Metode Baca Kitab Kilat ala Pesantren Sidogiri

oleh -
Metode Baca Kitab Kilat ala Pesantren Sidogiri
Gambar salah satu santri kecil Pesantren Sidogiri tengah membaca kitab Fathul Qorib

Pasuruan – Metode baca kitab secara cepat kian hari kian memikat kalangan pengasuh pesantren salaf dan madrasah diniyah di Indonesia khususnya di Jawa. Meskipun ini bukan isu baru di kancah para pemangku pesantren namun hingga hari ini metode baca kitab kuning untuk para santri pesantren selalu menjadi menarik. Karena sampai sekarang beberapa pesantren di Indonesia masih kesulitan menerapkan suatu cara agar santri-santrinya mudah membaca kitab yang tanpa harkat dan makna tersebut.

Belakangan ini di Jawa Timur muncul beberapa metode yang dibuat khusus untuk menjawab atas kesulitan para pengajar kitab kuning bagi santri pemula untuk menjadikan santri-santrinya mahir baca kitab kuning. Dan metode yang ditawarkan ini pun sangat mudah dan mengasyikkan, karena dari sekian metode yang diterapkan penuh dengan nyanyian dan permainan.

Baca juga: Rumus Membaca Kitab Kuning Termutakhir

Di Pesantren Sidogiri misalkan, pesantren ini sudah 10 tahunan menerapkan metode cepat baca kitab kuning ini kepada santri-santrinya. Dimana santri-santri baru yang mondok di pesantren tersebut akan didoktrin agar mampu baca kitab kuning dalam jangka waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar 5 hingga 6 bulan. Mereka menamai metodenya tersebut dengan sebutan Al-Miftah Lil Ulum.

Tentang metode al-Miftah

Metode yang dikarang dan dikembangkan oleh Ustadz Qusyairi ini lengkap dengan kitabnya yang terdiri dari 4 jilid ditambah 2 buah kitab sebagai pelengkapnya yaitu tashrifan dan nadzaman. Kitab itu pun diberi nama yang sama yaitu al-Miftah Lil Ulum. Isinya adalah gramatika arab yaitu nahwu dan shorrof serta nadzam dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan tulisan pegon dan sebagian berbahasa daerah. Nadzam tersebut berfungsi sebagai kaidah dari gramatika nahwu dan shorrof yang dipermudah sehingga sangat mungkin untuk dihafal secara cepat.

Sudah ribuan santri kecil yang diwisuda baca kitab Fathul Qorib berkat metode Al-Miftah ini. Metode al-Miftah sebenarnya menerapkan sistem modul yaitu antara santri yang memiliki IQ tinggi, sedang dan rendah dipisah.

Dalam pengajarannya, para santri pemula hanya difokuskan pada satu kitab saja yaitu kitab Al-Miftah Lil Ulum. Artinya santri hanya fokus belajar al-Miftah dalam sehari semalam.

Alhasil Metode Al-Miftah yang diperkenalkan Pesantren Sidogiri Assalafi ini cukup membantu kepada para pengajar kitab kuning agar-agar santri-santrinya dengan mudah bisa baca kitab kuning. (Mus)