Ayat Alquran Menginspirasi Pebisnis Muda Busana Muslim dengan Omzet Miliaran Rupiah, Santri Penasaran?

oleh -
Ayat Alquran Menginspirasi Pebisnis Muda Busana Muslim dengan Omzet Miliaran Rupiah, Santri Penasaran?
Gambar: Fahmi Hendrawan saat menjahit salah satu baju yang dia desain sendiri

Garut – Diprediksi tahun 2020 Indonesia akan jadi kiblat fashion muslim dunia. Itulah salah satu alasan mengapa pebisnis muda Fahmi Hendrawan terus menekuni bisnis busana muslim-nya. Awalnya pemuda kelahiran Garut Jawa Barat ini bekerja sebagai penyanyi kafe yang kemudian hijrah menjadi pengusaha busana muslim di tahun 2015, dan sekarang penghasilannya sudah miliaran setiap bulannya.

Sebenarnya cerita pemuda ini pada saat membulatkan niat untuk meniti karir di dunia bisnis itu cukup menarik, sebab pilihan itu lahir karena terinspirasi dari salah satu Ayat Alquran.

Saat dia masih menekuni profesi penyanyi, membuka usaha wedding organizer dan music entertainment, serta berjualan cokelat itu,  usahanya tak berjalan mulus. Pada saat yang sama pula ia tertipu temannya yang mengiming-imingi keuntungan berinvestasi. Tabungannya amblas. Semangatnya luntur, apalagi ia harus membiayai kedua orang tuanya yang sedang sakit di masa itu.

Dalam situasi sulit seperti itu, ia memetik inspirasi tatkala membaca Al-Qur’an, Surat Al Araf Ayat 31

“Hai anak Adam, pakailah pakaian yang bagus ketika memasuki masjid, dan janganlah berlebih-lebihan karena Allah tidak suka yang berlebih-lebihan.” Bagi Fahmi, ayat ini mengalirkan ide segar untuk berjualan busana muslim.

Walaupun pada awalnya dia ragu karena alasan tidak ada latar belakang fashion sama sekali namun dia terus belajar. Sejurus kemudian, pada Januari hingga Maret 2015 Fahmi melakukan riset di internet, menyambangi Pasar Tanah Abang dan sentra penjahit di Garut (Jawa Barat), juga magang kerja di sentra tekstil Pasar Mayestik, Jakarta, untuk mempelajari proses bisnis busana muslim. “Saya masih sambil menyanyi di weekend. Nah, honor dari menyanyi itu saya kumpulkan untuk beli mesin jahit,” ia mengisahkan. Ia memproduksi baju Fatih Indonesia di Garut, dan merilis produknya pada Juni 2015 di media sosial.

Baju muslim produksi Fahmi menonjolkan aksen batik “garutan”. Kebetulan, ia lahir di Garut, 1 Desember 1986.

Itulah faktor yang mendorongnya menghadirkan motif batik garutan pada baju koko yang diproduksi PT Maha Fatih Indonesia (Fatih Indonesia). Respons pasar positif. Tonggak yang melambungkan Fatih Indonesia di belantika fashion muslim Indonesia dialami Fahmi ketika lolos sebagai peserta Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. Fahmi kebanjiran pembeli di ajang IFW itu. “Stand kami hampir roboh karena orang-orang yang ingin beli membludak. Padahal, sekitar dua bulan sebelumnya saya sudah hampir menyerah, saya ingin menutup Fatih ini,” ia mengungkapkan.

Keunikan baju kokonya memancing minat konsumen. Penjualan Fatih Indonesia melambung tinggi. “Pendapatan di tahun 2017 sebesar Rp 1,2 miliar, omsetnya sekitar Rp 200 juta per bulan. Sampai sekarang pendapatan naik terus. Tahun 2018 sales revenue sebesar Rp 1,5 miliar,” ungkap Fahmi.

Baca juga: Insprasi Al-Ittifaq, Pesantren Agroindustri Sukses

Gimana apakah santri milenial tertarik jadi pebisnis fashion muslim yang diprediksi akan akan menjadi kiblat dunia pada tahun 2020? Silahkan dipikir dulu.

Memang sih, perjalanan Fahmi tak semudah membalikkan telapak tangan. Di awal membangun usahanya itu, ia kehilangan Rp 400 juta gara-gara tertipu oleh rekannya. Dampaknya, lulusan Institut Pertanian Bogor ini hanya memegang dana tunai Rp 10 juta untuk membiayai operasional Fatih Indonesia. Ketekunan Fahmi telah membuahkan hasil. Ia membuka lembaran baru seperti arti Fatih, yang terinspirasi dari Surat Al-Fatihah. “’Fatih’ kan artinya pembuka. Saya ingin Fatih menjadi pembuka rezeki bagi saya pribadi maupun banyak orang. Terinspirasi juga dari nama sultan di Turki, yaitu Mohamad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel, yang memiliki perawakan gagah, gayanya rapi, dan elegan,” ia menerangkan.

Usahanya itu juga membuka lapangan pekerjaan buat 20 orang untuk memproduksi sekitar 2 ribu-3 ribu potong per bulan. “Harga baju berkisar Rp 400 ribu sampai Rp 750 ribu. Ketika awal meluncur harganya Rp 350 ribu. Sekarang produknya ada tiga jenis: baju koko, baju kurta (panjangnya selutut), dan baju gamis (panjang). Bahan yang dipakai Fatih adalah perpaduan kain katun dan batik cap garutan,” tutur peraih gelar MBA bidang creative entrepreneurship dari Institut Teknologi Bandung ini.

Baju koko Fatih Indonesia membidik konsumen pria berusia 25-40 tahun dari kalangan ekonomi menengah-atas.

Untuk pemasaran Fatih Indonesia, Fahmi rajin mengikuti berbagai pameran, antara lain IFW, Muslim Fashion Festival, Asia Islamic Fashion Week di Malaysia, Japan Halal Expo, dan platform online (website, Instagram, Twitter, dan Facebook).

Sekitar 70% dari total penjualannya dikontribusi penjualan online, dan 30% dari penjualan di pameran. Rencana berikutnya, Fahmi akan meluncurkan merek terbaru yang membidik konsumen di segmen menengah-bawah. “Lebih polos dengan sentuhan batik sedikit saja. Supaya bisa disebar ke agen dan reseller,” ujar sulung dari empat bersaudara ini. Semoga para santri yang sekarang lagi galau cari pekerjaan, informasi ini bisa jadi bahan pijakan. (Mus)