilkan bersifat mencerahkan dan membahagiakan di era milenial. Tujuan Public Speaking, mahasiswa piawai berbicara di depan publik dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang bisa membuat pendengarnya tercerahkan dan terbahagiakan berkat diksi-diksi yang diucapkan saat berpidato.

Agus Fathuddin dalam paparannya juga mengajak komunitas pondok pesantren terdiri para santri, kiai dan ibu nyai serta warga di lingkungan pondok pesantren mengembangkan media untuk kepentingan syiar dakwah.

Pondok Pesantren dan madrasah di dalamnya idealnya juga mengembangkan surat kabar, majalah, tabloid, televisi, radio, media online (internet) dan lain-lain sesuai trend konvergensi media atau media berjaringan, tegasnya.

Menurut santri alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah, Suburan Mranggen Demak itu, dengan disahkannya Undang-undang Pondok Pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia harus berbenah diri menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia masa depan dengan berbagai keterampilan, sarana dan prasarana yang memadai termasuk media massa.

Agus yang juga dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang itu merasa bangga karena beberapa pondok pesantren besar di Indonesia sudah menyiapkan SDM di bidang teknologi informasi dengan baik. Dia menyebut pondok pesantren Al-Anwar, Sarang Rembang, pondok pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, pondok pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen Margoyoso Pati, pondok pesantren API, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, pondok pesantren Al-Hikmah2, Benda Sirampog, Brebes, pondok pesantren Futuhiyyah, Suburan, Mranggen, Demak dan pondok pesantren Besongo Daarul Falah, Ngalian, Semarang.

Ke depan, pondok pesantren harus punya televisi, radio, majalah, surat kabar, media online dan lain-lain. Semua ini untuk menopang dan mendukung kejayaan NKRI di masa depan, katanya.

Agus Fathuddin dalam materi berjudul Jurnalistik Santri sebagai media informasi yang mencerahkan dan membahagiakan di era milenial mengatakan,  masyarakat saat ini seringkali mengalami kebingungan ketika menerima berbagai macam informasi terutama melalui dunia maya.

Baca juga:

Budaya ‘tabayyun’ atau konfirmasi mencari kebenaran seharusnya diterapkan dalam menghadapi maraknya berita-berita hoax saat ini yang berpotensi memecah belah umat. Menurutnya, jurnalistik santri bertujuan untuk mensinergikan jiwa santri (keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiah, dan kebebasan) terhadap dunia jurnalistik yang ada saat ini dengan tetap berpegang pada fungsi pers secara umum yaitu informasi, edukasi, koreksi, rekreasi, dan mediasi.

Mahasiswa atau santri diharapkan dapat mengisi ruang-ruang di media sosial dengan konten-konten yang memiliki nilai kebaikan dan kebenaran. Bahkan mahasiswa dan santri diharapkan dapat mengajak para kiai atau pimpinan pondok pesantren untuk memperluas dakwahnya melalui berbagai media massa yang ada saat ini. 

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Wakil Dekan I Fuhum Dr Sulaiman MAg menjelaskan peserta kegiatan itu mahasiswa angkatan tahun 2016. Para mahasiswa selain mendapatkan ilmu, mereka juga akan memperoleh sertifikat yang merupakan salah satu syarat wajib daftar ujian komprehensip. (Mus/ASO)

BAGAIMANA MENURUT KAMU?