Sejuta Tantangan Santri, dan Pesantren Era Millennial

oleh -
Sejuta Tantangan Santri, dan Pesantren Era Millennial

SantriNow | Santri era millennial seperti sekarang tantangannya tidak sedikit. Ada sejuta tantangan yang mesti harus mereka hadapi, dan harus lolos. Sekali lagi harus lolos, karena bila gagal mereka hanya akan jadi generasi penonton bahkan korban dari kemajuan teknologi informasi.

Tantangan calon santri era millennial  
Gambar: Ilustrasi anak usia SD yang gemar main game

Anak seusia Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) sekarang sudah pintar main game online seperti Mobile Legends (ML) dan lainnya. Dan mereka sudah biasa nongkrong di warkop yang menyediakan WIFI guna main game online disana sepas-puasnya. Sehingga bila orang tua lalai dalam pengawasan bisa terbawa pergaulan yang menjerumuskan seperti merokok di usia yang sangat belia dan seterusnya.

Pola hidup semacam ini di usia anak SD atau MI sungguh memperihatinkan. Dan ini tantangan orang tua millennial zaman sekarang. Dan bila pembaca adalah orang tua yang memiliki anak candu game online pasti merasakan betapa sulitnya merayu anak supaya mau mondok di pesantren. Tapi penulis yakin, betapa pun sulitnya, orang tua pasti punya cara untuk meluluhkan sang buah hati agar bisa jadi santri.

Baca juga: Santri Baru Seperti Orang yang Baru Hidup di Perantauan

Tantangan Generasi milllennial yang baru mondok    
Gambar: Santri baru mondok menangis hingga dipeluk ibundanya

Tarulah anak yang baru mondok tersebut sewaktu masih di rumah punya kebiasaan main game online bersama teman-temannya. Bahkan tak jarang si anak main mobile legends bersama bapak atau ibunya. Penulis tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya batin si anak pada saat awal-awal berada di pesantren. Bukan hanya si anak, mungkin orang tuanya juga berat hati untuk melepaskan anak pergi kemudian bermukim di pesantren. Itulah kenyataan yang harus dihadapi santri baru dan orang tua era millennial jaman sekarang.

Sebagai orang tua yang berharap agar anaknya kelak memiliki ilmu agama yang memadai memang harus tega melepas buah hatinya mondok di pesantren untuk beberapa tahun. Karena bila tidak begitu, melihat kondisi sekarang yang serba mudah dan bebas, khawatir anak tidak dapat mempergunakan waktu emasnya untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan memperbaiki moral.   

baca juga: Santri Millennial Haram Membawa HP ke Pesantren

Tantangan santri dan pesantren di era millennial
Gambar: salah santri Jawa Timur meraih juara dalam kompetisi robotik di Jepang

Santri pesantren era millennial tak cukup hanya jadi santri yang bisa baca kitab klasik (kitab gundul), baca quran dan hal lain yang sudah biasa jadi program pensantren sejak zaman old. Namun santri sekarang juga harus terjamin kebutuhannya di bidang lain yang sesuai dengan kebutuhannya sekarang, seperti penguasaan bahasa asing, sastra dan penguasaan teknologi informasi. Artinya pensantren harus menyediakan fasilitas yang dibutuhkan santri, seperti perpustakaan, lab bahasa, lab komputer, dan hal-hal lain yang dibutuhkan generasi millennial.

Karena diakui atau tidak, pesantren masih memiliki pekerjaan rumah yang sebaiknya segara diselesaikan:

1. Santri masih tertinggal dalam bidang teknologi
Jihad santri adalah belajar dengan tekun

Nadirsyah Hosen, sebagai orang yang menyadari tentang ketertinggalan pesantren di bidang teknologi mengatakan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah tantangan terberat santri dan pesantren zaman sekarang. Maklum, rata-rata pesantren di Indonesia melarang santri-santrinya membawa handphone pintar dan laptop. Sementara pesantren tidak menyediakan alat-alat itu karena dianggap bukan kebutuhan utama.  

Ini tentu sebuah dilema. Sebab, di masa lalu, Islam pernah jaya justru karena ilmu pengetahuan. Dikutip dari INDTimes,

“Kita pernah punya Averus dan Ibnu Sina. Dulu kita pernah jaya, kemudian hari ini disusul oleh Barat. Ini juga menjadi tantangan. Saya membayangkan ada ahli fisika yang paham fiqih, dokter yang hafal Alquran. Jadi tantangan yang dimaksud bukan semata-mata tantangan fisik,” kata pria yang karib disapa Gus Nadir ini. 

