di

Film The Santri, Akan Go Internasional

Film The Santri, Go Internasional

Jakarta – Ulama Irak bertandang ke kantor PengurusnyaPBNU meminta film The Santri bisa diterjemahkan dalam bahasa Arab & Urdu sehingga bisa beredar di Jazirah Arab untuk memberikan pencerahan disana.

Film ini mungkin biasa saja, selayaknya film-film lain yang menceritakan tentang drama romantik dan tragedi para karakter yang terlibat di dalamnya. Kita belum tahu, karena film ini belum tayang. Hanya “trailernya” saja yang seliweran, melintas dalam banyak media.

Tapi siapa sangka dibalik itu semua, ada sebuah pertarungan besar yang berbanding lurus dengan kemunculan film “The Santri” ini.  Ada nama Emil Dardak disitu, dan satu lagi yang menarik: Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Jadwal Film The Santri Akan Tayang pada Bulan Berikut Ini

Penghakiman mengalir deras, bahkan anjuran boikot diserukan lantang berdasar adegan dalam trailer, tanpa ada yang tahu jalan cerita yang sebenarnya. Terutama dari mereka yang biasa menghakimi sesuatu dari judul, tanpa mau tahu isinya. Yang penting ustadznya anti NU, muridnya akan memusuhi semua produk turunan NU. Taqlid buta.

Tapi tak sesederhana itu. Inilah efek dari berbagai polarisasi yang terjadi saat ini. Dari The Santri inilah kita bisa melihat bahwa belahan politik dan sosial pasca Pilpres masih ada, gerakan eksklusivisme Islam melawan Islam Nusantara, pengusung pluralisme melawan anti-plural, dan secara bercanda bisa juga – kelompok pengusung Tumpeng ke gereja melawan pengusung bom ke gereja.

Melalui The Santri serangan kepada NU berpelumas, meski ini hanya gigitan nyamuk bagi kebesaran NU. The Santri sekedar tontonan, dengan selipan budaya, pluralisme dan moral kebangsaan di dalamnya – nilai-nilai yang selalu diusung NU. Para pengusung Khilafah dan kaum Takfiri, tentu saja meradang. Karena mereka memang selalu memasung kelompoknya dari berbagai informasi yang akan melunturkan berbagai propagandanya.

Nahdlatul Ulama tak akan tumbang hanya karena pemboikotan sebuah film. Tak ditonton pun NU tak akan bubar. Dulu PKI mempersekusi dan membunuh banyak Kyai NU, dan NU pun tetap tegak berdiri. Apalagi sekedar serangan lewat film – sebuah segmen hiburan.

Menjelekkan The Santri, tak akan membuat NU jelek. Menjelekkan NU, tak akan berpengaruh terhadap The Santri. Karena NU bukan Ram Punjabi, bukan Golan-Globus atau 20th Century Fox – ia Nahdlatul Ulama, sebuah lembaga yang cukup terhibur dengan Maulid Nabi, alunan Sholawat dan Tahlil. (Islah Bahrawi)

Dibanding popularitas dan eksistensi NU, kelompok Islam fundamentalis radikalis itu ibarat bayi yang baru lahir, atau maksimal baru belajar berjalan tapi nakalnya minta ampun. Mereka ingin diperhatikan dengan cara terus-menerus mengganggu NU, berpura-pura atau memantaskan diri menjadi lawan ormas besar yang tak lain adalah orang tua atau senior mereka. Ini juga yang tampak dalam penolakan film The Santri yang diinisiasi menantu Rizieq Shihab, Hanif Alathas. (Mus)

BAGAIMANA MENURUT KAMU?