Trailer Film The Santri dan Respon Instan Para Pembenci

oleh -

Cirebon – Trailer Film The Santri karya Live Zheng dan NU Channel sudah tayang beberapa hari yang lalu. Dan tidak butuh waktu lama, trailer film ini dapat hujatan dari para tokoh yang diduga berasal dari para pembenci Nahdlatul Ulama. Sehingga film ini menjadi kontroversial publik di media sosial bahkan ada yang menyatakan boikot.

Karenanya para pegiat media yang berafiliasi dengan NU tentu tak tinggal diam begitu juga dengan para tokohnya. Salah satu tulisan yang menarik untuk kita baca adalah tulisan K.H. Imam Jazuli. Lc. MA, silahkan baca sambil hingga tuntas:

Paham radikalisme tidak pernah surut. Ideologi Islam radikal; takfiri, tadhlili, terus berganti wajah. Terus diteriakkan, sekali pun sudah di luar nalar kewajaran. Termasuk dengan melontarkan tuduhan adanya pemurtadan melalui film The Santri, besutan sutradara Livi Zheng yang didukung NU Chanel. Hanya karena perbedaan pendapat seputar hukum ikhtilat, santri masuk gereja dan “percintaan” dunia remaja?

Ustad Maheer Atthuwailibi Jakarta, ustad Yahya al-Bahjah Cirebon, dan ustad Luthfi Bashori Malang, adalah contoh kecil orang-orang yang menuduh ada pemurtadan dalam film The Santri. Dalam kasus Film The Santri, tiba-tiba saja mereka menjadi ahli dan kritikus film. Cukup bermodal bahan trailler dan setumpuk kebencian dalam dada, jadilah mereka kritikus yang lantang. Bahkan, mereka sepakat memboikot penayangan film ini.

Bukti yang banyak mereka soroti adalah cuplikan adegan santriwati menyerahkan nasi tumpeng kepada orang di gereja. Dengan argumen sekenanya, mereka menuduh itulah sarana pemurtadan film The Santri. Tuduhan tidak saja ‘ghuluw’ atau berlebihan melainkan melampaui keputusan para ulama dari berbagai mazhab. Padahal, empat mazhab sepakat bahwa muslim masuk gereja tidak murtad.

Memang benar sebagian ulama mazhab Syafi’iyah dan Hanafiyah mengharamkan muslim masuk gereja. Pendapat tersebut dikeluarkan oleh, di antaranya, Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj, 2/424), Syihabuddin ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj, 2/63), Qalyubi dan Umairah (Hasyiatu Qalyubi wa Umairah ala Syarhi al-Mahalli ala Minhajit Thalibin, 4/236).

Alasan ulama mengharamkan muslim masuk gereja adalah karena di dalam gereja terdapat setan (Ibnu Najim, Bahrur Raiq, 7/364). Namun, hukum haram tidak lantas membuat pelakunya menjadi murtad. Misal, daging babi haram. Tapi, muslim memakan daging babi tidak menjadi murtad.

Baca juga: Trailer Film The Santri Hari Ini Sudah Tayang

Karena hukum haram memiliki ‘illat, maka ulama lain mencoba memberikan batasan, yakni hanya jika di dalam gereja terdapat gambar dan patung Yesus, bunda Maria, dan lainnya. Jika illat hukum ini tidak ada maka boleh muslim masuk gereja (Abdus Salam bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, 5/327).

Illat hukum ini berlaku tidak saja di dalam gereja. Tapi berlaku secara umum, termasuk di dalam rumah orang muslim sendiri. Hadits riwayat Ibnu Abbas mengatakan, “jika Nabi saw. melihat ada gambar di dalam rumah maka beliau tidak masuk hingga gambar itu dihapus/diturunkan,” (HR. Bukhari).

Illat inilah yang menjadi pedoman bagi mazhab Hanbali, dengan mengatakan bahwa muslim masuk gereja itu makruh dan bukan haram. Apalagi berlebihan dituduh murtad. Bahkan, apabila orang-orang muslim merasa tidak terganggu oleh adanya gambar dan patung dalam gereja, seperti tidak terpengaruh oleh lukisan penghias dinding di rumah, maka hal itu boleh. Jika masuknya karena keperluan penting, seperti musyawarah untuk mufakat, atau kunjungan yang memang diperlukan dalam rangka mempererat persaudaraan dan toleransi, maka hukumnya biasa saja menjadi baik.