Secara tersirat, ia menyayangkan daya literasi santri dan umat Islam yang semakin lama semakin rendah. Padahal, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah anjuran untuk membaca. 

“Wahyu pertama adalah perintah untuk membaca, iqro (bacalah!). Objeknya tidak disebut baca kitab kuning atau buku biologi, makanya saya gak setuju dengan pemisahan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dulu Averus itu dokter yang juga ahli filsafat, sama juga Ibnu Sina. Nah, Islam pernah berjaya karena berhasil menginstitusionalisasikan wahyu pertama itu,” ujar pria yang juga mengajar di Monash University ini.

Baca juga: Santri Zaman Now Wajib Tetap Menjaga Akhlak

2. Adab harus tetap nomor satu
Santri pasti memiliki budi pekerti luhur

Meskipun harus melek teknologi, santri tetap wajib meletakkan aklakul karimah paling depan. Kata Gus Nadir, tak ada gunanya pintar baca kitab, hafal quran dan menguasai ilmu lainnya kalau akhlaknya bejat. Artinya santri harus tunduk kepda kiainya karena dialah pemilik ilmu.

“Saya itu S1 dua kali, S2 dua kali, S3 dua kali, tapi kalau bertemu kiai sepuh tetap cium tangan. Adab itu penting. Bahkan, cara berjalan cara duduk di hadapan orang berilmu itu penting. Kalau kata Gus Mus santri itu tidak harus mereka yang belajar di pesantren. Santri itu adalah mereka yang memiliki akhlak,” dia mengingatkan. 

Baca juga: Cara Santri Now Identifikasi Informasi Palsu (Hoax) di Media Sosial

3. Santri harus menjadi pencerah bukan penyebar hoaks
Santri nyatakan perang pada penyebar hoax

Melek teknologi dan beradab saja belumlah cukup. Tugas berat lain seorang santri adalah menjadi ujung tombak dalam urusan literasi. Selepas lulus dari pesantren, mereka akan terjun langsung di tengah era serba hoaks seperti saat ini. Setidaknya hal itu diakui oleh pemuka agama lain, Pendeta Martin Lukito Sinaga. Ia mengatakan bahwa santri merupakan kalangan terpelajar yang harus menelaah berbagai kitab agama dan menularkan kepada masyarakat luas. 

“Pesantren ini saya kira unik ya, karena mereka mendalami ajaran Islam mendalam. Pesantren bisa mengembangkan pendalaman literasi. Ketika santri berinteraki dengan masyarakat dan ingin untuk menggunakan ilmunya, dia bisa menyebarkan semangat literasi. Apalagi paham santri ini kan moderat atau bisa mengkontekstualisasikan antara keIslaman dengan kebangsaan,” papar Martin. 

“Hoaks itu marak karena kedangkalan membaca. Nah santri yang rajin menelaah kitab-kitab itu bisa menjadi penangkalnya.” 

Salah satu contoh figur yang dianggapnya layak dicontoh adalah Ulil Abshar Abdalla Menurut pria yang juga bekerja di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini, Ulil adalah gambaran bagaimana pesantren berhasil memadukan ilmu keIslaman konteks komdernan. 

“Walau dia kontroversi karena liberal, tapi dia tetap santrikan. Kedalaman membacanya saya rasa gak diragukan lagi santri yang satu ini ya. Kebebasan berpikirnya bisa dikaitkan dengan keIslaman dan demokrasi juga,” tambahnya.

Baca juga: 9 Santri Tersukses Sejak 30 Tahun Terakhir di dalam dan Luar Negeri dalam Berbagai Bidang

4. Perlu mencontoh Gus Dur, hingga Din Syamsuddin
Tokoh pesantren yang mampu meramu Islam dan Nasionalisme

Satu lagi tuntutan yang harus dipenuhi oleh para santri adalah nasionalisme. Maklum, tak banyak sosok yang bisa menggabungkan keluhuran seorang santri dengan jiwa nasionalis. Abdurrahman Wahid, Azyumardi Azra, dan Din Syamsuddin adalah segelintir lulusan pesantren yang mampu menggabungkan dua unsur tersebut.

