Kisah Santri Pesantren Bertemu Nabi Khidir

oleh -
Kisah Santri Pesantren Bertemu Nabi Khidir
Pada Jum’at yang ke 42

Sang Santri tetap seperti biasa melanjutkan riyadhohnya duduk di serambi masjid sambil menunggu semua jema’ah bubar.

“Ketika beliau asyik menunggu dan dengan waspada meliahat ke sekeliling masjid, akhirnya tampak dari kejahuan seorang China laki-laki yang memakai celana Pendek berjalan menuju ke arah dirinya.

Muncullah gejolak dalam dirinya apakah dia harus bersalaman seperti perintah gurunya ataukah membiarkannya begitu saja”.

Santri: “Tidak mungkin orang China ini Nabi Khidir, dia itu orang China, gak mungkin Nabi Khidir” (Orang China kebanyakan pada saat itu beragama Budha atau Konghucu). Karena tidak mendapat respon orang China tersebut segera berlalu. Dan akhirnya si santri memilih pulang.

(Rupanya, nafsu si santri telah mengalahkan ketaatannya pada sang guru, pulanglah santri dengan langkah gontai serta rasa kecewa dengan berbagai macam prasangka kepada gurunya)

Setelah pulang dari masjid, masuklah si santri itu menemui mbah Yai di rumahnya (Ndalem).

Mbah Yai: “Gimana cung , sudah ketemu dengan Nabi Khidir?”

Santri: “Blum yai, tidak ketemu dengan nabi khidir, ketemunya dengan orang China memakai celana pendek”.

Mbah Yai: ” Ingat jumat ke 43, jumat terakhir kamu tetap riyadhoh seperti biasa, dan kalau ketemu dengan siapa saja, kamu salaman minta do’a darinya, jangan nafsu dan prasangkamu mengalahkan ketaatanmu kepada diriku cung, Kalau kamu tidak taat kepada nasehat dan perintahku maka selamanya kamu tidak bertemu dengan Nabi Khidir. Sudah berangkatlah cung”

Santri: “Ia Yai”

Jumat yang ke 43

Singkat cerita, sang santri menunggu di serambi masjid dengan sabar sambil mengingat pesan sang guru (jika dia tidak patuh dan berprasangka buruk maka dia tidak akan bertemu dengan Nabi Khidir)

Tiba-tiba terlihat dari jauh pengemis berpakaian compang-camping yang berbau tidak enak dikerubungi lalat yang berjalan tertatih-tatih.

Kaget melihat pemandangan tersebut, sontak sang santri turun dari serambi masjid berlari mengejar sang pengemis dan berusaha menghentikannya.

Santri: Mbah,,mbah,, berhenti mbah berhenti mbah berhenti. (Tanpa ba bi bu dia bersalaman, mencium dan memegang tangan pengemis yang penuh luka (luka koreng) tanpa rasa jijik sedikitpun.

Pengemis yang ternyata memang Nabiyullah Khidir (dengan tenang): “Ada apa kamu mau ketemu denganku?”.

Santri: “Oh Nabiyullah Khidir, ada yang ingin saya tanyakan dan mau minta doa kepada engkau”

Nabiyullah khidir: “Silahkan”

Santri: “Wahai Nabiyullah, telah lama saya menunggu Anda, 42 Jumat saya menunggu Anda tetapi mengapa Anda tidak menemui saya?”

Nabiyullah Khidir: “Bukankah yaimu berpesan untuk bersalaman dengan setiap orang yang kau temui terakhir kali setelah selesai Sholat Jumat? Bukankah gurumu menyuruhmu secara tidak langsung untuk menemui dan bersalaman meminta do’a kepada penjual gado-gado dan Orang China yang memakai celana pendek?. Nafsu dan prasangkamu kepada Mbah Yaimu telah mengalahkan bashirah (mata hati) mu sehingga terhijab dariku”.

Santri: ” Anda Betul wahai Nabiyullah Khidir”. Wahai Nabiyullah, berdoalah kepada Allah tentang diriku, karena doamu istijabah ya nabiyullah.

Nabiyullah Khidir: “Baiklah apa permintaanmu, ingin kekayaan, sebutkan saja? Apa yang harus aku mintakan do’a kepada Allah?

Santri : ‘ Wahai Nabiyullah. Saya hanya ingin Anda mendoakan saya mendapat kebaikan dan dilindungi dari segala keburukan di dunia dan akhirat (do’a sapu jagad).

Nabiyullah Khidir: “Baiklah, akan saya doakan agar engkau mendapat kebaikan dan dilindungi dari segala keburukan di dunia dan akhirat”

Sang santri akhirnya pulang atau tepatnya kembali ke pondok.

Setiba di pesantren, sang santri langsung ke dalem (rumah Mah Yai) untuk menceritakn pengalamannya, dan langsung disambut oleh beliau.

Mbah Yai : “Cung gimana sudah ketemu dengan Nabi Khidir, kamu minta didoakan apa saja oleh Nabi Khidir?”

Santri: “(dengan keheranan dan dengan perasaan bersalah) Ia yai, saya minta maaf sebesar-besarnya karena tidak menuruti perintah yai pada jumat ke 41 dan ke 42. Saya tidak minta harta Yai, hanya ingin didoakan selamat dunia akhirat saja tidak lebih.

Mbah Yai: ” Cung, mulai besok kemasi barang-barangmu dari pondok, kamu keluar dari pondok dan berdakwalah di daerah asalmu”.

Santri : “Iya yai, saya laksanakan”.

Penulis: Muslim