Ulama Hanbali melihat celah nalar tersebut. Sehingga, mereka memberi hukum yang lebih ringan dibanding hukum makruh, yakni hukum mubah atau jaiz. Artinya, muslim boleh masuk gereja sekali pun ada gambar dan patung di dalamnya. Hukum jaiz tersebut dapat dilihat dalam pendapatnya Ibnu Qudamah (al-Mughni, 8/113), Sulaiman al-Marsawi (al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih minal Khilaf, 1/496), dan Ibnu Hazm ad-Dhahiri (al-Mahalli, 1/400).

Membolehkan umat muslim masuk gereja memiliki alasan kuat. Para ulama selain berdalil pada hadits juga berdalil berdasar peristiwa sejarah. Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah memerintahkan umat Nashrani untuk membangun gereja-gereja mereka dengan ukuran yang lebih besar dan lebih luas. Tujuan kebijakan politik Umar ra tersebut adalah agar umat muslim bisa masuk ke dalam gereja dan tidur menginap di sana (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Peristiwa sejarah lain serupa terjadi saat penaklukan Negeri Syam. Pada saat itu, Umar ra dan Ali bin Abi Thalib berangkat ke Syam untuk menyaksikan kota yang baru tunduk itu. Untuk menyambut kedatangan sang Khalifah, umat Nashrani memasak masakan paling lezat untuk hidangan khalifah. Ketika hidangan siap santap, Ali bin Abi Thalib tidak melihat Umar. Dia bertanya: “kemana Umar?” Orang-orang menjawab: “beliau di dalam gereja.”

Awalnya Ali menolak ikut masuk ke gereja. Tetapi, Umar berkata: “pergilah bersama yang lain!” Ali pun mengikuti saran Umar, ia masuk ke dalam gereja, dan ikut makan bersama orang-orang Nashrani. Di dalam gereja, Ali bin Abi Thalib melihat-lihat seni ukir dan lukisan umat Nashrani itu (Ibnu Qudomah, al-Mughni, 8/113).

Kebolehan masuk gereja didukung oleh Lajnah Da-imah lil Buhuts al-Ilmiah wa al-Ifta’. Muslim boleh (jaiz) masuk ke dalam gereja dengan catatan untuk tujuan toleransi (at-tasamuh), memperkenalkan wajah Islam yang damai supaya mereka cinta Islam, tidak ikut-ikutan melakukan ibadah gereja, dan tidak khawatir terpengaruh oleh ajaran gereja (Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiah wal Ifta’, Riyadh: Darul Muayyid, 1424 H., 2/115).

Sudah menjadi rahasia umum, para ulama Timur Tengah, terutama grand syeikh al-Azhar, terbiasa masuk gereja. Mereka duduk bersama dengan Paus dan bapak gereja lainnya. Jika masuk ke dalam gereja disebut pemurtadan, maka sungguh hal itu lebih terlihat sebagai kebencian atas nama agama dari pada membela agama dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan.

Baca juga: Film The Santri 2019 Bukti Pesantren Punya Artis

Kritik lain yang kesannya berlebihan (ghuluw) dari berdasar pada ilmu agama adalah tentang ikhtilath. Mereka mengkritik adegan para santriwati dan santriwati di suatu tempat yang sama. Selain pemandangan seperti ini hal lumrah terjadi di banyak pesantren tradisional, banyak ulama juga membolehkan ikhtilat, apalagi di dalam lembaga pendidikan. Dr. Abdul Masih Sam’an, Dosen Universitas ‘Ain Syam sekaligus ulama Kuwait, bahkan mengatakan bahwa ikhtilath antara perempuan dan laki-laki di lembaga pendidikan merupakan keharusan (la budda).

Menurutnya, negara-negara yang melarang ikhtilath jauh lebih potensial memancing kerusakan akhlak. Sebaliknya, pembiasaaan ikhtilath sejak madrasah ibtidaiyah akan mengurangi dampak buruk tersebut. Dengan alasan yang sama, Dr. ‘Adil al-Madani, seorang dosen ilmu psikologi Universitas al-Azhar, Kairo, malah melihat ikhtilath di lembaga pendidikan harus dilakukan sejak usia dini (ALWATAN,18/1/2012).

