Syaikh Nawawi Banten dan Semangat Pendidikan Pesantren

oleh -
Pola Pengajaran dan Pendidikan Syaikh Nawawi Banten
Gambar: NUonlie

SantriNow | Sosok Syaikh Nawawi Banten di mata dunia adalah seorang ulama besar asal Indonesia. Ulama kelahiran Banten 1813 M ini masyhur dengan sebutan Syaikh Muhammad Nawawi al-jawi al-Bantani. Bangsa Indonesia yang kala itu berada dalam cegkraman penjajah Belanda, Banten di bawah kesultanan Hasanudin (1550-1570) mulai mengalami kemunduran. Tepatnya ketika raja Banten, Pangeran Ahmad ditangkap dan diasingkan oleh Rafles ke Surabaya. Dengan itu, kerajaan Banten pun dihapuskan atau dihilangkan.

Kala itu, Syaikh Nawawi ada dalam pengawasan Penjajah Belanda. Beliau dianggap sebagai sosok yang membahayakan karena ceramahnya yang dinilai menentang penjajah dan mempengaruhi masyarakat Banten. Kecintaan masyarakat kepada Syaikh Nawawi menjadi ancaman dan benih pemberontakan terhadap pemerintah kolonial.

Meski dalam tekanan, Syaikh Nawawi tidak agresif dan reaksioner. Bahkan ia berpandangan,  umat muslim boleh berintraksi, bekerjasama di bidang ekonomi dengan orang kafir (asing) yang tidak menjajah, sembari membekali masyarakat dengan pendidikan, keagamaan yang kuat dan semangat mencari kebenaran.

Kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dikenal dengan sistem tanam paksa di bidang ekonomi membuat masyarakat bergejolak. Untung saja masyarakat kala itu, khususnya di Banten sudah dapat pendidikan kebangsaan dan agama dari Syaikh Nawawi hingga tumbuh semangat hidup religius di kalangan masyarakat.

Bukan hanya di Banten saja, umat muslim di beberapa titik di Nusantara juga mengalami kebangkitan. Dari sinilah bangkitnya pendidikan pesantren, tarekat serta memiliki hubungan yang baik dengan Mekkah. Dengan itu, Islam di Nusantara semakin berkembang.

Baca juga: KH Abdul Hamid Sosok Ulama dengan Sejuta Karomah

Pengaruh Syaikh Nawawi Terhadap Pendidikan Pesantren

Syaikh Nawawi memiliki habitus dan semangat belajar yang tinggi berkat pendidikan keluarganya keturunan Sulatan Maulana Hasanuddin Banten. Sejak usia 5 tahun, Syaikh Nawawi kecil dididik ayahnya KH Umar dasar-dasar bahasa Arab, Fiqih, Tauhid, dan tafsir. Bekal pengetahuan itu mendorongnya untuk pergi belajar ke beberapa pesantren di Jawa seperti belajar pada Kiai Sahal di daerah Banten dan Kiai Yusuf di Purwakarta.

Ketika usianya beranjak 15 tahun, ia dengan keyakinan tinggi berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan tinggal di sana selama 3 tahun. Selama tinggal di Mekkah, ia juga mendalami pengetahuan tentang Islam. Sebab ketekunan dan kealimannya dalam bidang agama, Syaikh Nawawi kemudian jadi tokoh yang memiliki peranan penting dalam memberikan sumbangan keilmuan khususnya dalam bidang hukum fiqh.

Saking semangatnya belajar ilmu agama, separuh hidupnya selama di Mekkah ia habiskan untuk belajar dan mendalami ilmu pengetahuan agama kepada ulama Mekkah dan Madinah. Beberapa guru beliau yang terkenal selama di Mekkah di antaranya; Syaikh Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan serta Syaikh Muhammad Khatib al-Hanbali di Madinah.

Meskipun beliau kala itu masih di Mekkah, Syaikh Nawawi juga tak ketinggalan terus mengamati situasi yang ada di Indonesia. Bahkan tak jarang, ia memberikan ide-ide dan pemikiran bagi kemajuan masyarakat di tanah air.

Keahlian Syaikh Nawawi dalam memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran tidak lepas dari pengaruh para pemikir-pemikir Islam, salah satunya adalah Fakhr al-Din al-Razi yang memberikan corak filsafat dalam metode tafsir Al-Quran. Hasilnya adalah banyaknya karya-karya Syaikh Nawawi tentang tafsir yang dikenal secara luas di hampir seluruh dunia Arab. Sebagai seorang imam dan guru besar di Masjidil Haram, Syaikh Nawawi juga memiliki pengaruh bagi beberapa penganut aliran Syafi’i seperti Hadratus- Syaikh Hasyim Asy’ari pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdatul Ulama.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sosok Maulana Habib Luthfi bin Yahya

Buah Pikir Syaikh Nawawi dalam Karya-karyanya

Sejak Syaikh Nawawi belajar di Mekkah, kepandaian dan kebijaksanaan mulai tumbuh dan berkembang, bahkan ia menjadi seorang yang aktif dan produktif dalam mengembangkan ilmu yang didapatkan. Kepandaiannya dalam menulis perlahan membuat cara pikirnya semakin terbuka. Tak jarang, ide-ide dan pemikirannya memiliki pengaruh bagi perkembangan pendidikan pesantren yang tadinya hanya fokus pada kemampuan berceramah, perlahan mulai mengembangkan hasil pemikiran dalam bentuk karya ilmiah.

Syaikh Nawawi telah menulis paling tidak sembilan bidang ilmu pengetahuan: Tafsir, Fiqh, Usul al-Din, Ilmu Tauhid (teologi), Tasawuf, Kehidupan Nabi, Tata Bahasa Arab, Hadits dan Akhlak. Karena keahliannya dalam menerangkan kata-kata dan kalimat Arab, ia menjadi terkenal di dunia Internasional.

Dari beberapa karya-karyanya itu menjadi sebuah referensi pokok yang banyak dipakai dan dipelajari di Pesantren-pesantren Jawa. Untuk itu, ia pantas mendapat sebuah apresiasi sebagai seorang pemimpin ulama Hijaz atau Sayyid ulama Hijaz.

Karya-karya dari Syaikh Nawawi Albanteni dipandang oleh banyak muridnya sebagai sebuah karya pengetahuan yang ringan dan mudah dimengerti, khususnya dalam hal tafsir dan hukum. Ide yang tertuang dalam tafsir yang dibuat oleh Nawawi bukan sekedar menjelaskan bagaimana cara menulis dan cara membaca tetapi juga cara mengartikan sebuah teks dengan benar, mudah dimengerti dan sampai saat ini menjadi mata pelajaran di banyak pondok pesantren, madrasah dan perguruan tinggi di benua Timur Tengah, Asia dan Indonesia. Dari banyak karya yang dihasilkan oleh Syaikh Nawawi, karyanya Marah LabidTafsir Nawawi menjadi sebuah pemikiran yang memiliki peran bagi pendidikan pesantren. Dalam karyanya itu, ia memaparkan bahwa pendidikan menjadi suatu sarana penting bagi manusia sebagai makhluk yang berdimensi fisik dan rohani. (*)

Penulis: Muhammad Basri

No More Posts Available.

No more pages to load.