Tokoh-tokoh tersebut juga dianggap mampu menjadi sosok yang sadar bahwa mereka adalah warga dunia yang siap menyongsong era apapun. Ahmad Zayadi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama memaparkan, “Saya kira santri harus memiliki kesadaran juga sebagai warga dunia. Dalam kaitan itu, harus memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Modal utamanya adalah kemandirian, karena santri itu dibina untuk mandiri, sehingga santri ini harusnya yang paling fleksibel dalam menyongsong era apapun.”

Menurut Zayadi, santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa. Hal itu sesuai dengan resolusi jihad yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Semangat inilah yang harus disebarkan dan terus dijaga demi menjaga kesatuan bangsa. 

“Hari Santri itu terilhami ketika Kiai Hasyim Asy’ari menekankan bahwa wajib hukumnya membela NKRI. Ini menjadi sanad perjuangan santri bahwa mereka itu harus memiliki semangat patriotisme dan nasionalisme. Melalui Hari Santri kami ingin memastikan bahwa semangat itu bisa terus berkembang,” beber dia. 

Baca juga: Contoh Pidato Santri Millennial Tentang Revolusi Industri 4.0

5. Kementerian Agama siapkan santri dalam menyambut Revolusi Industri 4.0
Santri harus siap menghadapi revolusi industri 4.0

Meski menghadapi segudang tuntutan, para santri tak sendirian. Pemerintah mengaku sudah menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kompetensi mereka terutama dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Kementerian Agama misalnya, telah menyediakan beasiswa santri berprestasi sejak 2005. Melalui kesempatan tersebut, santri yang memiliki minat di bidang pengembangan teknologi akan mendapat pembiayaan dari negara untuk melanjutkan studinya. 

“Dari sekian banyak program studi yang kami tawarkan, program studi yang terkait dengan penguatan teknologi informasi adalah yang kami siapkan. Ini juga berdampak terhadap mulai tumbuhnya literasi santri, karena mereka tertarik mendapat kesempatan beasiswa supaya ahli di bidang teknologi dan informasi tertentu,” terang Zayadi. 

Belum cukup sampai di situ, dengan aplikasi iSantri yang berbasis di Android, Kementerian Agama berharap santri lebih melek teknologi. Ke depannya, tidak menutup kemungkinan santri mengaji dari kitab kuning yang telah didigitalisasi pada aplikasi tersebut. “Itu ada perpustakaan digitalnya, kami punya 70 ribu kitab lebih. Sekarang sudah 8500 yang metadigital dan itu sudah kita posting dengan izin resmi. Jadi santri harus bisa mengkondisikan diri dengan tren ini.”

Baca juga: Kondisi Pesantren Bertembok Bambu, di Pinggiran Kota Jakarta

6. Ada jutaan santri yang menanti peningkatan kompetensi
Santri ingin menjadi yang terbaik

Namun, tugas pemerintah dipastikan tak mudah. Sebab, ada jutaan santri dengan berbagai latar belakang di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Direktorat Pondok Pesantren Kementerian Agama, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 25.938 unit dengan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah pesantren terbesar.  “Secara kelembagaan potensi pesantren sangat besar. Jumlahnya mencapai 28 ribu ya, itu belum termasuk satuan pendidikan yang ada di pesantren,” kata Zayadi.

Adapun jumlah santri di Indonesia mencapai 3.962.700 orang dengan pembagian 2.671.417 santri adalah mereka yang bermukim dan 1.291.283 santri adalah mereka yang tidak bermukim.

Baca juga: Pribumisasi Islam (Syarah Islam Nusantara)

7. Santri adalah budaya asli Nusantara yang harus dijaga
Pendidikan pesantren adalah warisan Ulama Nusantara

Terakhir, menurut Martin, Hari Santri Nasional adalah momen yang tepat untuk melestarikan budaya asli Nusantara. Ia meyakini istilah santri dan kiai hanya dimiliki oleh Indonesia. “Di dunia Islam gak dikenal santri dan kiai. Itu hanya dikenal di Indonesia. Akar katanya dari tradisi hindu ya,” sambungnya. 

Karena nilai kebangsaan yang begitu melekat dengan santri, Martin tidak sepakat bila pesantren disebut sebagai tempat yang mengajarkan paham-paham radikal. “Justru semakin mendalam bacaannya, mereka semakin terbuka. Saya pernah studi ke pesantren dan memang di sana belajarnya mengaitkan antara Islam dengan Indonesia. Karenanya, sebagai orang Kristan saya antusias juga jadinya,” tutup Martin. Wallahu a’lam. (*)

Penulis: Mou