Kisah Gus Dur dan BJ Habibie Pidato di Depan Santri Madura

oleh -
Kisah Gus Dur dan BJ Habibie Pidato di Depan Santri Madura
Gambar: KH Abdurrahman Wahid dan BJ Habibie

SantriNow – Sosok KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tidak mungkin dilepaskan dari orang Madura. Maksud saya tentu bukan dengan Mahfud MD, tapi orang Madura sebagai kolektifitas etnis, kultur yang khas yang dekat dengan kepribadian, dunia dan cara pandang seorang Abdurrahman Wahid.

Kita semua mafhum bahwa suku Madura sangat dekat dengan NU. Saking dekatnya, untuk sebagian mereka NU itu bukan ormas, tapi agama itu sendiri. Suku Madura adalah salah satu suku yang meproduksi ulama-ulama top NU yang dikenal memiliki kharisma besar dan kondang di seantero tanah air, seperti mBah K.H. Cholil Bangkalan. Orang-orang Madura bisa disebut sebagai “homo economicus” par-excellence dalam dunia perdagangan, sebuah okupasi yang juga melekat dengan NU.

Orang Madura dikenal sangat mencintai para Ulama dan Kyai mereka, sehingga kalau sudah urusan yang satu ini orang Jawa yang paling NU pun rasanya kalah. Tak heran kalau orang non- Madura belum ada yang hobby vitamin K alias ziarah kuburan para wali bisa menyamai orang Madura. Gus Dur dan saya berpendapat orang Madura memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan mengantisipasi dan merespon krisis dengan cepat. Stereotype orang Madura adalah pemberani, angker dan pemberang, protektif terhadap keluarga dan harga diri, tetapi juga sangat sentimentil kalau sudah berurusan dengan agama (mengingatkan saya kepada orang- orang dari Sicilia, Italia). Last but not the least, orang Madura sangat mencintai kampung halamannya.

Itulah sebabnya Gus Dur selalu mengagumi hal-hal yang ada kaitannya dengan Madura, dengan cara beliau yang khas. Yaitu beliau sering menampilkannya dalam humor-humor yang di luar tampaknya meledek dan kritis namun sejatinya terbersit suatu kekaguman dan pembelajaran. Gus Dur mengekspressikan kecintaan beliau terhadap Madura dan budayanya memalui humor yang mungkin kedengaran ugal-ugalan, tetapi saya menangkapnya sebagai rasa penghormatan. Tak pelak, memahami Gus Dur tak akan lengkap tanpa mengenal humor beliau tentang Madura yang jumlahnya mungkin hanya bisa disamai dengan humor Gus Dur tentang bangsa Yahudi.

Baca juga: Aroma Haul Gus Dur Kembali Datang dari Ciganjur

Menurut pandangan saya sampai sekarang orang-orang Madura dari segala lapisan belum ada yang merasa dilecehkan oleh guyonan Gus Dur tentang mereka, apalagi protes karena merasa dicemarkan nama baiknya. Paling-paling juga ada yang mringis aja sambil memaklumi keanehan Gus Dur. Yang banyak terjadi justru Gus Dur sering “kulakan” humor-humor tentang orang Madura dari mereka sendiri!

Guyon Madura Gus Dur sudah sangat banyak beredar di publik dan kayaknya hampir tiap minggu bertambah banyak! Saking banyaknya, mungkin sudah ada buku tersendiri dan memang itulah salah satu hal yang membuat Gus Dur mengagumkan. Karena itulah saya tidak akan berpretensi bisa menyajikan guyonan Madura Gus Dur yang “baru”, tapi hanya yang ada kenangannya tersendiri buat saya pribadi. Misalnya yang satu ini:

Ketika baru saja diangkat sebagai Meneg Ristek, saya suatu hari ngobrol di istana sambil menunggu makan malam. Saya merasa perlu untuk bertanya kepada beliau, kira-kira bagaimana kiat yang pas untuk mengelola kementerian negara yang sudah terlanjur “ngetop” gara-gara dipegang Pak Habibie selama 20-an tahun itu. Padahal setelah beliau tidak lagi menjabat di sana dan diganti oleh Pak Rahadi Ramelan dan Pak Zuhal, kementerian ini mulai harus melakukan reorientasi, apalagi setelah ada reformasi. Gus Dur menjawab dengan santai dan, tentu saja, dibumbui humor.

“Jadi begini, Kang. Jadi Menteri yang ngurusi Iptek itu ya harus berusaha memahami dinamika masyarakat di mana dia berada. Jangan cuma pengen maju cepat-cepat saja. Sampeyan jangan meniru pendahulu sampeyan yang pendekatannya elitis, tetapi tidak atau kurang memahami bagaimana sebetulnya rakyat banyak memandang teknologi. Termasuk di situ paham terhadap persepsi mereka terhadap gunanya teknologi dan, yang lebih penting, bagaimana iptek bisa dipakai melayani keperluan dasar mereka. Kalau sampeyan meneruskan model pendekatan lama, ya iptek kita mungkin maju, tapi makin terasing dari rakyat dan malah membuat elite tidak paham.

