di , ,

Bagaimana Kronologi Terjadinya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945?

Bagaimana Kronologi Terjadinya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945?

Surabaya – Setelah Indonesia diproklamirkan, 17 Agustus, pemerintah belum memiliki kas untuk menjalankan roda pemerintahan, tidak punya angkatan perang, dan sebagian rakyat, khususnya para ulama, juga masih bingung mengenai status negara baru: sah secara fiqh, kah? Bagaimana hukumnya mempertahankan kemerdekaan republik? Bagaimana jika ada yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan? Mati Syahid, kah?

Beberapa pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Kiai Hasyim Asy’ari tepat satu bulan setelah proklamasi, yaitu tanggal 17 September 1945, dengan “fatwa jihad”-nya. Wajib hukumnya mempertahankan kemerdekaan; mereka yang gugur dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dihukumi masti syahid; siapapun yang berkhianat wajib dibunuh.

Satu bulan setelahnya, tatkala desas-desus kembalinya Belanda yang membonceng Sekutu menguat, para ulama mulai bergerak. Ulama se-Jawa dan Madura digerakkan melalui jejaring Nahdlatul Ulama dan berkumpul di Kantor PBNU di Bubutan, Surabaya.

Resolusi Jihad diteken tanggal 22 Oktober, disebarkan serentak pada hari itu juga untuk memobilisasi massa di berbagai daerah, dan diberitakan oleh Kedaulatan Rakjat tanggal 26 Oktober.

24 Oktober, tentara Inggris dari Brigade 49 merapat di Tanjung Perak. Jumlahnya 5000 pasukan. Sebagian besar dari satuan Rajput dan Mahratta dari India. (Adapun kesatuan Gurkha barui diterjunkan pada bulan November).

Keesokan harinya mereka mendirikan pos pertahanan di berbagai gedung vital di Surabaya. Suasana memanas. 26, 27, 28, dan 29 Oktober terjadi tawuran massal antara rakyat dengan prajurit Inggris. Rakyat dengan senjata seadanya, Inggris dengan senjata lengkap. Tapi Inggris malah kewalahan. Jenderal Mallaby menelepon bosnya, Jenderal Philip Christison di Jakarta, agar melobi Sukarno supaya bisa meredam perlawanan arek-arek Suroboyo.

Baca juga:

Sukarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin datang. Tapi tidak sanggup mengendalikan rakyat Surabaya. Akhirnya menyerahkan sepenuhnya kepada komandan lapangan.

30 Oktober, Mallaby tewas. Inggris ngamuk. 24 ribu pasukan Inggris disiapkan untuk menggempur Surabaya diiringi serbuan dari laut dan udara. Jenderal Mansergh meminta agar rakyat Surabaya menyerahkan pembunuh Mallaby, menyerahkan senjata yang dimiliki, serta menyerah dengan tangan di belakang kepala di pos-pos pertahanan Inggris. Ultimatum yang menghina hargadiri rakyat Surabaya.

Di sisi lain suara Bung Tomo semakin sering mengudara. Mengaduk-aduk emosi dan semakin membuat Surabaya memanas.

“Mas Tom, saya ini kan orang Kristen. Tapi kenapa waktu itu kalau mendengar Mas Tom mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, saya ini rasanya lupa semua. Saya tinggalkan segalanya untuk pergi berjuang.” ungkap dokter Siwabessy, veteran 45, kepada Bung Tomo.

“Karena anda mengetahui artinya Allahu Akbar (Allah Mahabesar) itu, maka Anda telah meninggalkan segalanya pergi berjuang.” jawab Bung Tomo, sebagaimana saya kutip dari memoarnya, “Bung Tomo Menggugat: Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik (1955-1980)” (Jakarta: Visimedia, 2008).

Kabar Fatwa dan Resolusi Jihad yang digetuktularkan, mempengaruhi semangat kaum santri. Konsolidasi dan mobilisasi dijalankan. Sebagian besar mereka bersenjata tradisional: kelewang, keris, tombak, parang, bambu runcing dan seterusnya, sisanya bawa karaben hasil rampasan senjata Jepang. Sebagian berjalan tanpa alas kaki menuju Surabaya. Ada juga yang berdatangan dari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Surabaya menjadi titik balik perlawanan.

Komisaris Jenderal Polisi Muhammad Jasin, pemimpin pasukan Polisi Istimewa, mengenang suasana membanjirnya massa dari pesantren ini dalam memoarnya, “Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang” (Gramedia: 2010). Demikian pula dengan Des Alwi Abubakar melalui “Pertempuran Surabaya November 1945” (BIP: 2012), dan Hario Kecik dalam “Pertempuran Surabaya” (Abhiseka Dipantara: 2012).

Tidak heran jika William Frederick (1989) menyebut Pertempuran Surabaya sebagai pertempuran paling nekat, destruktif, dan mengerikan, jauh dari yang dibayangkan Sekutu maupun pihak Indonesia. Jenderal Mansergh memprediksi Surabaya bakal jatuh dalam waktu 3 hari. Kenyataannya, para pejuang baru mundur ke luar Surabaya setelah bertahan hampir satu bulan.

Bung Tomo itu bukan bagian dari kalangan santri. Mengapa dalam pidatonya ada pekik takbir? Sejak kapan Bung Tomo akrab dengan keluarga Kiai Hasyim Asy’ari?

Pekik takbir di akhir orasi itu atas saran Kiai Hasyim. Sebab hanya takbir dan pekik merdeka yang bisa menjadikan orasi radio Bung Tomo lebih hidup dan atraktif. Sebagai wartawan Domei, kantor berita Jepang, Bung Tomo beberapa kali mengujungi Tebuireng untuk kepentingan propaganda. Di kemudian hari, Bung Tomo bersama KH. A. Wahid Hasyim juga menjadi penasehat Panglima Besar Sudirman. Fix!

Baca juga: Santri Milenial Jangan Lupa Tentang Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional 22 Oktober, Catat

BAGAIMANA MENURUT KAMU?