di , ,

Santri Harus Ingat Pesan dan Harapan Mulia Sutopo Untuk Santri Zaman Now

Santri Harus Ingat Pesan dan Harapan Mulia Sutopo Untuk Santri Zaman Now

Jakarta – Sutopo Purwo Nugroho atau yang akrab disapa “Pak Topo” menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertahun-tahun menderita penyakit kanker paru-paru. Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho tersebut meninggal dunia dini hari tadi sekitar pukul 02.00 di Guangzhou, China. Kabar kepergian Sutopo disampaikan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB melalui Twitter resminya, Ahad (7/7).

Sutopo dikenal sebagai orang yang jujur, sabar, murah senyum dan pekerja keras. Sutopo sudah lama didiagnosa mengidap penyakit kanker dan ginjal. Meskipun begitu, dia tetap semangat, tak kenal lelah menjalankan tugas beratnya meski harus melawan serangan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya.

Sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dikenal pekerja keras, menomorduakan kepentingan pribadi. Bahkan, Kepala Letjen TNI Doni Monardo menilai Sutopo sebagai pahlawan kemanusiaan, yang tetap melayani publik walaupun dalam keadaan sakit dengan semangat kerja dan pengabdian yang luar biasa.

Mengenang Sosok Sutopo
Sutopo

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Kapusdatin-Humas BNPB) selalu menjawab setiap ada pertanyaan dari setiap wartawan yang menghubunginya. Bahkan setiap ada bencana ataupun pencegahan, Sutopo rajin dan sering memberikan informasi baik melalui media sosial (medsos) maupun berbentuk rilis (siaran pers).

Lulusan Fakultas Geografi UGM ini juga rajin sambangi daerah yang terdampak bencana alam di seluruh Indonesia. Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 ini pada Januari 2018 mengecek kesehatan ke dokter spesialis paru-paru. Hati Sutopo berasa hancur ketika dokter memvonisnya mengidap kanker paru-paru stadium 4B. Ia mengaku terkejut bukan main. Padahal, Sutopo bukan perokok dan bergaya hidup sehat, tapi kanker paru tiba-tiba hinggap di tubuhnya. “Ketika saya divonis, istri saya kena (serangan) jantung. Saya kasihan juga,” ungkap Sutopo sembari mengaku kerap kali menangis jika ingat buah hatinya.

Perjalanan Karir Sutopo

Sutopo lahir dan hidup jauh dari berkecukupan. Ia pernah tinggal di rumah kontrakan yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan sudah banyak berlubang. Lantainya pun masih tanah. Kalau musim hujan datang, laron berdatangan dari lubang-lubang tanah rumahnya. “Kalau musim hujan, dari dalam lantai keluar laron banyak. Kami ambil, kami goreng untuk makan,” kenang Sutopo. Akibat kehidupan ekonomi mepet, Sutopo pun pernah terpaksa makan laron. Bagi dia dan keluarga, makan telur adalah sebuah kemewahan. Ia baru bisa makan telur ketika Lebaran.

Karena kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Sutopo kecil kerap kali dirundung teman-teman sebayanya, bahkan disingkirkan dari pergaulan. Namun, Sutopo akhirnya tumbuh menjadi anak muda berprestasi. Beragam predikat dia dapat, mulai dari mahasiswa teladan, juara lomba tingkat nasional, mahasiswa berprestasi, hingga lulus dengan predikat cumlaude dan sarjana termuda. Sutopo mengawali karier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemudian bertugas di BNPB sejak 2010. Awalnya, dia menjabat Direktur Pengurangan Risiko Bencana.

Sutopo dikenal sebagai sosok yang jujur dan apa adanya. Ia selalu menyampaikan data dan fakta apa adanya, tanpa dikurangi, apalagi dilebihkan. Akibatnya, ia sering dimaki dan dihujat orang, bahkan diancam. “Pernah juga saya bikin rilis bencana nasional, yang menghujat banyak sekali. Ada yang bilang, pengkhianat kamu Sutopo, mati kamu!” kata Sutopo. Belum lagi ada pihak yang kerap menegurnya lantaran menyampaikan data yang terlalu detail. Bagi dia, kejujuran kepada publik adalah kunci. Ia selalu menyampaikan fakta, tanpa mau menutup-nutupi apalagi membohongi.

Sebagai Kapusdatin Humas BNPB, Sutopo selalu memberikan informasi saat bencana terjadi di Indonesia, serta rajin mengirimkan rilis pers ke banyak kontak yang mayoritas adalah wartawan. Apa pun yang jadi pertanyaan wartawan, dia jawab. Dedikasinya untuk negeri terlihat tak kenal lelah. Padahal, tubuhnya kini digerogoti kanker paru-paru stadium 4B. Lulusan sarjana termuda predikat cumlaude S1 Fakultas Geografi UGM ini menyelesaikan S2 Program Studi Pengelolaan DAS IPB serta S3 Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan IPB. Baru usia 49 tahun sudah meraih golongan IV/e.

Sutopo mendapat 11 penghargaan sepanjang 2018 diantaranya dinobatkan sebagai Communicator of the Year 2018 dari Kominfo dan ISKI pada 16 Oktober 2018, serta meraih The First Responders dari media The Straits Times Singapura pada 29 November 2018, dan menyandang predikat ASN Paling Inspiratif di ajang Anugrah ASN 2018 yang yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sutopo juga menerima penghargaan The Most Inspirational ASN 2018.

Pesan Spesial Sutopo kepada Santri

Berikut pesan dan harapan Sutopo kepada para santri melalui akun twitternya @Sutopo_PN pada momen peringatan Hari Santri Nasional beberapa tahun lalu yang musti harus dijalankan.

“Santri berperan penting dalam penanggulangan bencana. Ciptakan santri yang tangguh dan peduli bencana,” kata Sutopo, yang saat itu turut meramaikan Hari Santri 2016 di media sosial twitter.

“Selamat memperingati Hari Santri Nasional. Semoga tercipta santri dan ponpes yang tangguh menghadapi bencana,” lanjut Sutopo melengkapi twitt sebelumnya sembari menyebut Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Kini Sutopo sudah pulang ke pangkuan Tuhan, santri mengucapkan selamat jalan Pak Sutopo semoga amal bapak diterima oleh Allah yang maha kuasa dan segala kesalahannya diampuni. Terimakasih Pak Topo, engkau telah mengajarkan kami arti hidup bersama, saling menjaga satu sama lain. Selamat jalan Pak Topo (*)

Penulis: Sanusi

BAGAIMANA MENURUT KAMU?