Kiat Santri Milenial Sukses di Masa Depan

oleh -
Kiat Santri Milenial Sukses di Masa Depan
Gambar: Ilustrasi (NU Online)

Surabaya – Jadi santri milenial memang butuh tekad yang kuat dan pantang menyerah dalam manjalani hidup sederhana di pesantren, demi meraih ilmu yang berkah. Bila tidak sabar, dia akan kabur dalam jangka waktu yang cukup singkat.

Sebagai pelajar sudah sewajarnya santri hanya fokus belajar dan belajar serta patuh kepada perintah kiai atau bunyai. Hanya itu saja kiat utamanya yang wajib dijaga dan dipupuk terus menerus secara istiqomah.

Santri milenial tentu tantangan terberatnya adalah mencoba belajar bersabar dan menyesuaikan cara hidup di pesantren yang bisa dibilang jauh dari kemewahan. Sebagai contoh, santri di pesantren mana pun tidak boleh pegang HP, tidak bisa bebas keluar dan lain sebagainya. Itulah ujian santri masa kini yang sering menjadikan mereka tidak betah di pesantren. Maklum karena sewaktu masih di rumah sudah terbiasa pegang HP dan jalan-jalan ke mana-mana.

Di samping itu, santri masa kini juga harus tahan ledekan. Karena biasanya santri di pesantren tidak semuanya baik ada juga yang suka ngeledek, suka mencuri uang teman-temannya. Karena itu santri baru mohon bersabar dan tidak kabur.

Juga di pesantren, biasanya santri-santri itu memiliki semacam geng atau kelompok yang pada ujungnya mereka terus akan bersaing. Jadi bagi santri baru terkadang akan dapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman yang tidak sekelompok.

Baca juga: Ainun Najib, Sosok Santri Milenial yang Inspiratif

Ada beberapa pengalaman seorang santri yang tidak disangka bahwa dia akan jadi orang beruntung setelah lulus dari pesantren. Sebab sewaktu masih di pondok, santri ini sering dikucilkan oleh teman-temannya karena dianggap nyeleneh.

Sebut saja Jumiati (nama samaran), dia sewaktu masih jadi santri sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekamarnya baik dari sisi perkataan dan lainnya. Sering dibilang sikunyel dan ungkapan jelek lainnya. Namun sikap Jumiati ini ketika diledek semacam itu tidak marah malah dianggapnya candaan biasa. Alhasil Jumiati ini orangnya sabar dan tak gampang minder walaupun dibilang apa pun.

Dan setelah mengalami hiruk-pikuk kehidupan di pesantren dan sudah waktunya pulang karena alasan mau kuliah, akhirnya si Jumiati pun pulang dengan langkah semangat yang kemudian dia kuliah di sebuah universitas negeri di kota.

Intinya, hidup di pesantren itu harus fokus dan tidak mudah menyerah serta kebal dari ejekan teman-temannya.

Itu semua demi masa depan kehidupan seorang anak remaja baik laki-laki maupun perempuan yang menimba ilmu di pesantren. Masa depan seorang santri yang ketika masih mondok rajin, patuh pada gurunya, serta tahan uji dijamin tidak akan mengalami keterpurukan setelah keluar dari pesantren. (*)

Penulis: Irham Lubis