Momen Hari Santri Nasional 2019 “Santri Ulama untuk Perdamaian Dunia”

oleh -
Momen Hari Santri Nasional 2019 “Santri Kader Ulama Pencarah Dunia Masa Depan”

SantriNow – Peringatan Hari Santri Nasional 2019 sudah di depan mata, karenanya sebagai generasi pengikut ulama sudah selayaknya menyambut perayaan ini dengan suka cita dan dengan hati gembira serta tak lupa mendoakan para ulama yang sudah berjuang melawan para sekutu Belanda untuk merebut kembali kemerdekaan pada pada 25 Oktober 1945 di Surabaya. Karenanya sebelum itu terjadi pada 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari berkumpul bersama para ulama yang lain, dan mengumumkan perang melawan sekutu.

Hari ini, 22 Oktober dijadikan sebagai Hari Santri Nasional yang tujuannya tiada lain yaitu untuk mengingat sejarah perjuangan para ulama masa silam sekaligus meneladani mereka. Lahirnya film The Santri sebagai wujud kreasi anak pesantren sebagai pengikut ulama untuk selalu menjunjung tinggi nilai seni budaya lokal, serta menebarkan cinta kasih kepada semua golongan dan senantiasa menjaga NKRI.

Baca juga:

Ok, kita kembali kepada tema awal yaitu Santri sebagai kader ulama yang akan menjadi mercusuar perdamaian dunia di masa depan. Sebagaimana tema yang diusung dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) hari ini yaitu “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Tentu tema ini tidak berlebihan, mengapa? Karena dalam khazanah perjalanan model atau corak muslim ala santri di Indonesia selalu mengedepankan perdamaian, kalau dalam istilah Nahdlatul Ulama yaitu, Islam yang tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

I’tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8).

Tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, “Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir’aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah”. (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, juz III hal 206).

Dengan modal empat pilar itu, santri sebagai generasi ulama atau penerus ulama bukan tidak mungkin akan menjadi mercusuar Islam Dunia di masa mendatang. Dan hari ini sudah mulai kita lihat bagaimana negara muslim dunia melihat cara berislam orang indonesia terutama model islam yang digaungkan Nahdlatul Ualama yaitu Islam Nusantara yang menjunjung tinggi akhlak yang terpuji.

Salah satu contoh riel yang sangat ingin menjadikan Islam di negaranya sama seperti umat muslim Indonesia adalah  Afghanistan. Kita tahu Afghanistan merupakan negara konflik yang berkepanjangan. Konflik berkepanjangan di Afghanistan ini tidak saja menelan korban jiwa dan luka-luka serta hancurnya infrastruktur, tetapi juga runtuhnya kepercayaan pada sesama. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertemukan kelompok-kelompok yang bertikai.

Lewat konsep Islam Nusantara, yang merupakan pengejawantahan praktik Islam yang moderat, toleran dan tidak menggunakan kekerasan itu, pada Juni 2014 dibentuklah “NU-Afghanistan” atau NUA. Hingga Juni 2019 ini NUA sudah dibuka di 22 dari 34 provinsi di seluruh Afghanistan dan didukung oleh lebih dari 6.000 ulama.

Makanya tidak salah bila KH Maimun Zubair sebelum wafatnya juga sempat berpesan kepada mantan Ketua Ansor Nahdlatul Ulama Nusron Wahid bahwa peradaban Islam akan datang dari Indonesia. Tentu saja yang dimaksud Mbah Moen sapaan akrab KH Maimun Zubair pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang ini adalah Islam yang bisa membawa perdamaian dunia yaitu Islam Nusantara.

Karenanya, mari santri sebagai generasi ulama harus terus berbenah, introspeksi diri dan terus belajar dan belajar. Mari santri jangan menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Apalagi sampai ikut-ikutan menghasut, mencela, mencaci maki sebagaimana kelompok-kelompok yang selama ini suka mengadu domba, menyebarkan hoak segala macam.

Santri generasi millennial dituntut untuk selalu berkarya sebanyak-banyaknya. Jangan sampai media sosial seperti facebook, twitter dan lainnya dikuasai oleh kelompok-kelompok yang hanya ingin menodai corak Islam Indonesia di mata dunia. Selamat menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019. (*)

Penulis: Musthofa