Santri Wajib Nasionalis Bukan Penganut Paham Radikalis Teroris

oleh -
Santri Wajib Nasionalis Bukan Penganut Paham Radikalis Teroris
Gambar: Santri bersama pembina pelaksana upaca Peringatan Hari 17 Agustus 2019

Sidoarjo – Santri wajib Nasionalis. Sebagai penerus ulama, santri wajib menjunjung tinggi 4 pilar kebangsaan yang menjadi asas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri wajib mengerti, betapa susahnya para pejuang kemerdekaan zaman dulu dalam mewujudkan kemerdekaan NKRI dari cengkraman penjajah kolonial.

Begitu banyak para syuhada’ yang gugur demi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI baik dari kalangan ulama, santri, kaum nasionalis serta rakyat jelata kala itu. Kini Indonesia sudah 74 tahun merdeka dan kita sebagai santri yang hidup di zaman milenial dapat menikmati indahnya hidup di negeri yang merdeka.

Maka sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang Maha Esa dan rasa terimakasih kepada para pejuang dulu untuk senantiasa menjaganya dan melestarikan agar NKRI terus maju dan berkembang hingga menjadi negara yang dalam bahasa Alquran Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur (Negeri idaman yang diridhai Allah).

Maka tidak boleh tidak, sebagai generasi pewaris ulama, santri wajib merasa memiliki atas warisan ulama yaitu NKRI. Sebagaimana sudah disebut di atas, bahwa NKRI berdiri di atas 4 pilar kebangsaan yang wajib dijaga dan dilestarikan oleh segenap warga bangsa tak terkecuali para santri.             

Maksud dari 4 Pilar Kebangsaan adalah tiang penyangga yang kokoh (soko guru) guna rakyat Indonesia merasa aman, nyaman, tentram, sejahtera, serta terhindar dari gangguan dan bencana.

Sebagaimana santri tahu, bahwa suatu negara pasti memiliki sistem keyakinan (belief system) atau filosofi (philosophische grondslag) yang di dalamnya berupa konsep, prinsip, serta nilai yang dianut oleh masyarakat dalam suatu negara. Filosofi dan prinsip keyakinan yang dianut oleh suatu negara kemudian digunakan sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Suatu pilar kebangsaan harus kokoh dan kuat untuk menangkal berbagai bentuk ancaman dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar. Pilar kebangsaan Indonesia yang berupa belief system harus dapat menjamin terwujudnya ketertiban, keamanan, kenyamanan, keadilan, dan kesejahteraan bagi semua warga negara.

Baca juga: Makna Indonesia Merdeka Bagi Santri

Adapun 4 pilar kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indoensia itu di antaranya:

1. Pancasila

Jadi Pancasila adalah pilar pertama untuk kokohnya negara-bangsa Indonesia. Asumsi dasar mengapa Pancasila berperan sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara karena sila yang terdapat dalam Pancasila yang menjadi belief system.

Negara Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama sehingga dibutuhkan belief system yang dapat mengakomodir keanekaragaman tersebut. Pancasila dianggap sebagai pilar bagi negara Indonesia yang pluralistik.

Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Sila ini dapat diterima dan diakui oleh semua agama yang diakui di Indonesia dan menjadi common denominator; Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ini merupakan pernyataan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Semua warga negara memiliki harkat dan martabat yang sama secara adil dan beradab; dan sila seterusnya hingga sila kelima.

2. Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia memiliki semboya “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya “Berbeda-beda tetapi satu jua”. Semboyan ini pertamakali diungkapkan oleh Mpu Tantular, seorang pujangga dari kerjaan Majapahit pada pemerintahan Raja Hayamwuruk sekitar tahun 1350 – 1389.

Sesanti atau semboyan itu dituangkan dalam karyanya Kakawin Sutasoma, yang berbunyi “Bhinna Ika Tungga Ika, tan hana dharma mangrwa” yang berarti “Berbeda-beda itu, satu itu, tak ada pengabdian yang mendua”.

Pada masa itu pemerintahan kerajaan Majapahit menjadikan sesanti tersebut menjadi prinsip hidup mereka. Hal ini untuk mengantisipasi perpecahan di masyarakat mereka yang memang terdapat keanekaragaman agama. Meskipun mereka berbeda agama tetapi mereka tetap satu dalam pengabdian.

3. Negara Kesatuan Republik Indonesia

Ada banyak bentuk negara yang ada di dunia ini. Dan para pendiri bangsa Indonesia memilih bentuk Negara Kesatuan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Para pendiri bangsa kita memilih negara kesatuan sebagai bentuk negara Indonesia melalui berbagai pertimbangan. Alasan utama para pendiri bangsa Indonesia memilih bentuk negara kesatuan adalah karena sejarah strategi pecah belah (devide et impera) yang dilakukan Belanda bisa berhasil karena Indonesia belum bersatu pada masa penjajahan.

Terbukti, setelah negara Indonesia berbentuk negara kesatuan, taktik pecah belah tersebut dapat dipatahkan. Inilah yang menjadi dasar dalam membentuk negara kesatuan.

4. Undang-Undang Dasar 1945

UUD 1945 merupakan pilar kedua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tentu saja masyarakat perlu memahami makna yang terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar tersebut.

Tidak memahami prinsip yang terdapat pada pembukaan UUD 1945 maka tidak mungkin untuk melakukan evaluasi terhadap pasal-pasal yang ada pada batang tubuh UUD yang menjadi derivatnya.

Siapa santri penganut paham radikalis teroris

Bila ada santri yang tidak mengakui 4 pilar kebangsaan NKRI yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri NKRI tempo dulu dan kemudian ingin mengganti dengan sistem lain, santri yang semacam ini jelas generasi radikalis teroris bukan generasi santri nasionalis religius.

Pengertian Radikalisme menurut para ahli adalah suatu paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan atau ekstrim. Jandi inti tindakan kaum radikal itu menggunakan kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Pada umumnya kelompok radikal menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis dan bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku. Paham radikal sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka.

Kesimpulannya: Marilah jadi santri yang nasionalis bukan santri penganut paham radikalis teroris. Dan bila ada lembaga pendidikan pondok pesantren di tanah air yang tidak mau dengan 4 pilar kebangsaan dimaksud di atas berarti pesantren itu bukan wajah pesantren asli Indonesia melainkan lembaga pendidikan pesantren penghancur NKRI.

Selamat hari kemerdekaan 17 Agustus 2019 yang ke-74 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wallahu a’lam

Penulis: Mun’im