Review Buku: The Power Of Habit “Dahsyatnya Kebiasaan”

oleh -
Review Buku: The Power Of Habit “Dahsyatnya Kebiasaan”

Yogyakarta – Pernahkah Anda menyadari bahwa seluruh perilaku dan tindakan kita mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi adalah sebuah rangkaian kebiasaan? Hal sekecil bangun tidur langsung mencari hape dan memeriksa notifikasi atau pesan, atau bangun tidur lalu bergegas mandi untuk bersiap bekerja, sampai hal-hal besar seperti siapa saja yang Anda jadikan sahabat atau pasangan dalam hidup ini ternyata adalah ulah dari sesuatu yang bernama habit (kebiasaan).

William James berkata, “Seluruh hidup kita hanyalah kumpulan kebiasaan”. Setiap aktivitas yang kita lakukan, diakui atau tidak, adalah rangkaian kebiasaan.

Kebiasaan adalah mekanisme yang sangat krusial, sesuatu yang perlu kita pelajari dengan mendalam. Tapi, sayangnya kita sering tidak menyadari APA saja kebiasaan kita dan bagaimana kebiasaan kita terbentuk sehingga nantinya dapat diubah.

Penulis buku menggambarkan kebiasaan sebagai “air di mana seekor ikan hidup”. Tapi ikan sering bertanya, “Apa itu air? Di mana air berada?”

Pada tahun 1993, seorang pria bernama Eugene Pauly menjadi pasien sebuah rumah sakit dan laboratorium karena memori otaknya rusak. Karena kehilangan memori, dia lupa saat itu tahun berapa, siapa istrinya, siapa anaknya, dia lupa hampir segala hal-hal yang mendetil maupun hal besar. Tapi peneliti menemukan keanehan: dia tidak lupa jalan ke rumahnya, bagaimana cara menyalakan TV, dan letak snack di dapur. Dia melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut persis seperti saat dia belum kehilangan memori.

Peneliti menyimpulkan bahwa kebiasaan tersimpan di bagian otak bernama ganglia basal. Selama bagian otak tersebut tidak rusak, kebiasaan akan tetap ada/menetap meskipun bagian otak lain yang menyimpan memori dan sebagian besar fungsi kognitif telah rusak.

Ini membuktikan bahwa kebiasaan berjalan otomatis tanpa harus disetir oleh memori dan keputusan sadar untuk melakukannya. Penjelasan tentang hal ini mirip dengan seseorang yang berjalan ketika tidur (sleepwalking), dia bisa pipis ke kamar mandi (atau aktivitas lain yang telah jadi kebiasaannya) walaupun dia sedang tidak sadar.

Mengapa kita membentuk kebiasaan? Karena otak akan terlalu lelah jika terus melakukan ribuan keputusan secara manual setiap hari setiap akan melakukan sesuatu. Otak membutuhkan sebuah mekanisme yang bisa berjalan secara otomatis yang akan meringankan bebannya. Sehingga, energi psikis yang tersisa bisa dialihkan untuk melakukan hal lain yang lebih besar.

Analogi untuk menggambarkan kebiasaan adalah aktivitas bersepeda. Bayangkan, ribet sekali jika setiap akan naik sepeda, kita harus memikirkan ulang bagaimana cara mengayuh, cara menyeimbangkan, cara berbelok, dst. Jadi, kita melakukannya begitu saja, kan? Jadilah otak membentuk kebiasaan.

Kebiasaan adalah pola menetap. Kebiasaan, pada satu titik di masa lalu, adalah tindakan yang dibuat secara sengaja, lalu berhenti “dipikirkan” namun terus dilakukan. Kebiasaan bisa diubah, bila kita paham bagaimana ia bekerja.

Bagaimana kebiasaan bekerja?

Kebiasaan pada dasarnya adalah lingkaran yang berisi:

1. Tanda (cue)

2. Rutinitas (routine)

3. Ganjaran (reward)

Ketiga hal di atas didorong oleh rasa menginginkan sesuatu dengan kuat (craving).

Polanya seperti ini:

Tanda -> Rutinitas -> Ganjaran

Misalnya, setiap saya melihat donat di dapur (tanda), saya akan memakannya (rutinitas), lalu saya pun akhirnya merasakan kelezatan donat tersebut (ganjaran). Kebiasaan tersebut didorong oleh rasa ingin makan dengan kenyang tapi tetap enak (craving). Hal itu menjadi kebiasaan, yang akhirnya setiap melihat penjual donat atau lewat di J.Co saya ingin makan donat.

Begitu pula dengan saya yang meninginkan pencapaian akademik yang bagus (craving). Tiap jam masuk kuliah (tanda), saya akan belajar dengan sungguh-sungguh (rutinitas) supaya dapat nilai A di ujian (reward).

Sebelum menjadi pecandu alkohol dan memulai kebiasaan minum, seseorang biasanya merasa penat atau tertekan (tanda), kemudian dia meminum alkohol (rutinitas) dan mendapat ganjaran (reward) berupa rasa lega atau interaksi sosial dengan orang lain saat minum alkohol.

Begitu pula yang terjadi dengan kebiasaan merokok, bergosip, main smartphone berlebihan, makan cemilan tak sehat, begadang semalaman, dan sebagainya.

