Kesaksian Santri Madura Tentang Kewalian Mbah Moen Sarang

oleh -
Kesaksian Santri Madura Tentang Kewalian Mbah Moen Sarang

Sumenep – Santri asal Madura yang mondok di Al-Anwar Sarang berkisah tentang kewalian gurunya KH Maimun Zubair. Santri Mbah Moen yang menjuluki dirinya Santri Mbeling ini suatu hari pernah bermaksud ingin menguji perihal kewalian gurunya.

Singkat cerita santri yang katanya sempat tidak betah di Sarang ini, melakukan testimoni kewalian gurunya dengan cara pergi ke dalem (rumah) Mbah Moen. Kala itu dia memiliki keyakinan bahwa seorang wali itu mampu membaca pikiran orang. Sehingga kata dia, kalau Mbah Moen memang benar-benar waliyullah pasti ditemui di depan dalem.

“Kalau Mbah Moen memang wali, pasti Mbah Moen akan menemui saya siang bolong ini di depan rumahnya,” gumamnya dalam hati.

Pada saat dia sudah berada di depan ndalem, ternyata tidak ada orang sama sekali kecuali hanya putra Mbah Moen.

“Di depan pintu ndalem Mbah Moen, ada sosok yang memantau saya sejak saya masih di mulut gang, matanya cekat memandang saya, saya drastis gemetaran mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, sungguh hati saya menahan malu. Sosok itu adalah Gus Kamil Maimoen. Gus Kamil terus memandang saya, hingga saya berada 1-2 meter di hadapannya, jantung saya berdegub kencang tak alang pialang.”

Setelah testimoni tidak berhasil, keesokan harinya ayah santri asal Sumenep ini datang ke Sarang. Dan kedatangan ayahnya ini tanpa terduga. Karenanya santri mbeling ini mulai tak habis pikir, kok tahu-tahu datang ke Sarang.

“Ayo ikut aku sowan ke Mbah Maimoen sekarang!” ajak ayahnya.

Mendengar ajakan itu santri ini kaget, “apakah kedatangan ayahku ini ada hubungannya dengan kecongkakanku dua hari yang lalu kepada Mbah Maimoen ya?”. Dia dalam hatinya mulai curiga bercampur cemas.

Dan ternyata benar, ketika sampai di ruang tamu Mbah Moen, ayah santri ini langsung mendorong tubuh kurusnya hingga tersungkur ke dalam pelukan Kiai Maimoen Zubair. “Inilah pelukan pertama saya, langsung dalam dekapan Kiai Tercinta, saya menangis dan tebata-bata mengucapkan permohonan maaf atas sikap mbeling saya dua hari sebelumnya.”

Ayahnya matur kepada Mbah Moen, “Anak saya ini tidak berhenti nakal, Kiai. tolong doakan anak saya ini semoga menjadi bla bla bla.. (maaf dialog ini dirahasiakan oleh sang pemilik naskah).”

“Saya masih dalam pelukan Kiai Maimoen, namun berubah posisi, kepala saya ada dalam pangkuannya.” Mbah Moen bertanya, “Sopo jenengmu? Koe ngaji opo? Koe kelas piro saiki?”

Kemudian Mbah Moen mengangkat tangannya, seraya mendoakan santrinya ini, dan semua tamu-tamu yang ada di ruangan tersebut mengucapkan amin, amin, amin.

Sesudah berdoa, Kiai Maimun menyuruh santri mbeling itu bangkit dari pangkuannya, kemudian menyuruhnya menghabiskan segelas kopi panas, panas sekali, “langsung habiskan!” kata Mbah Moen. “Panas full…! Seandainya bukan Mbah Moen yang sudah sangat sepuh itu yang menyuruh, pasti saya tidak mau minum dengan cara yang seganas itu,” ucap santri mbeling.

Sesudah minum kopi, ayahnya langsung pamitan, dan langsung pulang ke Sumenep Madura. Sebelum menutup pintu mobil, ayahnya berujar, “Lihat minggu depan! Kau akan tahu betapa beningnya hati Kiai Maimoen, dia waliyullah”. Santri Mebling akhirnya sadar, kalau kelakuannya tempo hari memang benar-benar diketahui gurunya.

Persis seperti perkataan ayahnya, seminggu kemudian ada tamu agung dari Kota Damaskus Syekh Rajab Dib namanya, kabarnya seorang mursyid thariqah. Kedatangannya disambut oleh marching band Al-Anwar dan forum halaqah di mushala Al-Anwar.

Pada kesempatan itu Syekh Rajab Dib pidato dalam bahasa Arab di hadapan para santri, dan diterjemahkan oleh pengurus PCINU Damaskus kala itu, tidak diketahui namanya. Kurang lebih begini isi pidatonya:

“Wahai santri sekalian, tahukah kalian? Aku melihat cahaya-cahaya bersinar-sinar dari wajah Kiai Maimoen Zubair. Lihatlah dan perhatikanlah wajah kiai kalian ini, dari setiap lubang-lubang kulit tubuhnya, lubang-pori wajahnya, memancarkan cahaya, maka sungguh tak salah bila pesantren ini dinamakan Al-Anwar (Cahaya-cahaya). Aku bersaksi bahwa Kiai Maimoen Zubair ini waliyullah, dia alim dalam keilmuan dhahir dan alim dalam keilmuan bathin. Jika di Indonesia jumlah Walisongo ada sembilan, maka aku berpendapat bahwa Kiai Maimoen Zubair yang ke-10”

“Syekh Rojab menyampaikan pidato sambil berderai air mata. Semua santri dan hadirin menangis, Kiai Maimoen juga menangis, dan saya juga menangis,” cerita santri mbeling. (*)

By Muslim

Tulisan ini disarikan dari cerita santri Mbah Moen Sarang