Mahasiswa Kader PMII Malang, Anjas Pramono Ciptakan Aplikasi Level Dunia

oleh -
Mahasiswa PMII Malang, Anjas Pramono Ciptakan Aplikasi Dunia
Anjas Pramono saat diwawancari salah satu media milik PBNU Selasa (30/7) Jakarta

Jakarta – Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur, Anjas Pramono berkat keuletannya mampu ciptakan aplikasi yang diakui dunia Internasional.  

Pada tahun 2018 lalu, Mahasiswa jurusan Teknologi Informasi Unibraw itu dapat penghargaan medali emas dari University of Malaysia pada 2018.

Mungkin tidak ada yang nyangka kalau sebenarnya Anjas Pramono tersebut merupakan Mahasiswa Defabel. Namun meski secara fisik dia terbatas mampu melahirkan sejumlah aplikasi dan salah satunya adalah Aplikasi Difodeaf.

Aplikasi Difodeaf merupakan kamus bahasa isyarat yang bisa digunakan secara mudah oleh kaum difabel maupun siapa saja yang ingin belajar bahasa isyarat. Sehingga dengan menggunakan aplikasi tersebut, siapa pun secara umum akan mudah belajar bahasa isyarat kaum difabel.   

Awal mula pembuatan Aplikasi Defodeaf ini karena banyaknya  rekan-rekan Anjas Pramono yang difabel. Karenanya dia bertekad membuatkan wadah bagi mereka yang kemudian berhasil diwujudkan dengan nama Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (Formapi).

Dari sinilah Aplikasi Defodeaf terbentuk. Dan organisasi bentukannya tersebut tidak hanya menarik kaum difabel saja, banyak dari teman-temannya yang normal secara fisik juga ikut bergabung.

Baca juga: Jadwal Film The Santri Akan Tayang pada Bulan Berikut Ini

Maka sekarang, masing-masing mahasiswa difabel di kampusnya memiliki seorang relawan untuk menemaninya. “Setiap disabilitas ada volunteer,” katanya saat diwawancarai media online Jakarta di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, Selasa (30/7). Dikutip dari nu online, Kamis (01/08/19).

Ternyata tidak hanya mahasiswa Universitas Brawijaya saja yang tertarik dengan aplikasi tersebut, melainkan juga mahasiswa Universitas Padjadjaran ingin sekali mengadopsinya di kampusnya. Karena di sana juga tidak sedikit mahasiswa difabel, tetapi belum memiliki forum dan aplikasi.

“Alhamdulillah tahun kemarin ada orang Bandung nemuin saya. Di sana ada mahasiswa disabilitas tapi tidak ada forumnya,” cerita mahasiswa Teknik Informatika tersebut.

Akhirnya Unpad pun saat ini telah mempunyai wadah yang sama. Melihat hal tersebut, ia punya rencana untuk bekerja sama dengan seluruh kampus di Indonesia membuat forum yang sama.

“Kenapa saya gak kerja sama dengan universitas di seluruh Indonesia. Saya ingin bekerja sama dengan universitas-universitas di Indonesia, ada UKM disabilitas,” harapnya. (Mus/NU)

No More Posts Available.

No more pages to load.