Sudah pernah dengar cerita MenegRistek dikalahin orang Madura?”

“Gimana Gus..” (saya sudah senyum-senyum, karena pasti ada lelucon Madura yang menarik).

“Meneg Ristek sebelum sampeyan ada yang luar biasa hebatnya karena konon bisa bikin pesawat. Pada suatu hari dia mau pamer di muka rakyat Madura betapa hebatnya capaian dia dan bagaimana rakyat seharusnya bangga dan memujanya. Nah, tibalah dia di sebuah Pesantren di Bangkalan. Seperti lazimnya zaman itu, para santri dan masyarakat dikerahkan oleh Bupati dan Camat dan Lurah untuk hadir mendengarkan pidato Pak Menteri.

Baca juga: Saya dan Gus Dur: Perseteruan dan Persahabatan

Pak Menteri yang satu ini punya kebiasaan kalau pidato menggebu-gebu, lama, bersemangat, hingga matanya pun melotot-melotot. Di pesantren itu juga begitu. Pak Menteri antara lain mengatakan:

‘Jadi sudara-sudara, Pak Kyai-kyai, kita harus bangga! Karena bangsa kita telah punya putra yang mampu membuat pesawat terbang sekarang. Sebentar lagi, bukan cuma pesawat terbang biasa, malah pesawat yang bisa mendarat ke bulan. Apakah sudara-sudara tidak bangga dengan prestasi anak bangsa sendiri?’

Anehnya, hadirin diam saja. Pak Menteri heran, dan bertanya lagi: ‘Apakah sudara-sudara bangga?’. Masih juga hadirin diam, bahkan setelah Pak Menteri mengulangi tiga kali pertanya seperti itu. Akhirnya ada seorang santri kurus di pojokan yang angkat tangan sambil bicara:

‘Kalau saya, tak bangga sama sekali Pak Menteri!’.

Terkejutlah Pak Menteri, pikirnya ‘orang Madura ini aneh.. orang lain bangga sama saya kok ini tidak.’ Karena itu dia jadi penasaran dan tanya kepada si santri kurus tadi: ‘Kenapa dik kok tidak bangga, dik?’

Kata si santri: ‘Soalnya sudah ada yang bisa begitu, Pak. Saya akan bangga kalau Bapak bisa bikin pesawat yang bisa ke matahari, tak iya…” (Mata para hadirin semua terarah kepada Pak Menteri, menunggu reaksi dia).

‘Ooo begitu, ya. Apakah adik tahu, bahwa mendarat ke matahari itu tidak mungkin..’ Kata Pak Menteri, senyum-senyum.

‘Lho kenapa tak mungkin, Pak..?’ Si santri ngeyel.

‘Begini, matahari itu panasnya ada berjuta-juta derajat celsius, sehingga tidak ada logam yang bisa dipakai untuk membuat pesawat yang bisa mendekat, apalagi mendarat. Baru mendekat sekian juta kilometer dari matahari saja pesawat itu pasti sudah meleleh..’

(lalu Pak Menteri yang brillian itu pun menjelaskan kepada para hadirin di pesantren soal kesulitan menciptakan pesawat seperti itu disertai paparan ilmiah ilmu fisika dan segala macam untuk memperkuat argumennya. Tentu dengan menggebu dan bersemangat juga).

‘Kalau cuma begitu saja mudah Pak..’ Belum selesai Pak menteri bicara, si santri Madura menyela.

‘Loh, mudah gimana?’ Pak Menteri lagi-lagi kaget

‘Kalau takut pesawatnya meleleh karena panas, berangkatnya habis Magrib saja. Kan sudah dingin, tak iya….’

Gus Dur tertawa ngakak dan saya pun cengengesan lalu sebentar kemudian ikut terbahak-bahak juga..

“Pak Menteri itu maksudnya baik, ingin membuat rakyat bangga dengan kemampuan sendiri, cuma dia gak paham sosiologi dan antropologi orang-orang di bawah, apalagi orang Madura seperti di pesantren Bangkalan tadi. Gitu lho Kang… sehebat apapun Iptek kita, kalau gak dipahami gunanya buat rakyat, dan si elite cuma mau karepnya sendiri… manfaatnya ya kurang…”

Gus Dur baru mau memberi satu joke lagi, tapi makan malam sudah siap. Terpaksa ditunda dulu..

Penulis: Prof Muhammad AS Hikam, Menteri Riset dan Teknologi di Era Gus Dur.