Kenapa Ceramah Somad Tentang Salib Bermasalah?

oleh -

Yogyakarta – Jauh di dalam hati, kita memilih untuk menganut agama Islam atau Kristiani, bukan agama Shinto, adalah karena kita menganggap Islam atau Kristiani yang benar, lainnya tidak. Penghakiman “Shinto sesat, tidak sesuai, jelek” dan beragam label negatif ini ada dalam hati kita. Tidak salah.

Gagasan, konsep, ideologi, atau pemikiran TIDAK salah.

Namun bisa menjadi salah ketika kita mengkoar-koarkannya pada publik. Hasrat kita untuk mendakwahkan suatu kebenaran yang kita yakini tidak selamanya harus diwujudkan.

Kita bebas dalam berpikir dan berkeyakinan. Siapa yang tahu ada apa dalam kepalamu?

Tapi kita tidak bebas dalam berkata dan berperilaku.

Sah-sah saja berpikir bahwa agama Shinto itu sampah. Tapi menulis “Umat kafir, pemuja setan, goblok banget orang-orang ini, agama sampah kok diimani” di status fesbuk adalah persoalan lain.

Baca juga: Belajar Bangkit dari Yesus Kristus

Sah-sah saja kamu membenci mertuamu dan ingin mengirimnya ke neraka, tapi menuang sianida ke cangkir kopinya itu lain cerita. Syukur-syukur kalau tidak ketahuan dan kamu justru masuk penjara.

Sah-sah saja kepikiran ingin mengambil segepok uang yang tergeletak begitu saja di ruang tamu tetanggamu. Yang tidak sah adalah mengambilnya. Mencuri.

Sah-sah saja Anda sebagai suami orang, di tengah jalan tiba-tiba mencintai orang lain. Perasaan tak bisa dipaksa, hati mustahil didustai. Tapi mewujudkannya dalam tindakan berupa ngobrol mesra, chat mesum, dan tindakan zina bisa dilaporkan ke polisi oleh istri Anda, atau setidaknya digrebek warga.

Baca juga: Pindah Agama

Sah-sah saja berpikiran kotor selagi melihat perempuan tanpa busana lewat di depanmu. Sebejat-bejatnya otakmu, tak ada yang tahu. Tak ada orang yang bisa mengadili apa yang tidak diketahui. Yang bisa diadili adalah jika kamu catcalling perempuan tersebut, menganggunya, bahkan memerkosa.

Sah-sah saja kamu ingin menghajar orang yang hutang tapi tidak mau mengembalikan. Yang tidak sah adalah menghajarnya beneran sampai sekarat.

Pemikiran tidak bisa menyakiti siapapun. Ucapan dan perilaku bisa. Gunakan prinsip ini dalam berhubungan dengan siapapun juga. Niscaya akan damai, saling mengerti, saling bertoleransi.

Selamat ulang tahun Indonesiaku. Semoga rakyatnya makin dewasa.

– Afi Nihaya Faradisa

Tukang menulis status kontroversial tapi seringkali benar.