di ,

Niat Memberi “Hidayah” Malah Bikin “Gerah”

Niat Memberi "Hidayah" Malah Bikin "Gerah"

By @afi-nahaya-faradisa

Yogyakarta – Rabbani itu adalah merk kerudung yang terkenal banget waktu aku SMP. Semua anak di sekolah pakainya itu. Tapi mahal. Jadi ya aku harus nabung dulu biar kebeli. Bayangin 1 piece yang model baru harganya bisa 85 ribu. Jauhhhh dari harga-harga kerudung lainnya. Akhirnya, aku cuma punya 2 aja 😅 sisanya gak kebeli. Itu pun udah seneng karena aku ga “ketinggalan” sama temen-temen yang lain. Entah kenapa kalau pake kerudung selain Rabbani serasa jadi warga kelas dua. Hahaha. Makanya Rabbani terkenal dengan tagline “kerudung sekolah” paling top.

Aku gak ngerti kenapa Rabbani itu booming sampe ke daerah-daerah. Padahal banyak merk lain yang bahannya jauh lebih bagus. Katakanlah Rabbani dipake beberapa bulan, beberapa kali dicuci gitu udah berbulu. Sedangkan aku pakai Elzatta sampe sekarang (udah 3 tahun) masih bagus. Jadi, menurutku Rabbani terkenal bukan karena bahan atau modelnya (banyak merk lain yang modelnya lebih beragam dan lebih modern). Ini review jujur ya.

Tahun 2016, kebetulan petinggi perusahaan Rabbani lihat foto di Facebookku di mana aku pake kerudung mereka. Setelah itu, aku dihubungi untuk jadi brand ambassador salah satu event-nya. Wahahaha, seneng juga sih dapat kesempatan langka seperti itu, dari merk kerudung premium favorit pula. Setelah itu, wajahku ada di banner-banner promosi mereka (persis kayak yang sekarang viral ini lho) karena saat itu aku menghandle penjurian event tersebut. Pengalaman yang cukup berkesan.

Setelah kerjasama berakhir, kok belakangan yang kudengar tentang Rabbani malah marketing-marketing blunder yang dihujat netizen seperti ini. Sebelumnya mereka nyindir Rina Nose yang milih lepas kerudung, jadi mau dikirimin kerudung. What?!!!

Baca juga: Otot Mental dan Mengendalikan yang Tidak Bisa Dikendalikan

Akun officialnya juga sering mengeluarkan pernyataan bernada serupa. Entah ya… Dengan seperti itu, kalian memang makin terkenal dan dibicarakan, tapi dalam nuansa yang negatif.

Iya sih, iklan memang harus eye-catching dan persuasif. Tapi tahu sendiri kan, perempuan-perempuan muslim yang gak berkerudung di Indonesia itu sensitif kalau dijudge. Siapa siiiiih yang mau dikritik/dihakimi pilihannya? Apalagi disindir-sindir secara terbuka.

Mungkin mereka gak berkerudung BUKAN karena gak taat sama perintah Allah, tapi karena punya penafsiran sendiri tentang aurat, punya perspektif yang berbeda dalam menerima surah An Nur 31 dan Al Ahzab 59, punya pandangan berbeda pada Alquran, bahkan pada keseluruhan konsep agama/ketuhanan itu sendiri. Mazhab saja beda-beda kok, jadi mustahil kalau tafsir alternatif ingin ditiadakan.

Atau, gak berkerudung simply karena mereka memilih secara sadar untuk gak berkerudung. Gak semua perempuan berkenan untuk nutup rambutnya walaupun menurut tafsir aliran utama, berkerudung sama wajibnya dengan perintah syariat lain seperti salat.

Jadi, alasan kenapa ada perempuan Islam gak kerudungan bisa sangat beragam. Dan itu, tim marketing Rabbani, yang harus diketahui sebelum bikin promosi. (*)

Penulis: Afi Nihaya Faradisa

BAGAIMANA MENURUT KAMU?