Berikut Hukum Kebiri Kimia bagi Pelaku Pencabulan, Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim

oleh -
Berikut Hukum Kebiri Kimia bagi Pelaku Pencabulan, Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim
Gambar: Para penanggung jawab hasil bahtsul masail tentang hukum kebiri kima PWNU Jatim

Surabaya – Hukum kebiri kimia dalam pandangan fikih sebagaimana hasil bahtsul masail PWNU Jatim pada Kamis 29 Agustus 2019 di Kantor PWNU Jl. Masjid Akbar Timur Surabaya, memutuskan bahwa hukum kebiri kimia terhadap pelaku pencabulan kepada anak kecil adalah haram.

Sebagaimana kasus pemerkosaan kepada 9 anak yang dilakukan pemuda Aris (20) thn asal Mojokerto. Dimana dalam hasil keputusan Pengadilan Negeri Kabupaten Mojokerto, saudara Aris divonis hukuman kebiri kimia dan penjara 12 tahun serta uang denda 100 juta.

Menanggapi hukuman kebiri kimia, akhirnya Tim Bahtsul Masail bergerak cepat menggelar bahtsul masail terkait hukuman kebiri, dan hasil dari pada bahtsul masail tersebut memutuskan bahwa hukuman kebiri adalah haram.

Alasan mengenai keharaman dari pada hukuman kebiri tersebut karena setidaknya ada 4 alasan di antaranya:

Pertama, Takzir harus berdasarkan kemaslahatan.

Kedua, Mayoritas ulama mensyaratkan takzir tidak berdampak negatif, sementara kebiri kimia tidak hanya merusak organ reproduksi tapi dapat merusak organ yang lain, serta berdampak negatif pada kondisi psikologis pelaku.

Ketiga, Tidak sesuai dengan kode etik dan sumpah profesi dokter.

Keempat, Tidak sesuai dengan KUHP.

Dan untuk melindungi anak dari kejahatan seksual, maka pelaku harus dihukum dengan seberat-beratnya sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Keputusan Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tentang Hukum Kebiri Kimia bagi Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak itu, ditandatangani KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I. (Ketu LBM NU Jawa Timur) dan K. Ahmad Muntaha AM, S.Pd.(Sekretaris LBM NU Jawa Timur).

Dalam sidang berlangsung alot, karena melalui berdebatan panjang. Sidang dimulai sejak usai Zhuhur hingga menjelang Maghrib, dengan memperhatikan paparan dari para ahli. Melibatkan para perumus dari pakar hukum, kedokteran, dan berbagai pihak terkait dengan masalah tersebut.

Baca juga: Berikut Hukum Percampuran Pria dan Wanita dalam Satu Angkutan Umum

Tim Perumus:

  1. KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.
  2. Dr. H. Muhammad Ma’ruf Syah
  3. dr. Edi Suyanto
  4. Dr. Eddy Suwito
  5. KH. MB Firjaun Barlaman
  6. KH. Suhairi Badrus
  7. K. Anang Darun Naja
  8. K. Ahmad Muntaha AM, S.Pd.
  9. K. Muhammad Anas, S.Pd.I.
  10. K. Saiful Anwar
  11. KH. Ahmamd Jazuli Sholeh
  12. KH. Syihabuddin Sholeh, S.Ag.
  13. K. Muhammad Masykur Junaidi
  14. K. Muhammad Hamim HR, S.Ag.
  15. . Lukmanul Hakim, S.Pd.I.
  16. K. Fathoni Muhammad, Lc. M.Si.
  17. M. Nasir
  18. Amirotul Mukminah
  19. Muzdalifah
  20. Zulfatul Mufidah, M.Pd.I.
  21. Eli Rosida
  22. Ida Rohmawati

Sebenarnya terkait hukum kebiri kimia yang secara Undang-Undang sudah legal dan kemudian dipraktekkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Mojokerto sempat terjadi pro kontara, dimana para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) menganggapnya sebagai suatu pelanggaran, bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutor karena bertentangan dengan sumpah dan kode etik profesi, sementara di sisi lain banyak pihak yang mendukungnya mengingat semakin meningkatnya kejahatan seksual terhadap anak dari waktu ke waktu.

“Karenanya Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur terpanggil hadir untuk mengkajinya secara ilmiah dalam perspektif fikih Islam sebagai bagian khidmahnya kepada masyarakat, bangsa dan negara,” tutur Kiai Asyhar Shofwan. (Mus)