Amanah Rasulullah kepada Sahabat Penyandang Disabilitas

oleh -
Amanah Rasulullah kepada Sahabat Penyandang Disabilitas

Jember – Beginilah cara Rasulullah memperlakukan penyandang disabilitas atau difabel. Abdullah bin Ummi Maktum Radliyallahu Anhu ini istimewa. Beliau menjadi penyebab turunnya Surat ‘Abasa. Sebagai penyandang tunanetra, beliau juga menjadi muadzin kesayangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, selain Bilal bin Rabah Radliyallahu ‘Anhu.

Tak hanya itu, ketika memimpin ribuan sahabat dalam ekspedisi Fathu Makkah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memasrahkan kota Madinah di tangan Abdullah bin Ummi Maktum r.a. Ini adalah di antara wujud kepercayaan beliau kepada penyandang disabilitas.

Selain Abdullah bin Ummi Maktum r.a., ada juga difabel lain, yaitu sahabat Amr bin Jamuh r.a. Beliau yang memiliki kaki pincang merupakan seorang sahabat yang sangat dihormati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Menjelang Perang Uhud, Amr bin Jamuh r.a. sowan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku berperang di jalan Allah hingga aku terbunuh, apakah aku akan berjalan dengan kakiku dalam keadaan sehat di surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Baca juga: Ayah, Mengapa Aku dan Adik Dibawa ke Mari?

Penyandang disabilitas ini akhirnya bergabung dalam Perang Uhud hingga menjadi syahid dalam pertempuran itu. Beliau dikebumikan dalam satu liang lahat bersama sahabat karibnya, Abdullah bin Amr bin Haram r.a.

Dua peristiwa di atas menjadi bukti, penyandang disabilitas memilik kesamaan hak untuk berjuang. Rasulullah bahkan memberi kepercayaan kepada seorang tunanetra untuk menjadi pemimpin Madinah, di saat beliau melakukan ekspedisi militer. Dalam riwayat lain, beliau marah melihat Abdullah Ibnu Mas’ud, sahabat yang punya suara merdu ketika membaca Al-Qur’an itu, dihina fisiknya karena memiliki kaki yang kecil.

Dalam lanskap sejarah Islam, ada banyak kaum difabel yang punya peran besar. Dalam kajian Rijalul Hadits, ada beberapa perawi yang mengalami kebutaan. Mereka dikenal dengan nama ad-dharir, atau orang yang kemampuan melihatnya hilang. Seperti Hafs bin Umar Abu Umar ad-Dharir, ahli hadits asal Bashrah yang lahir dalam kondisi buta, namun menguasai fiqh, faraidl, syair Arab purba, dan astronomi.

Selain itu, ada Abu Mu’awiyah Muhammad bin Khazim ad-Dharir, dan Muhammad bin Yahya bin Hisyam ad-Dharir. Ada juga yang disebut al-A’masy atau pandangannya rabun/buram. Seperti Sulaiman al-A’masy. Uniknya, masing-masing penyandang disabilitas ini bisa saling berguru.

Lebih keren lagi, beliau-beliau ini memiliki murid yang kondisi fisiknya normal. Abu Mu’awiyah sendiri merupakan guru dari Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in.

Di abad XX, sejarah juga mencatat Profesor Doktor Thaha Husein dari Mesir. Dia menderita tunanetra sejak kecil. Tapi semangatnya menuntut ilmu telah mengabaikan kondisi fisiknya. Dia lantas menempuh studi ke Universitas Al Azhar untuk mempelajari sastra Arab. Kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Sorbonne Paris dan menikahi perempuan Perancis.

Ketika menulis disertasi, dia sudah punya satu buah hati. Tatkala mengerjakan disertasi, dia bertugas menggendong anaknya, sedangkan istrinya membacakan literatur. Pria tangguh ini kemudian menyimpulkan materi, sedangkan istrinya yang menuliskan pendapatnya. Romantis, bos! Hingga saat ini Prof. Thaha Husein dikenal sebagai salah satu pelopor sastra Arab modern.

Sezaman dengan Prof Thaha Husein di Timur Tengah, Barat juga melahirkan Hellen Keller. Pribadi hebat yang menyandang tunanetra sejak usia belia. Kondisi fisiknya yang terbatas tak membuatnya mengasihani diri sendiri. Perempuan cerdas ini dikenal sebagai sosok aktivis, penulis, dosen, dan penggerak misi sosial.

Di Indonesia, kita mengenal KH. Abdurrahman Wahid yang dalam kondisi keterbatasan fisiknya beliau mampu menjadi pribadi yang luar biasa. Menjadi penulis, aktivis sosial-kultural, guru bangsa, pemimpin keagamaan, hingga presiden. Dalam keterbatasan fisiknya: beberapa kali dihajar stroke dan kondisi penglihatan yang tidak stabil, beliau memberi contoh pribadi yang tegar. Perjuangannya dilanjutkan oleh istrinya, Bu Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang juga hidup dengan keterbatasan fisik akibat lumpuh karena kecelakaan lalu lintas.

Pribadi-pribadi tangguh dan inspiratif di atas telah mematahkan anggapan sebagian besar masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak dapat belajar dan bekerja dengan baik serta hanya bisa bergantung pada orang lain. Hal ini memprihatinkan, sebab penyandang disabilitas punya talenta tersendiri. KH. As’ad Humam, penemu metode Iqra’ yang telah menyelamatkan jutaan umat Islam dari buta huruf al-Qur’an, adalah seorang difabel. Sejak remaja, beliau mengalami gangguan fisik berupa pengapuran dini di bagian tulang belakang sehingga selanjutnya tidak mampu bergerak secara wajar. Justru dalam kondisi seperti ini beliau mampu mengembangkan potensinya sebagai seorang pendidik. Keren, kan?

Penulis: Rijal Mumazziq (Rektor Perguruan Tinggi Inaifas Jember)

Editor: Muweil