Ponpes Tebuireng & Muhammadiyah Buat Film “Jejak Langkah 2 Ulama”

oleh -
Ponpes Tebuireng & Muhammadiyah Buat Film "Jejak Langkah 2 Ulama"

Yogyakarta – Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sedang menggagas film berjudul Jejak Langkah 2 Ulama bersama Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah. Film tersebut akan menceritakan perjalanan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan .

Menurut Pengasuh Ponpes Tebuireng Solahuddin Wahid,  memperkenalkan kedua tokoh melalui film kepada masyarakat akan lebih mudah serta akan lebih dekat dengan keteladanan mereka.

“Dua tokoh ini merupakan dua diantara empat raksasa umat Islam pada zaman itu,” kata kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Gus Sholah juga menambahkan, keempat tokoh yang dia maksud di antaranya: Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Hasyim Asy’ari, ada juga Umar Said Cokro Aminoto dan Agus Salim.

“Dengan kerja sama ini saya pikir kita bisa bersama-sama menyajikan kepada masyarakat bagaimana perjuangan para tokoh ini,” kata dia.

Sutradara Film Sigit Ariansyah menyatakan peremran Kiai Hasyim Asy’ari maupun Kiai Ahmad Dahlan tak akan melibatkan artis papan atas melainkan akan diprioritaskan untuk kader NU dan Muhammadiyah. “Seperti untuk pemeran Kiai Hasyim saya wajibkan memiliki keahlian membaca kitab kuning dan fasih melafalkan bahasa Arab,” kata dia.

Nantinya yang akan berperan sebagai Kiai Hasyim Asy’ari sewaktu sudah dewasa akan  diperankan Gus Reza yang tak lain cucu dari Kiai Hasyim atau sepupu dari Gus Solah. Sementara untuk pemeran Kiai Ahmad Dahlan, hingga sekarang masih dalam proses casting. “Sekarang yang belum menemukan adalah pemeran Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari kecil,” kata Sigit.

Baca juga: Film The Santri 2019 Bukti Pesantren Punya Artis

Awalnya gagasan pembuatan film semi documenter ini muncul dari organisasi Islam Muhammadiyah yang kemudian menggandeng Pesantren Tebuireng Jombang sebagai lembaga pesantren rintisan Mbah Hasyim, sapaan akrab Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari.

Gagasan ini muncul sebagai bentuk jawaban dari PP Muhammadiyah terkait maraknya berita hoak, caci maki dan bom bunuh diri di Nusantara. Sebagaimana yang terlontar dari mulut Ketua LSBO PP Muhammadiyah Sukriyanto AR waktu konferensi Pers di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu.

“Padahal kedua ulama ini telah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan cara yang menyejukkan, menyegarkan, damai, dan penuh toleransi,” kata Syukri.

Kata dia, KH Muhammad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari dengan mendirikan dua organisasi besar yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), kedua ulama itu mampu menanamkan ajaran Islam yang damai, teduh, toleran, mencerahkan, dinamis, serta membangun dan mempersatukan bangsa di Indonesia.

Bukan hanya itu, lanjut Syukri, film yang akan segera digarap Agustus dan tayang pada September 2019 itu juga bertujuan untuk memperlihatkan kedekatan hubungan NU dan Muhammadiyah.

Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari, menurut Syukri, merupakan ulama yang sama-sama pernah jadi santri dari KH Saleh Darat, Semarang, juga sama-sama pernah jadi santri KH Cholil Bangkalan juga kepada beberapa ulama di Makkah yaitu seperti Syaikh Ahmad Khatib Al Minagkabauwy, Syeh Al Bantany, Kyai Dimyati asal Tremas.

Ini menarik karena memiliki misi untuk mengedukasi masyarakat luas, menurut dia, penayangan film itu tak akan tayang di bioskop, melainkan melalui tanda tangan masyarakat dengan konsep “layar tancap” dengan kualitas telah mutakhir. “Karena yang ingin kita edukasi bukan hanya orang-orang kota, tetapi juga masyarakat pinggiran yang tidak bisa mengakses bioskop,” kata dia.

Baca juga: Jadwal Film The Santri Akan Tayang pada Bulan Berikut Ini

Sementara Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sangat mengapresiasi gagasan tersebut. Menurut dia, sekarang banyak orang yang hanya menjadikan Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari sebagai tokoh primordial, tapi tidak tahu sejarah keduanya serta kedekatan hubungan keduanya dalam membangun bangsa.

Haedar juga menambahkan, kedua ulama ini tidak pernah saling merendahkan, mealinkan saling menghormati ketika memiliki perbedaan pandangan. Mereka berdua juga mempunyai misi yang sama untuk membangun karakter bangsa.

“Disamping menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat, Islam yang damai, tapi juga membawa pembaruan untuk kemajuan bangsa. Ini perlu menjadi ‘role model’ generasi baru,” kata Haedar. (Nur/tara)