di , ,

Otot Mental dan Mengendalikan yang Tidak Bisa Dikendalikan

Otot Mental dan Mengendalikan yang Tidak Bisa Dikendalikan

By: @afi-nahaya-faradisa

Yogyakarta – Saat aku kecil, aku sering membantu ibuku mengangkat belanjaannya dari pasar sebelum dimasak lalu dijual. Tas yang kemungkinan hanya berbobot 5 kg itu terasa berat sekali. Tapi, sekarang saat aku mengangkat tas dengan bobot yang sama, rasanya ringan-ringan saja.

Kenapa sekarang berbeda? Apa yang membedakan? Dulu, aku merasa tasnya berat bukan karena tasnya yang berat, tapi karena ototku belum cukup berkembang. Aku belum memiliki tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkat beban 5 kilogram.

Begitu pula dengan masalah dalam hidup. Masalah terasa berat bukan karena masalahnya yang berat, tapi karena kapasitas mental kita lah yang terbatas. Beban masalahnya bisa saja sama, tapi rasanya akan jauh berbeda ketika ditanggung oleh orang yang secara mental kuat dengan orang yang secara mental lemah. Seperti anak kecil yang tidak bisa mengangkat beban 5 kilogram, kita akan tetap merasa keberatan dengan masalah-masalah hidup jika “otot mental” kita memang lemah.

Baca juga: Review Buku: The Power Of Habit “Dahsyatnya Kebiasaan”

Sebagaimana otot tubuh, otot mental juga bisa dilatih dan dikembangkan supaya kapasitasnya untuk menanggung masalah semakin membesar. Kita saja yang tidak terbiasa. Padahal, otot mental itu tidak stagnan, tidak statis, bisa berkembang sebagaimana yang kita inginkan.

Melalui latihan fisik di gym, otot tubuh bisa dibentuk untuk mula-mula bisa mengangkat 10 kg dengan mudah, lalu 20 kg, lalu 25 kg. Terkait otot mental, kita juga perlu kemauan dan kesabaran untuk melatihnya terus menerus, dengan cara memproses setiap pengalaman hidup, baik yang positif maupun negatif. Bukan menyangkalnya, bukan memendamnya, bukan lari darinya, bukan “melampiaskannya” kepada hal atau orang lain.

Pada mulanya, setiap latihan akan terasa berat dan sakit, seperti orang yang pertama kali push up atau mengangkat barbel. Tapi, bukankah hidup memang tentang memilih “rasa sakit” mana yang mau kita jalani? Rasa sakit dari “latihan” ataukah rasa sakit dari memiliki mental yang rapuh dan lemah, yang mudah patah oleh setiap terpaan angin?

Ini menjelaskan kenapa dalam menghadapi masalah yang persis sama, 2 orang punya respon dan keadaan mental yang sangat berbeda.

Tapi, kita seringkali seperti ini: saat ada masalah, kita memilih fokus ke masalahnya, bukan fokus pada kapasitas mental kita. Kita memilih jalan pintas. Kita memilih yang mudah dan menyenangkan dalam jangka pendek, tapi jelek dalam jangka panjang. Kita menangisi tas 5 kg yang gagal kita angkat dan sengaja mengabaikan pertanyaan MENGAPA kita gagal mengangkatnya.

Baca juga: Passion: Haruskah Kita Mengikutinya?

Gambar: editing

Hal ini bukan hanya sia-sia dan konyol, tapi juga merusak dan berbahaya untuk mental karena kita mati-matian mencoba mengendalikan sesuatu yang ada di luar kendali kita.

Dalam hidup ini hanya ada 2 hal:

1. Yang bisa kita kendalikan

2. Yang tidak bisa kendalikan

Masalah akan tetap ada, cuaca kerap tidak bersahabat, Yogyakarta mulai sering macet, orang kadang membicarakan hal-hal buruk tentang kita di belakang, pemimpin tetaplah mereka yang menang dalam pemilu, dan mantan tetap menikah dengan kekasih yang baru. Kita tidak bisa mengendalikannya sekuat apapun kita mencoba. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah mental kita sendiri.

Kita tidak bisa mengendalikan pasangan agar selalu mencintai kita. Yang bisa kita lakukan cuma meningkatkan kualitas diri agar tetap layak dicintai. Berusaha jadi permata, bukan batu kali.

Kita tidak bisa mengendalikan pasangan agar tidak selingkuh. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencintai diri kita sebaik-baiknya, sehingga saat seseorang sengaja menyakiti, kita berani untuk pergi.

Saat macet, kita bisa memilih untuk memukul-mukul dasbor mobil, mengklakson kendaraan di depan tanpa henti, dan mengumpat pada apapun yang bisa disalahkan karena jadwal kita jadi berantakan.

Atau kita bisa memilih untuk menarik napas, mengambil buku atau smartphone untuk membaca sejenak, atau mendengarkan musik relaksasi.

Hidup adalah pilihan. Kita tidak bisa tidak memilih. Jadi, kenapa tidak sekalian saja membuat pilihan yang paling baik?

Energi psikis itu terbatas. Jika kita cuma fokus meratapi tas 5 kg, kita akan kehabisan energi untuk fokus pada hal yang lebih masuk akal, seperti mulai melatih mental.

Do you want to get better? I hope so.

– Afi Nihaya Faradisa

BAGAIMANA MENURUT KAMU?