Kebiasaan Tidak Bisa Dihilangkan

Kebiasaan hanya bisa diganti atau dimodifikasi. Untuk mengganti kebiasaan, kita perlu mengganti rutinitas lama dengan rutinitas yang berbeda namun tetap memiliki tanda dan ganjaran yang sama.

Untuk mengubah kebiasaan merokok, Anda harus mengidentifikasi sebab utama mengapa Anda merokok. Apa yang sebenarnya Anda harapkan setelah merokok? Rasa lega dan tenang, rangsangan setelah makan, atau untuk bersosialisasi dengan sesama pria? Anda harus menyisipkan rutinitas baru yang memberikan ganjaran serupa dengan yang ditawarkan rokok, seperti permen dengan rasa khusus, olahraga singkat, latihan pernafasan dengan pura-pura memegang rokok, atau ngobrol dengan orang-orang yang tak merokok.

Bila Anda ingin berhenti ngemil di tempat kerja, cari tahu dulu: apakah ganjaran yang Anda inginkan adalah memuaskan rasa lapar? Atau menghilangkan kebosanan? Carilah rutinitas lain sesuai hal itu, misal berjalan-jalan di luar sebentar daripada ngemil, atau main internet 3 menit, apapun yang memberi distraksi yang sama tanpa menambah lingkar pinggang Anda.

Kebiasaan adalah rumus otomatis otak: sewaktu kita melihat tanda, kita akan melakukan rutinitas agar memperoleh ganjaran. Kita hanya perlu mengidentifikasi rutinitas yang ingin diubah, lalu mengganti dengan rutinitas baru yang diawali dengan tanda yang sama dan menawarkan ganjaran yang sama.

Buku ini menuliskan pentingnya memiliki kelompok pendukung yang bisa saling menguatkan satu sama lain saat merasa goyah dalam usaha mengubah kebiasaan, yang bisa membuat Anda percaya bahwa perubahan itu tidak mustahil. Misal, sekumpulan mantan perokok lain, grup diet, komunitas menulis, kelompok pejuang skripsi, dan sebagainya. Kepercayaan bahwa perubahan bukan hal yang mustahil tumbuh dari pengalaman bersama, bahkan meskipun komunitas tersebut hanya terdiri atas dua orang.

Penting untuk diperhatikan bahwa meskipun proses pengubahan kebiasaan mudah dijabarkan, bukan berarti mudah dijalankan. Sungguh ceroboh kalau mengira bahwa merokok, kecanduan alkohol, makan berlebih, atau pola-pola lain yang sudah lama tertanam dapat dibalikkan tanpa betul-betul berusaha.

Perubahan sungguhan memerlukan usaha dan pemahaman diri mengenai motif yang mendorong perilaku. Mengubah kebiasaan apapun membutuhkan kebulatan tekad. Tidak ada orang yang akan berhenti merokok hanya karena mereka berhasil menggambarkan pola kebiasaan. Memahami pola kebiasaan tidak membuatnya mendadak hilang, tapi kita akan tahu bagaimana mengubah pola itu.

Kebiasaan yang saya ubah dan kembangkan sendiri:

1. Latihan menulis setiap hari karena saya selalu butuh untuk mengungkapkan pikiran. Saya tetap menulis dan mengerjakan apa yang perlu saya kerjakan (berusaha tetap produktif), tak peduli mood saya pada hari itu. -> membentuk kebiasaan

2. Saya mengubah rutinitas untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan dengan membaca buku setiap hari, alih-alih dengan membuka medsos berjam-jam yang lebih banyak berisi post nirfaedah. -> membentuk kebiasaan

3. Ketika saya butuh berinteraksi sosial, saya bertemu dan ngobrol dengan teman-teman atau kerabat, bukan bergosip di forum internet. -> membentuk kebiasaan.

Beberapa prinsip perubahan kebiasaan:

1. Mengubah kebiasaan memerlukan usaha (grit).

3. Kebiasaan satu bisa mempengaruhi kebiasaan yang lain.

2. Menuliskan rencana dan antisipasi terhadap segala tantangannya akan menguatkan kebiasaan.

Kesan tentang buku:

Diterbitkan tahun 2016 oleh Kepustakaan Populer Gramedia, buku nonfiksi terjemahan 371 halaman ini bahasanya sangat formal, kaku, serius, dan cukup berat (tidak seringan review saya), sehingga mungkin akan membosankan bagi Anda yang tidak terlalu suka pendekatan ilmiah dalam menganalisis perilaku dari sudut pandang Psikologi.

Buku ini memaparkan banyak penelitian yang relevan mengenai kebiasaan serta cara memodifikasinya, baik kebiasaan individu, kebiasaan di perusahaan, maupun kebiasaan di komunitas, beserta banyak sekali contoh kasusnya.

Ada mantan anak brokenhome pecandu narkotika dan bermasalah dengan hukum yang berhasil jadi manager Starbucks, ada CEO yang berhasil melipatgandakan keuntungan industri yang terancam gulung tikar, itu semua karena mereka berhasil mengubah kebiasaan. Ya, perubahan bisa terjadi. Maka dari itu, buku ini perlu untuk dibaca para pemegang kebijakan dan siapapun yang ingin mendalami ilmu perilaku.

Kalau penasaran, beli saja!

Nilai buku: 7.5 dari 10

Semoga bermanfaat,

Afi Nihaya Faradisa