di , ,

Tentang Hukum Arisan Qurban Menurut Ijma’ Ulama

Tentang Hukum Arisan Qurban Menurut Ijma’ Ulama

SantriNow | Adapun hukum Arisan Qurban adalah boleh. Karena anggota arisan yang ikut dalam Arisan Qurban tersebut sudah sepakat, kalau dirinya dapat  akan mempergunakannya untuk membeli seekor sapi atau kambing atau bahkan onta.

Contoh, Marlena ikut arisan qurban yang beranggotakan 10 orang. Sementara iuran tiap bulannya adalah 300 ribu rupiah. Sehingga uang yang terkumpul dalam sebulannya sama dengan 3.000.000.00. Dan bila setahun sama dengan 33.000.000.00. Dimana uang sebanyak itu sudah cukup untuk membeli satu ekor sapi atau beberapa ekor kambing.

Alhasil, bila orang yang kedapatan uang arisan tersebut membeli sapi, maka satu ekor sapi sama dengan 7 orang. Dengan begitu, orang yang kedapatan uang arisan tersebut ngajak keluarga terdekatnya sebanyak enam orang sehingga jumlahnya sempurna menjadi tujuh orang.

Sementara bila yang kedapatan giliran arisan tersebut hanya mau membeli seekor kambing saja maka qurbannya hanya cukup untuk dirinya seorang.

Baca juga: Fiqih Qurban Tentang Cara Membagi Daging yang Wajib Anda Ketahui Hari Ini

Bagaimana bila uang tersebut tidak digunakan untuk berqurban?

Jawabannya adalah tidak ada masalah. Karena status hukum dari qurban karena dapat uang dari arisan tersebut bukan termasuk qurban nazar. Sehingga mau berqurban atau tidak itu terserah orang tersebut.

Karena hakikat kurban itu jatuh setelah orang yang membeli hewan tersebut menyembelihnya dengan niat berkurban. Kalau tidak berniat quraban tak dinamakan hewan qurban. Itu saja.  

Referensi :

1. Qulyubi Juz IV  Hal. 249.

2. Majmu’ Ala Syarhil Minhaj Juz VIII Hal. 451.

3. Hasyiyah Sulaiman Jamal Juz. V Hal. 251.

4. Qulyubi Juz IV  Hal. 253-254

١- وفى حاشية القليوبى وعميرة. للشيخ شهاب الدين   مانصه

{{هي} اى التضحية {سنة} فى حقنا مؤكدة {لا تجب الا بالتزام} بالنذر {قول المتن  لا تجب الا بالتزام} يريد به أن نية الشراء للأضحية لا توجبها وهو كذلك على الأصح .اهـ

٢- وفى المجموع على شرح المنهاج للإمام زكريا محى الدين بن شرف النووى مانص

ولا يصخ النذر الا بالقول –الى ان قال- فلم يصح بغير القول مع القدرة عليه كالوقف والعتق – الى أن قال – وهل يصح بالنية من غير قول او با الاشعار او التقليد او الذبح مع النية فيه الخلاف الذى ذكره المصنف الصحيح باتفاق الاصحاب أنه لا يصح الا بالقول ولا تنفع النية وحدها .اهـ

٣- وفى سليمان الجمل للشيخ سليمان الجمل مانصه

{فرع} –الى ان قال- وقضية ما فى الروض انها لا تصير أضحية بنفس الشراء ولا بنيته فلابد من لفظ يدل على الالتزام بعد الشراء

٤- وفى قليوبى وعميرة للشيخ شهاب الدين مانصه {وان وكل بالذبح نوى عند إعطاء الوكيل} ما يضحى به او عنده {ذبحه} التضحية به وقيل لا تكفى النية عند إعطائه وله تفويض النية اليه أيضا –الى ان قال- ولو نوى جعل هذه الشاة أضحية ولم يتلفظ بشيئ فالجديد أنها لا تصير أضحية بخلاف ما لو تلفظ بذلك {قوله بالجديد أنها لا تصير أضحية} أي لا تصير واجبة على المعتمد لأنه لا يحصل النذر بغير اللفظ فلا يحصل الجعل كذلك بالاولى

Penulis: Ustadz Mas’ud

BAGAIMANA MENURUT KAMU?