Hadits yang digunakan para ulama adalah riwayat Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rasulullah saw naik ke mimbar dan bersabda: “sejak hari ini tidak boleh ada lelaki masuk ke mughibah (perempuan bersuami yang suaminya sedang pergi-pent.) kecuali ia bersama seorang laki-laki lain, atau bersama dua perempuan di sampingnya,” (HR. Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Hibban).

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, ia mengatakan: “Rasulullah saw mendatangi Ummu Haram binti Mulhan, lalu Ummu Haram menyuguhkan makanan pada beliau dan menyisir rambut beliau. Kemudian Rasulullah saw tertidur. Setelah bangun, Rasulullah tertawa. Ummu Haram bertanya: ‘apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasul?’ Rasul bersabda: ‘umatku maju ke medan tempur, mereka menunggangi kuda seperti gelombang laut,” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits-hadits di atas tidak saja mendukung bolehnya ikhtilath, bercampurnya laki-laki dengan perempuan dalam batas yang kewajaran, tetapi juga menjadi dalil bagi bolehnya perempuan menyisiri rambut laki-laki bukan muhrimnya. Mungkin karena melihat ada kelonggaran hukum ikhtilat disini, sebagian para kiai masih membiarkan santriwan dan santriwatinya campur dalam satu kelas, sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dicurigai secara berlebihan.

Memang, kritik yang didasari kebencian dan bukan semata ilmu pengetahuan, menyisakan banyak celah. Hal itu terlihat pula saat mereka memaknai alur percintaan (love story) dalam film The Santri dengan mengabaikan prinsip penting yang secara jelas-jelas tertulis pada layar kaca dalam thriller film itu, yakni “friendship”. Kata lain friendship adalah ukhuwah atau persaudaraan.

Adegan penyerahan buku oleh santri putra kepada santri putri sebelum berangkat ke Amerika adalah ikatan ukhuwah. Sehingga ‘love story’ hanyalah bumbu film, dan tidak lebih dari sekadar pemanis. Film tanpa kisah cinta akan terasa kering dan tidak menyentuh. Apalagi benih cinta bukan perkara dosa, bukan aib, apalagi menjadi pembusukan akhlak.

Sebaliknya, cinta adalah watak alamiah manusia, dan bekal spiritualitas. Maulana Rumi dalam sebuah risalah cintanya mengutip sebuah hadits. Pada waktu itu, seorang sahabat duduk di samping Nabi. Tiba-tiba seorang tokoh pembesar dari sukunya keluar dari arah masjid. Sahabat itu berkata pada Nabi, “wahai Rasul, saya kagum pada dia!” Jawab Nabi, “ungkapkanlah!”. Kagum di sini adalah bentuk persahabatan (friendship).

Pergeseran wacana ke ranah seni memang menarik. Tempo hari, Ustad Abdul Somad (UAS) mengkafir para penggemar K-Pop dan film drama Korea. Sekarang, ustad-ustad milenial ini mengkritik film. Modal mereka tetap sama, ideologi takfiri dan tadhlili, pengkafiran dan tuduhan sesat terhadap kelompok lain, sekalipun di luar kapasitas intelektual mereka.

Film adalah satu dimensi intelektualitas yang menggabung banyak aspek, seperti seni akting, pentas, koreografi, bahkan lighting dalam pengambilan gambar, pembuatan teks skenario, dan lainnya. Ranah kesenian adalah dunia lain di luar kapasitas ustad-ustad milenial tersebut. Syeikh Muhammad Qutub mengatakan, al-fann al-islami laisa bid dhorurah. Kesenian dalam Islam bukan perkara substansial (Muhammad Qutub, Minhajul Fann al-Islami, Beirut: Dar as-Syuruq, 1983, h. 6).

Artinya, seni Islami bukan ranah agamawan. Sebaliknya, Muhammad Qutub menekankan bahwa seni Islam mempertahankan dua hal: al-Jamal (aspek estetika) dan al-Haqq (aspek kebenaran). Estetika adalah al-haqiqah fi hadzal kawn, substansi kehidupan. Sedangkan kebenaran adalah dzurrah al-jamal, inti keindahan (Muhammad Qutub, Minhajul Fann al-Islami, 1983: 15 dan 71).

Baca juga: Jadwal Film The Santri Akan Tayang pada Bulan Berikut Ini

No More Posts Available.

No more pages to load.