Tradisi Hari Asyuro Umat Muslim Indonesia dan Masyarakat Arab Jahiliyyah

oleh -
Tradisi Hari Asyuro Umat Muslim Indonesia dan Masyarakat Arab Jahiliyyah
Gambar: Pawai Santri di Malam 1 Muharrom 1441/2019

SantriNow – Hari Asyuro yang dimaksud dalam istilah orang Indonesia khususnya orang Jawa dan Madura adalah tanggal 10 Muharrom yang pada tahun ini bertepatan dengan 10 September 2019. Kata Asyuro sebenarnya hitungan hari dalam bahasa Arab Asyuro’ (عاشوراء ) yang berarti hari ke-10 dari bulan Muharram menurut Kalender Hijriyah, yang kemudian dijadikan bahasa lokal menjadi “Hari Asyuro,”.

Allah menyatakan Bulan Muharrom adalah salah satu bulanNya (Syahrullah).

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36).

Dalam sejarah bangsa Arab Jahiliyyah, kerap sekali mengacaukan urutan bulan haram. Padahal, pada empat bulan haram itu sudah ditetapkan agar tidak dilakukan perang. Namun, masyarakat Arab melanggarnya dan melakukan perang di bulan Muharram dengan mendahulukan atau mengakhirkan bulan haram. Di sini, mereka menghalalkan satu bulan haram dan mengharamkan bulan yang lain sebagai gantinya.  

Allah berfirman, “Sesungguhnya pengunduran (bulan Haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Oleh setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS at-Taubah: 37).

Baca juga: Sejarah Kalender Hijriyah dalam Islam

Tradisi Islam Indonesia

Kita tahu, bahwa dalam sejarah perkembangan Islam, 10 Muharrom juga merupakan hari duka dimana pada hari itu terjadi pembantaian Sayyidina Husain bin Ali yang tak lain adalah cucu dari Nabi Muhammad SAW dalam peperangan Karbala tahun 61 H (680). Sehingga dalam tradisi sebagian umat islma di Hari Asyuro tidak boleh menantu.

Di dalam tradisi Islam Indonesia khususnya Jawa dan Madura, di Bulan Muharrom tidak orang ada orang kawin atau menikah karena dianggap hari yang kurang baik. Yang mana menurut sebagian Ulama Nusantara tradisi itu sebenarnya dalam rangka menghormati Sayyina Husain bin Ali yang meninggal dalam pertempuran Karbala.

Bahkan di Yogyakarta, 1 Suro atau tepat di tahun baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriah yang jatuh tanggal 1 September 2019, pada siang harinya mereka puasa bisu dan di malam hari mereka menyucikan dirinya berikut benda-benda yang diyakini sebagai pusaka.

Sementara di Keraton Surakarta pada malam 1 Suor ada tradisi kirab pusaka atau mengarak berkeliling pusaka kerajaan. Yang kemudian dalam puncak acara di Keraton ada kirab Kerbau Bule milik keraton yang hingga tengah malam.

Di Minangkabau ada yang namanya tradisi Tabuik (Tabut) yaitu perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad. Dan istilah Tubaik bagi masnyarakat pantai Sumatra Barat, khususnya di Kota Pariaman adalah keranda yaitu alat yang digunakan untuk ngusung jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut.

Tradisi semacam ini tentu saja bukan sesuatu yang tanpa dasar. Karena secara bahasa, bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah dimana Muharram sendiri memiliki arti ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’, yaitu dilarang berperang atau bertempur. Karenanya Bulan Muharram betul-betul istimewa.

Jadi, yang perlu dipertegas disini adalah bahwa tradisi tidak mantu, tidak buat rumah di Bulan Muharrom yaitu dalam rangka menghormati cucu Rosulullah. Sementara terkait tradisi tidak bersolek, puasa bisu, memandikan pusaka dan mengarak kerbau, itu juga dalam rangka menjalankan sunnah Nabi. Artinya menjaga perkataan buruk, dan menjaga perdamaian antar umat.

Baca juga: Pribumisasi Islam (Syarah Islam Nusantara)

Sunnah Berpuasa di Hari Asyuro

Berpuasa di Hari Asyuro atau 10 Muharrom Kesunnahan berpuasa di Bulan Muharram menjadi salah satu ajaran penting Agama Islam. Pada bulan Muharram, umat muslim sunnah berpuasa tepatnya di tanggal 10 bulan Muharram. (*)

Penulsi: Muhyiddin