Demi-Mu

oleh -
Demi-Mu

Oleh: @Lifa Ainur Rahmah

Surabaya – Sudah lima belas menit Nuya dan Jason berdiam diri di kantin. Surat Al-Mulk ayat enam sampai dua belas yang baru dikenal Jason semakin membuatnya resah.

“Nuya..” pemilik nama lengkap Nurul Yaqin itu menoleh,

“Kemarin aku membaca beberapa buku berisi  biografi Muhammad. Juga surat Ar-Rahman.”

“Lalu?”

“Muhammad tinggal di Makkah-Madinah. Ia menghabiskan hidupnya di tempat kering, tandus, dan sulit air. Ia adalah seorang Ummi –sosok  yang tidak bisa baca-tulis.  Tapi di surat Ar Rahman yang ku baca beberapa hari ini, justru menjelaskan tentang keadaan laut dengan sangat detail dan rinci. Di mana bahkan pelaut paling handal pun tidak akan bisa menjelaskannya. Dengan sastra bermutu tinggi, atau rendah sekalipun. Mustahil rasanya, orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan, bisa menuliskan Al-Quran.”

Nuya bergeming, senyum mengambang di bibir tipisnya.

“Menurutmu, apalagi selain berasumsi bahwa Islam adalah agama yang benar?”

“Lalu?”

“Bawa aku pada agamamu. Ajari aku membaca dua kalimat suci itu. bawa aku mengaji. Mengkaji islam lebih dalam lagi.”

Allahu Akbar.

Menurutmu bagaimana, jika orang yang selama belasan tahun menjadi sosok matahari yang menghangatkan, juga oksigen yang memberi kehidupan, tiba-tiba menjadi sosok iblis menyeramkan, yang turun dari rembulan yang sedang gerhana?

“Kau bebas memilih agama manapun semaumu. Yang penting jangan Islam! Kau mengerti, Jason!?”

“Namaku bukan Jason, Ayah.. namaku Nurul Hidayat. Indah, bukan?” sahut pemuda itu lirih. Tubuh pemuda itu demam, selama tiga hari penuh ia belum makan apapun, kecuali minum air putih yang diantarkan adik perempuannya secara sembunyi-sembunyi. Kuku-kuku yang ada di jari tangannya, sudah terlepas dari tempatnya. Ayahnya sendiri yang melakukannya.

“Sekali lagi, Jason, kembali pada agama kami, atau ku cabut sepuluh kuku di jari kakimu itu!?”

“Lakukanlah, Ayah.. aku ikhlas. Insya Allah.”

“Jason!!” napas Ayah pemuda itu tersengal menahan geram. Cekatan lelaki paruh baya itu mengambil sebuah alat, entah apa namanya, mencabut seluruh kuku di jari kaki putranya. Tanpa obat bius atau semacamnya. Muallaf itu merasa dikuliti hidup-hidup. Ia memejamkan mata, sementara hatinya, asyik-masyuk dengan Tuhannya.

Allah yang Maha menjaga, aku mengerti Engkau mencintaiku. Karenanya Engkau mengujiku. Allah yang Maha Penyayang, Allah yang Maha Kuasa, Allah yang Maha segalanya.

Baca juga: Pindah Agama

Hari ke sembilan. Muallaf itu masih bertahan dengan pendiriannya.

Brak!

Pintu kamar pemuda itu terbuka secara kasar. Menampilkan sosok pria paruh baya membawa balok kayu berukuran lumayan besar. Apa yang akan dilakukan Ayah dengan benda itu?

“Ini yang terakhir, Jason. Kembali pada agama kami, atau balok kayu ini akan melayang, dan menindih luka-luka di jarimu itu!”

“Allah Tuhanku. Muhammad junjunganku. Islam agamaku!” ujar pemuda itu dengan kepingan kekuatan yang tersisa.

“Jason!” lelaki paruh baya itu muak, frustasi lebih tepatnya, mendapati putranya bersikeras menentang perintahnya. Ia berteriak kalap. Suaranya mengoyakkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Bersamaan dengan itu, balok kayu yang dibawa lelaki itu menindih luka Jason telak. Seketika, bau anyir darah menyeruak.

“Tinggalkan Islam, atau..” mata lelaki paruh baya itu membelalak. Sedang tangannya menudingkan balok kayu bersimbah darah yang dibawanya.

“Allah Tuhanku. Muhammad junjunganku. Islam agamaku.” Ayah pemuda itu kalap, ia membabi buta, dipukulkannya balok kayu yang dibawanya secara beruntun pada jari-jari putranya.

Jantung muallaf itu semakin gencar menyebut nama Tuhan alam semesta.

“Pergi dari rumahku!” bentaknya. Sementara yang menerima bentakan sudah terkulai lemah, bersama darah yang menyembur dari sepuluh jari yang sudah hancur. Terluka parah.

Karena tak kunjung bergerak, lelaki itu menyeret putranya tanpa perasaan, lalu melemparnya ke luar rumah yang sedang hujan. Tubuh muallaf itu lemas, tidak bisa melawan. Luka-luka di jarinya terasa semakin perih ketika diserang deras hujan. Pintu rumah dibanting. Kasar. Sanagat kasar.

Muallaf itu mencoba bangkit. Sekali, dua kali, tiga kali, dan berkali-kali, namun gagal, dan gagal lagi. sampai akhirnya, ia memilih menyerahkan luka-lukanya disakiti hujan.

“Allah yang Maha menjaga,” batin Pemuda itu berkali-kali. Lirih. Lirih sekali.

“Jason!” sebuah langkah lebar-lebar menghampiri muallaf itu. lalu tangannya merengkuh tubuh pemuda yang sedang terluka parah itu.

“Jason, sadarlah! Kamu bisa mendengarku?”

“Hey! Aku bukan Jason. Aku ini Nuya!” bentaknya lemah. Sebuah tamparan tipis mendarat di pipi Nuya. Tunggu! Jason menyebut dirinya siapa tadi? Nuya?

“Nuya?”

“Iya. Nurul Hidayat, kan?” astagfirullah. Nuya menepuk jidat. Dua sahabat itu tertawa di bawah hujan.

“Ada apa, Jason?”

“Nuya!” protes muallaf itu lagi. pemuda bernama Nurul Yaqin itu nyengir kuda.

“Tolong bawa aku berteduh, tangan dan kakiku terasa perih.” Jari-jari Jason yang hancur, menjadi fokus Nuya sekarang. Hujan mulai reda, mata Jason meredup, hampir tertutup.

“Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu harus bertahan. Kita akan mengkaji Islam lebih dalam.” Bibir Jason semakin pucat. Nuya cemas bukan main, cekatan ia membopong Jason menuju moto matic miliknya. Sekilas, diamatinya rumah megah tempat semula sahabatnya singgah.

“Jason, ku mohon bertahanlah!”

 Yaa Hafidz.. lindungi sahabatku.

“Aku akan bertahan, Nuya.. pasti. Kita akan mengkaji islam lebih dalam lagi nanti.” Teriak Jason dalam hati. Sementara itu, tubuhnya lunglai. Penglihatannya mulai kabur dan samar. Dan tiba-tiba, ia tidak bisa melihat apa-apa. Dunianya menjadi gelap dan tak terlihat. (*)